SURABAYA – Kota Pahlawan baru saja dapat kabar membanggakan. Bukan karena Persebaya naik ke papan atas klasemen Liga 1, bukan juga karena warga Surabaya berhasil bikin tren TikTok baru, tapi karena angka kemiskinan yang resmi diumumkan turun.
Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya mencatat jumlah penduduk miskin per Maret 2025 tinggal 105.090 jiwa. Bandingkan dengan tahun lalu, masih ada 116.620 jiwa yang masuk kategori miskin. Artinya, dalam setahun ada sekitar 11.530 orang yang berhasil keluar dari label “miskin” versi statistik.
Kepala BPS Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, bilang ini adalah angka terendah selama sepuluh tahun terakhir. “Pada 2015 jumlah penduduk miskin mencapai 165,72 ribu jiwa atau 5,82 persen. Sedangkan pada 2025 tinggal 105,09 ribu jiwa atau 3,56 persen,” jelasnya, Jumat, (3/10/2025).
Kalau bikin grafik, garisnya bakal turun manis, kayak grafik berat badan setelah diet ketat. Jadi wajar kalau kepala BPS bisa senyum lebar di depan wartawan.
#Kedalaman Kemiskinan: Dari Statistik ke Realita
Tidak hanya jumlahnya yang turun, kualitas hidup warga miskin juga katanya membaik. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 0,65 jadi 0,41, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,16 jadi 0,11.
Bahasa gampangnya, rata-rata pengeluaran warga miskin semakin dekat dengan garis kemiskinan, dan kesenjangan di antara sesama warga miskin juga makin tipis. Jadi, kalau dulu ada yang miskinnya “parah banget” dan ada yang miskinnya “sedikit lebih mending”, sekarang jaraknya makin rapat. Sama-sama susah, tapi tidak terlalu jomplang.
Pertanyaan kritisnya: apa angka itu juga terasa nyata di perut? Misalnya, apakah sekarang orang miskin bisa beli lauk tempe plus telur, bukan cuma nasi kucing isi sambal doang? Atau apakah sekarang lebih banyak yang bisa bayar SPP anaknya tanpa harus utang ke tetangga?
Angka bisa berbicara banyak, tapi rasa lapar tetap punya suara yang lebih jujur.
#Antara Statistik dan Kenyataan Dapur
Statistik memang keren buat bahan presentasi pejabat. Bisa ditaruh di PowerPoint, dikasih efek animasi, lalu dipamerin di forum nasional. Tapi kenyataan di lapangan kadang nggak seindah grafik.
Warga Surabaya yang masih berjuang dengan harga kos-kosan, biaya listrik, atau harga beras yang naik turun kayak mood, mungkin akan bilang: “Turun sih turunnya angka, tapi kok dompet masih tetap tipis?”
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBisa jadi penurunan ini hasil dari berbagai faktor:
- Program bantuan sosial yang mulai lumayan tepat sasaran.
- UMKM makin kreatif jualan lewat TikTok Live atau marketplace.
- Atau bisa juga karena sebagian warga miskin pindah alamat ke Sidoarjo atau Gresik, jadi otomatis hilang dari hitungan BPS Surabaya.
Semua kemungkinan bisa terjadi. Yang jelas, angka 105 ribu orang miskin itu masih nyata, bukan sekadar angka di laporan.
#PR Surabaya: Bukan Cuma Turunkan Angka, Tapi Juga Turunkan Beban
Mari kita kasih tepuk tangan dulu buat Surabaya yang berhasil catat rekor kemiskinan terendah sepuluh tahun terakhir. Itu prestasi yang pantas diapresiasi.
Tapi, pekerjaan rumahnya jelas masih panjang. Karena kemiskinan bukan cuma soal angka. Ia soal akses, akses pendidikan, akses kesehatan, sampai akses buat bisa beli tiket konser Coldplay.
Kalau hanya fokus bikin angka turun, tapi nggak bikin warga benar-benar lebih sejahtera, itu sama saja kayak ngecat rumah luar doang, padahal di dalamnya masih bocor. Indeks boleh turun, laporan boleh manis, tapi warga tetap butuh harga beras yang stabil, lapangan kerja yang layak, dan pendidikan anak yang terjangkau.
#Dari Grafik ke Dapur
Surabaya boleh bangga dengan catatan BPS. Dari 165 ribu jiwa miskin di 2015, kini tinggal 105 ribu. Tapi pertanyaannya, apakah warga miskin ikut merasa lebih lega?
Karena pada akhirnya, kemiskinan tidak bisa hanya dihitung lewat persentase. Ia diukur dari isi dapur, dari kemampuan bayar sekolah anak, dari apakah orang tua bisa berobat tanpa takut bon di warung bertambah.
Jadi ya, selamat buat Surabaya. Tapi ingat, jangan berhenti di angka. Karena orang lapar nggak pernah bisa kenyang hanya dengan statistik.***