BOJONEGORO – Di Kedungadem, Bojonegoro, ratusan anak sekolah mendadak jadi pasien dadakan, mual, muntah, diare, sampai harus antre masuk puskesmas. Bukan karena habis nobar horor The Nun 3, tapi gara-gara dugaan keracunan massal dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Data lapangan bikin jidat berkerut. Di SMA Negeri 1 Kedungadem saja, ada 544 siswa yang sakit bareng. Bayangin, itu jumlahnya udah kayak satu stadion mini penuh suporter, tapi bedanya bukan nyanyi yel-yel, melainkan rebutan toilet. Di SDN Tumbrasanom, tujuh bocah harus dapat perawatan. Sedangkan di MTs Plus Nabawi, 12 siswa juga tumbang.
Program yang mestinya bikin anak-anak tambah sehat, malah bikin antrean panjang di ruang perawatan. Ironis, kan?
#Sosok Kepala Desa yang Bersuara
Yang menarik dari musibah ini adalah munculnya suara lantang dari Kepala Desa Tumbrasanom, Juminto. Ia tampil tegas, memperingatkan semua pihak yang terlibat, ini bukan sekadar salah masak atau salah bumbu, tapi soal nyawa anak-anak. “Jangan disepelekan,” katanya.
Dan bener juga—masa iya ratusan anak sakit bareng dianggap masalah kecil? Apalagi MBG ini digadang-gadang jadi program unggulan untuk menambah gizi siswa. Kalau ending-nya malah bikin murid masuk IGD, berarti ada yang salah besar dalam rantai pelaksanaannya.
#Dukungan Penuh untuk Guru
Juminto juga secara terbuka menyatakan siap mendukung para guru yang memilih menolak atau mengembalikan paket MBG, terutama jika makanan itu terlihat berisiko. Guru seringkali serba salah.
“Guru itu serba salah. Nerima makanan berisiko, anak bisa sakit. Nolak makanan, bisa dicap nggak dukung program, “ ucapnya. “Masa keselamatan siswa harus ditukar dengan takut dimarahi atasan? Itu logika yang kebalik, “ imbuh Juminto.
Sikap Juminto seolah kasih “tiket aman” untuk guru. “Kalau memang mencurigakan, balikin aja. Jangan dipaksakan,” begitu kurang lebih pesannya juga.
Ia bahkan menyinggung pengusaha Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Jangan cuma mikirin untung. Keselamatan anak-anak sekolah harus jadi prioritas utama,” tegasnya. Kritik ini pas banget, karena sering kali ketika ada tender atau proyek, yang dipikirkan pertama adalah laba, bukan kualitas. Padahal yang dipertaruhkan kali ini adalah kesehatan anak-anak.
#Evaluasi Bukan Obat Ajaib
Pemkab Bojonegoro memang sudah mengambil langkah: menghentikan sementara program MBG untuk dilakukan evaluasi. Dapur di Sidorejo dan Ndrokilo ditutup rapat. Tapi bagi Juminto, itu belum cukup.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Menurut logic Juminto, evaluasi itu seperti istirahat sejenak. Tapi kalau nggak ada jaminan nyata tentang keamanan makanan ke depan, orang tua tetap akan was-was. Bayangin aja kalau setelah dibuka kembali, ternyata sistem pengawasan masih longgar. Itu sama saja dengan kasih makan gratis, tapi menunya Russian Roulette. Siapa yang mau coba-coba taruhan nyawa anaknya?
#Anti-Lalai, Bukan Anti-Program
Hal yang juga penting digarisbawahi, Juminto nggak pernah bilang menolak MBG. Malah, ia mengakui program ini baik untuk kebutuhan gizi anak-anak. Hanya saja, pelaksanaannya harus benar-benar aman, ada pengawasan ketat, dan bisa dipertanggungjawabkan. “Saya tidak menolak. Program ini baik untuk gizi anak. Tapi harus aman, diawasi serius, dan bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Jadi jelas, ia bukan anti-program, cuma anti-lalai. Bedakan, ya.
#Antara Ide Bagus dan Eksekusi Amburadul
Masalah terbesar dari kasus ini adalah pola klasik: ide bagus di atas kertas, tapi eksekusi di lapangan berantakan. Di proposal, semua kelihatan indah: ada makan gratis, gizi seimbang, jargon “peduli anak-anak bangsa.” Tapi begitu jalan, pengawasan longgar, kualitas makanan merosot, hasilnya malah drama massal di puskesmas.
Program makan bergizi gratis ini jangan sampai cuma jadi ajang pencitraan. Jangan hanya manis di spanduk, pahit di perut anak-anak.
#Jangan Matang di Perut Anak-anak
Intinya, MBG ini jangan dijalankan setengah matang. Apalagi kalau “matangnya” justru terjadi di perut anak-anak sekolah. Nyawa mereka bukan bahan eksperimen, dan jelas bukan untuk jadi kelinci percobaan program.
Kalau memang mau serius bikin anak-anak sehat, maka pengawasan kualitas makanan harus jadi prioritas nomor satu. Karena sejujurnya, nggak ada gizi yang bisa menandingi kesehatan yang benar-benar terjaga.***