Lewati ke konten

MBG di Kota Mojokerto: Dari Spanduk ke Piring, Anak-anak Harus Kenyang

| 3 menit baca |Sorotan | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Marga Bagus

Kota MOJOKERTO – Kalau selama ini kita cuma lihat tulisan “MBG” di spanduk sekolah, DPRD Kota Mojokerto bilang, stop deh cuma lihat spanduk. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus benar-benar dirasakan anak-anak, bukan sekadar pajangan cantik di tembok sekolah yang cuma bikin foto Instagram.

Rizal Amrulloh, anggota DPRD yang sepertinya lagi hobi inspeksi dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), menekankan bahwa eksekutif harus proaktif. Maksudnya, jangan cuma duduk manis, ngecek laporan, terus bilang “aman kok.” Tapi harus pastikan bahan baku aman, piring bersih, dan anak-anak benar-benar kenyang—bukan cuma kenyang foto untuk media sosial.

DPRD sempat meninjau dapur di Kecamatan Kranggan. “Piringnya cantik, tapi kalau rasanya kayak karton kan nggak guna,” ujar salah satu anggota sambil nyoret catatan di clipboard. Bayangkan anak-anak menatap piring teman yang tampak lezat tapi rasanya mengecewakan. Ada yang sampai bergumam dalam hati, “Kalau gini, mending brosur sekolah aja dimakan, sekalian belajar sabar.”

Anggota DPRD lainnya menambahkan, “Kalau ini diterusin, kita bisa bikin hashtag baru: #MBGNyataBukanHanyaSpanduk. Anak-anak harus kenyang, bukan cuma selfie sama nasi bergizi di Instagram.”

 #Proaktif Itu Gak Cuma Omongan

Menurut DPRD, MBG bukan sekadar slogan atau angka di laporan Excel. Program ini harus terlihat nyata: anak-anak kenyang, dapur bersih, dan makanan bergizi sampai ke piring. Jika perlu, DPRD siap jadi food critic dadakan, lengkap dengan clipboard dan pena, siap mencatat mana lauk yang layak dan mana yang harus dirombak.

Rizal menambahkan, “Kita mau angka nggak cuma 57 persen siswa yang terlayani, tapi semua anak dapat gizi yang layak. Sisanya jangan cuma menunggu sambil lihat teman makan.” Nada seriusnya diselingi humor tipis, karena kalau terlalu serius, perut sendiri bisa lapar gara-gara nggak makan siang.

Salah satu anggota DPRD bahkan berimajinasi absurd: “Bayangkan kalau kita bikin reality show: ‘MBG: The True Taste Test’. Anak-anak jadi juri, DPRD jadi kritikus, Pemkot jadi chef dadakan. Yang gagal harus cuci piring!”

DPRD ingin memastikan MBG bukan sekadar pajangan di spanduk, tapi benar-benar program yang memberi manfaat. Bayangkan kalau anak-anak menunggu jam makan, melihat teman mereka makan lengkap dengan lauk, sayur, dan buah, sementara piring mereka masih kosong. Bisa muncul drama kecil di kelas: “Si A melirik lauk teman, Si B rebutan sayur, Si C pura-pura sibuk main pensil.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#57 Persen Siswa Terlayani

Program MBG di Kota Mojokerto memang lagi ramai dibicarakan. Wali Kota, Ika Puspitasari, sendiri turun tangan meninjau program ini, memastikan makanan sampai ke anak-anak dengan benar. Dari laporannya, 57 persen siswa sudah terlayani. Sisanya masih menunggu giliran sambil lihat teman-temannya makan.

Drama kelas pun tak terhindarkan. Ada yang sudah lapar berat, tapi harus melihat teman makan dengan nikmat. Ada yang bilang, “Kalau ini nasi pake saus karton, aku mogok makan besok!” Ada juga yang pura-pura sibuk main pensil supaya guru nggak sadar mereka lapar.

Wali Kota menegaskan, tujuan utama MBG bukan sekadar angka di laporan Excel atau pajangan cantik di spanduk sekolah, tapi anak-anak kenyang, sehat, dan senang. DPRD Mojokerto pun siap turun tangan untuk memastikan program ini berjalan nyata.

Rizal menambahkan, “Kalau ini berhasil, tahun depan angka siswa yang terlayani bisa naik jadi 100 persen. Tapi kalau nggak? DPRD siap turun lagi, catatan baru, clipboard di tangan, dan mungkin bikin reality show versi Mojokerto: anak-anak jadi juri, Pemkot jadi chef, DPRD jadi kritikus. Seru kan?”

Intinya, MBG di Mojokerto harus lebih dari sekadar slogan. Anak-anak harus benar-benar merasakannya: nasi hangat, lauk bergizi, sayur lengkap, dan buah yang layak dimakan. Kalau semua ini berjalan lancar, DPRD bisa tersenyum lega, anak-anak pun senyum puas, dan spanduk MBG nggak cuma pajangan kosong, tapi program nyata yang membuat perut kenyang dan hati senang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *