Bayangkan dunia akademik Indonesia seperti pasar swalayan, mau artikel ilmiah? Tinggal bayar. Mau jurnal internasional? Cukup gesek kartu. Mau buku akademik terbaru? Klik, transfer, artikel sampai. Praktik jual beli artikel, jurnal, dan buku akademik sudah sedemikian lazimnya, sampai orang yang berjuang dengan ide, data, dan kopi panas di laboratorium jadi tersisih.
Kalau penelitian bisa dibeli, buat apa repot-repot capek-capek riset lapangan? Ide yang harusnya lahir dari kepala dan hati, kini bisa dibeli lebih cepat daripada promo diskon online shop. Publikasi jadi komoditas, bukan pencapaian ilmiah. Dan yang paling tragis, peneliti independen seperti saya, yang masih percaya idealisme, sering cuma jadi penonton di arena ini.
#Pengalaman Pribadi: Jadi Peneliti Independen di Tengah Dunia yang Serba Instan
Saya penulis sekaligus peneliti independen. Tanpa dana, tanpa fasilitas besar, bahkan kadang tanpa wifi yang stabil. Semua kerja keras saya—lapangan, analisis, teori—hanya dibalas dengan tatapan dingin birokrasi. Saya pernah kirim dokumen ke Kepala BRIN supaya karya saya diverifikasi. Hasilnya? Diam seribu bahasa.
Sementara itu, di luar sana, publikasi instan yang “dibeli” tetap melenggang dapat penghargaan resmi. Parahnya, ini bukan isu lokal. Fanelli (2010) sudah bilang, tekanan kuantitas publikasi bikin sistem mengabaikan peneliti independen. Kualitas kalah sama kuantitas. Matthew Effect ala David (1993) juga bilang, yang banyak publikasinya tetap dihargai, meski isinya setipis kertas tisu.
#Studi Kasus Internasional: Indonesia Bukan Satu-Satunya, Tapi Tetap Malu-Maluin
Fenomena jual beli artikel ilmiah bukan cuma dosa lokal. Dunia akademik global lagi demam instan, riset bisa dibeli, gelar bisa dikirim lewat email.
Di Nigeria, misalnya, kampus-kampus krisis kepercayaan. Banyak peneliti muda memilih jalur cepat karena sistem lebih menghargai jumlah publikasi ketimbang isi. Beberapa mahasiswa doktoral bahkan ketahuan beli artikel dari pihak ketiga. Hasilnya, gelar dapat, integritas hilang.
Di Eropa Barat, tempat yang konon jadi panutan ilmiah dunia, permainan tak kalah heboh. Beberapa jurnal di Inggris dan Belanda menarik puluhan artikel palsu. Penulisnya pakai jasa ghostwriter profesional—pesan topik, bayar, tunggu naskah datang. Bedanya, kalau kopi latte bisa “tanpa gula”, artikel ini bisa “tanpa metodologi”.
Amerika Serikat juga punya penyakit serupa, hanya namanya lebih keren, academic misconduct. Dokter dan peneliti medis memakai jasa penulis bayangan demi memenuhi target publikasi. Begitu ketahuan, reputasi hancur, sertifikasi pun dicabut. Dari prestise ke prestise palsu, jaraknya cuma satu invoice.
Tiongkok lebih terang-terangan, mereka menyebutnya paper mill—pabrik kertas akademik. Ribuan artikel dijual setiap tahun untuk mempercepat kenaikan jabatan. Tahun 2020, ribuan publikasi asal Tiongkok ditarik karena hasil jasa penulisan instan. Yang naik bukan kualitas riset, tapi omzet.
Sementara India memolesnya jadi “academic capitalism”. Di sana, publikasi dijual seperti komoditas—artikel lengkap plus referensi, tinggal ganti nama. Peneliti jujur akhirnya jadi korban paling sunyi, kalah pamor dari yang instan dan bersponsor.
Ironisnya, pemerintah di banyak negara masih sibuk menghitung jumlah publikasi, bukan menilai isinya. Padahal, apa gunanya ribuan jurnal kalau isinya hasil sewaan?
Kalau begini terus, jangan heran kalau nanti muncul startup baru: “GoPublish — publikasi cepat, anti revisi, full indeks Scopus.”
Dan mungkin, di pojok kampus yang sepi, masih ada satu dua peneliti jujur yang bergumam:
“Dulu kita meneliti untuk mencari kebenaran. Sekarang, kebenaran malah dijual per paket.”
#Jual Beli Artikel: Ilusi Prestise yang Menyesatkan
Kalau publikasi bisa dibeli, maknanya apa? Publikasi bukan bukti kerja keras, tapi tanda formalitas. Jadi peneliti yang susah payah mengumpulkan data lapangan? Disejajarkan sama orang yang cuma bayar jasa ghostwriting.
Ini yang disebut “ilusi simbolik”—tampil prestisius tapi kosong di dalam. Plevris (2025) bilang, tekanan publikasi bisa bikin orang fabrikasi data, plagiarisme, atau jual-beli artikel. Bagi peneliti independen, ini jelas ketidakadilan. Di panggung internasional, kualitas jurnal Indonesia dipertanyakan, reputasi turun, dan marwah peneliti—well, ikut runtuh.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Dampak terhadap Generasi Peneliti Muda
Bayangkan generasi peneliti muda menonton drama ini, kerja keras nggak dihargai, tapi jalan pintas dibanggakan. Apa yang terjadi? Mereka bisa kapok, atau lebih parah, ikut-ikutan jual beli artikel.
Mulkay (1976) bilang, norma sains—komunal, universal, disinterested, skeptis—dilanggar? Ya otomatis tatanan ilmiah runtuh. Nnaji (2018) menambahkan, publikasi berkualitas rendah dalam jumlah banyak bisa rusak reputasi negara. Jadi kalau kita terus diam, generasi peneliti baru cuma belajar “jalan pintas = sukses.”
#Pemerintah, Bangun Rumah Ilmu Jangan di Atas Pasir
Negara harus turun tangan. Etzkowitz & Leydesdorff (2000) bilang, universitas, industri, dan pemerintah harus sinergi. Kalau pemerintah cuek, ekosistem penelitian timpang. Langkah konkret? Audit publikasi instan, beri insentif untuk peneliti independen, bikin wadah ublikasi nasional yang kredibel, dan apresiasi karya orisinal. Gibbons (2003) menyarankan Mode 2 Knowledge Production, penelitian bukan cuma disiplin ilmu, tapi juga problem solving untuk masyarakat.
Kalau ini nggak dilakukan, ya sama aja bangun rumah ilmu di atas fondasi pasir: roboh kapan saja.
#Refleksi Moral: Penelitian Bukan Produk Marketplace
Kalau artikel bisa dibeli, penelitian masih ada nilainya nggak? Ini bukan pertanyaan retoris. Macrina (2014) bilang, integritas riset adalah fondasi kepercayaan publik. Hilang integritas, publik nggak percaya sains. Kohn (2009) menegaskan, ilmu pengetahuan milik bersama, bukan komoditas.
Jadi peneliti independen harus tetap jujur, meski sunyi dan tak dihargai. Pemerintah harus memberi ruang, dan masyarakat harus belajar menghargai proses ilmiah. Kalau tidak? Kita cuma membangun generasi akademik yang terbiasa jalan pintas.
#Jangan Biarkan Publikasi Jadi Barang Dagangan
Jual beli artikel bukan sekadar masalah kecil. Ia meruntuhkan marwah penelitian, mengikis integritas, dan memunculkan ilusi prestise. Peneliti independen yang jujur tersisih, generasi muda belajar kebohongan, dan reputasi akademik Indonesia jatuh.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas akademik harus bertindak. Hanya dengan menghargai keaslian, bukan kemampuan membeli, penelitian bisa kembali jadi fondasi ilmu pengetahuan yang sehat.
Kalau nggak, ya… selamat datang di pasar online artikel ilmiah.***

*) Artikel mengalami perubahan pada bentuk penulisan, pelafalan atau penyebutan dari yang dikirim penulis, tetapi makna dasarnya tidak mengalami perubahan, disesuaikan platform TitikTerang.
**) Ruben Cornelius Siagian, aktif menulis opini di media nasional dan lokal. Jejaknya berserak di Google Scholar, Scopus, sampai ResearchGate—bukti kalau dia lebih suka debat pakai data daripada drama.