Lewati ke konten

Gus Menteri dan Sekolah Rakyat di Jombang: 24 Jam Pendidikan, 0 Jam Kehematan Anggaran?

| 4 menit baca |Sorotan | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Denny Saputra Editor: Supriyadi

JOMBANG — Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Menteri, baru-baru ini menengok Sekolah Rakyat Terintegrasi Delapan di SKB Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Sabtu (11/10/2025). Sekolah ini, menurut Gus Menteri, adalah tempat di mana karakter anak dibentuk, bakat digali, dan—tentu saja—digitalisasi menanti di tiap meja siswa.

Di hadapan media, Gus Menteri terlihat sumringah. Bukan karena laptop baru, bukan pula karena jumlah siswa bertambah, tapi karena anak-anak mulai menunjukkan perubahan positif.

“Saya senang bahwa sejak beroperasi, Sekolah Rakyat Terintegrasi Delapan Jombang ini telah melakukan proses yang baik dan terukur,” kata Gus Ipul. “Anak-anak mulai menunjukkan perubahan yang positif.”

Pertanyaannya, perubahan positif ini terukur dari apa? Nilai ujian, kebiasaan mencuci baju sendiri, atau sekadar kemampuan bangun sebelum jam delapan pagi? Publik boleh bertanya, apakah sekadar senyum di depan kamera sudah masuk kategori “kemajuan terukur”?

#165 Titik Sekolah Rakyat: Kelahiran Kilat

Program Sekolah Rakyat dimulai pada 14 Juli 2025 dengan 63 titik. Dalam tempo dua bulan, jumlahnya melonjak menjadi 165 titik. Mantap. Ini seperti pertumbuhan startup teknologi: dari nol ke seratus dalam tiga bulan. Hanya saja, alih-alih aplikasi, yang bertumbuh adalah sekolah, dan alih-alih modal ventura, yang digelontorkan adalah APBN.

Di Jombang, fasilitas permanen masih menjadi janji manis. Gedung SKB Mojoagung dijadikan gedung sementara yang katanya bisa menampung siswa SD hingga SMA. Pemerintah menargetkan pembangunan gedung permanen di lahan bekas terminal barang Desa Tunggorono, yang diharapkan bisa dimulai tahun ini dan selesai tahun depan. Semoga saja gedungnya nanti tidak seperti janji gedung anti-macet di pusat kota, yang sampai sekarang masih berupa lahan kosong.

#Pendidikan 24 Jam: Dari Pagi Sampai Malam, dari Kurikulum Sampai Spiritualitas

Sekolah Rakyat berbasis asrama dan berjalan 24 jam. Bayangkan saja: dari pagi sampai malam, anak-anak disibukkan dengan belajar formal di pagi hari, pengembangan karakter di sore hari, dan pendidikan agama di malam hari. Semua harus disiplin, karena setiap siswa melewati seleksi ketat dan dipantau profilnya sampai ke latar belakang keluarga serta kondisi sosial-ekonomi.

Gus Menteri menegaskan, guru dan kepala sekolah juga tidak sembarangan. Seleksi ketat plus pendampingan dari awal menjadi standar. “Kalau ada anak nakal atau guru kurang kompeten, minimal catatan digital sudah siap menjerat,” katanya. Transparansi memang tinggi, tapi publik tentu penasaran: apakah seleksi ketat ini diikuti dengan pelatihan guru yang memadai, atau sekadar tanda tangan di dokumen?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Masa Depan Lulusan: Kuliah, Kerja, atau… Lupa Pulang?

Menjawab pertanyaan mengenai masa depan anak-anak, Gus Menteri bilang pemerintah sudah menggandeng pihak ketiga, termasuk Ary Ginanjar dari ESQ. Anak-anak akan diarahkan sesuai bakat dan cita-cita: yang mau kuliah dikawal sampai perguruan tinggi, bahkan luar negeri, sementara yang ingin bekerja dibimbing sesuai minat.

“Setiap siswa diseleksi ketat juga dipantau profilnya secara menyeluruh mulai dari latar belakang keluarga hingga kondisi sosial-ekonominya. Hal ini dilakukan untuk memastikan pendampingan yang tepat selama proses pendidikan,” tegas Gus Menteri.

Keren sih, tapi jangan-jangan anak-anak yang ingin santai dulu harus rela ditempatkan di unit pembelajaran 24 jam tanpa jeda. Apalagi, setiap siswa bakal mendapat satu laptop. Digitalisasi memang terdengar mewah, tapi publik boleh bertanya: apakah ada anggaran untuk listrik, internet, dan pemeliharaan? Atau laptop-laptop itu hanya jadi pajangan mewah di asrama?

#Orang Tua: Doa dan Restu, Jangan Cuma Pulsa

Gus Menteri juga menekankan pentingnya peran orang tua. Arahan presiden katanya, cukup doa dan restu. Kalau kangen, silakan menjenguk anak di asrama. Tidak ada instruksi khusus soal keterlibatan orang tua dalam pendidikan harian, yang jelas emosional harus stabil. Bayangkan, 1.000 siswa di gedung permanen (kalau jadi dibangun), semua orang tua cukup doa dan restu. Efektif atau terlalu santai?

Meski ada beberapa siswa yang memutuskan tidak melanjutkan karena alasan pribadi, antrean siswa baru siap menggantikan. Jadi, dari sisi kuantitas, tidak ada masalah. Kualitas? Kita tunggu pengumuman anak-anak berhasil masuk universitas luar negeri atau bukan.

Sekolah Rakyat Terintegrasi Delapan memang terdengar seperti laboratorium pendidikan masa depan, seleksi ketat, pembelajaran 24 jam, laptop untuk semua, dan perhatian penuh dari Gus Menteri. Namun, di balik gemerlap digitalisasi dan janji pembangunan gedung permanen, publik boleh bertanya, “Apakah sekolah ini benar-benar membentuk karakter dan masa depan anak, atau sekadar proyek pencitraan 24 jam plus anggaran yang perlu pengawasan ekstra?” ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *