LAMONGAN – Di Lamongan, Jawa Timur, bagian selatan sepertinya sedang tidak mau kalah viral dari berita politik nasional, pada Selasa (7/10/2025), pukul 15.30 WIB. Cuaca yang tadinya cerah dan panas seperti niat anak muda ngejar CPNS, tiba-tiba berubah drastis, langit mendung, angin berhembus kencang, dan hujan deras pun turun tanpa aba-aba.
Dan begitulah—angin puting beliung datang seperti tamu tak diundang, tapi langsung bongkar atap rumah warga.
#Genting Beterbangan, Kayu Penyangga Ikut Piknik
Sasaran amukan angin sore itu lumayan luas. Mulai dari Desa Ngimbang dan kawasan Jalan Babat–Jombang di Kecamatan Ngimbang, hingga Desa Nogojatisari dan Sidokumpul di Kecamatan Sambeng.
Setidaknya 15 rumah di Desa Nogojatisari dan 10 rumah di Desa Sidokumpul mengalami kerusakan ringan pada bagian atap. Tapi kata “ringan” di sini agak menipu, karena kalau genting dan kayu penyangga sudah ikut terbang, itu tandanya rumah sedang diuji keteguhannya sebagai bangunan, bukan cuma tempat tinggal.
Sebagian rumah memang “cuma” kehilangan genting. Namun, ada juga yang atapnya lepas sekalian lengkap dengan kayu penyangganya. Kalau genting punya hati, mungkin dia juga tak sanggup menahan tekanan hidup seberat itu.
“Bangunan toko material tadi atapnya beterbangan,” kata Bima, warga Ngimbang, dikutip dari ngopibareng.id dengan nada kaget. Entah atapnya yang terbang duluan atau pemilik tokonya yang menjerit lebih dulu, belum jelas. Yang pasti, pemandangan sore itu lebih dramatis dari sinetron jam tujuh.
#RSUD Ngimbang Ikut Ketiban Apes
Tak cuma rumah warga, beberapa bangunan publik juga kena getahnya. Di kawasan RSUD Ngimbang, sebagian atap ikut rusak setelah tertimpa pohon tumbang. Jalan poros Babat–Jombang pun sempat macet karena pepohonan tua melintang di tengah jalan, bikin suasana mirip film “2012” versi lokal: orang-orang berlarian, petugas sibuk, dan semua berharap PLN segera datang seperti pahlawan Marvel.
Untungnya, tim gabungan dari BPBD, Damkar, Polsek, Koramil, dan warga setempat bergerak cepat. Dengan semangat gotong royong khas desa, mereka menyingkirkan pohon tumbang dan kabel listrik yang putus—semacam kolaborasi dadakan yang lebih efektif daripada rapat koordinasi di balai desa.
Sekarang arus lalu lintas sudah lancar lagi, walau beberapa desa masih gelap gulita karena listrik padam. “Banyak kabel ketimpa pohon. Ya gelap, kayak nasib kalau lupa isi token,” keluh Listiyani, warga Tanjung, Ngimbang, sambil tertawa getir di bawah cahaya lilin.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Cuaca Panas, Tapi Puting Beliung Datang Mendadak
Yang bikin warga geleng-geleng, angin kencang itu datang mendadak. Sebelumnya panasnya masih mantap—sampai-sampai ibu-ibu sempat menjemur pakaian dan bapak-bapak sempat nongkrong depan rumah. Tak lama kemudian, semua berhamburan. Bukan karena gosip tetangga, tapi karena genting mulai beterbangan.
Plt Kalaksa BPBD Lamongan, M. Naim, mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan. “Kami belum bisa memastikan berapa jumlah rumah yang rusak dan total kerugian,” ujarnya.
Dalam bahasa warga, artinya: “Belum tahu, tapi banyak.”
Syukurlah, tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Tapi trauma warga jelas tak kecil. Karena setelah kejadian, setiap suara angin di malam hari langsung bikin waswas: ini cuma angin lewat, atau sequel-nya mau dimulai lagi?
#Alam Murka, Warga Gotong Royong
Meski begitu, Lamongan menunjukkan satu hal penting: solidaritas. Begitu bencana datang, warga tak menunggu aba-aba atau surat resmi dari pemerintah. Apalagi kalau puting beliung — kecepatannya menerbangkan genting jelas lebih unggul dari kecepatan datangnya bantuan pemerintah.
Tanpa banyak teori, warga langsung turun tangan: memotong pohon tumbang, menyingkirkan kabel listrik, dan menyalakan senter seadanya. Dalam gelap dan lelah, tawa kecil tetap terdengar. Karena begitulah orang kampung — di tengah genting beterbangan pun, mereka masih sempat bercanda soal nasib.
Sore itu, Lamongan seolah belajar satu hal: ketika hidup sedang adem-adem saja, jangan terlalu yakin. Kadang, angin bisa datang dari mana saja — membawa pesan sederhana bahwa kita ini cuma penumpang sementara di rumah bernama bumi.***