Lewati ke konten

Ketika Gus Ipul Menegur, Sound System Ikut Disalahkan: Sebuah Drama Kecil Sekolah Rakyat di Gedeg Mojokerto

| 4 menit baca |Sorotan | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

MOJOKERTO — Namanya juga acara resmi, selalu ada kemungkinan muncul drama kecil yang tak direncanakan. Ada yang datang telat, ada yang salah kostum, ada juga yang… kena tegur langsung oleh Menteri.

Itulah yang terjadi di Gedeg, Mojokerto, Sabtu (11/10/2025). Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf—atau yang lebih akrab disapa Gus Ipul—melayangkan teguran keras kepada sejumlah pendamping sosial yang kedapatan mengobrol saat ia sedang memberikan sosialisasi program Sekolah Rakyat.

Padahal, momen itu sedang serius-seriusnya. Gus Ipul sedang bicara soal pentingnya peran pendamping sosial dalam pelaksanaan program yang digadang bakal jadi jalan keluar bagi anak-anak dari keluarga rentan. Tapi rupanya, beberapa orang di barisan depan punya topik obrolan sendiri—entah soal data, entah soal makan siang.

#“Teman-teman, Saya Minta Kesungguhannya!”

Mendapati hal itu, Gus Ipul yang dikenal kalem langsung mengubah nada suaranya. Ia menatap ke arah peserta yang sibuk sendiri, mengangkat jari telunjuknya, dan dengan suara tegas berkata:

“Teman-teman, saya minta kesungguhannya. Tidak hanya mengerti dan memahami, tapi bisa menghayati apa yang menjadi tugas daripada pendamping!”

Seketika ruangan yang tadinya ramai langsung hening. Beberapa peserta tampak salah tingkah, sebagian menunduk, sebagian lain pura-pura menulis catatan. Ya, siapa pun pasti tahu, kalau seorang menteri sudah bilang “teman-teman”, itu bukan sapaan—itu peringatan.

Dalam lanjutannya, Gus Ipul menegaskan bahwa pekerjaan pendamping sosial tidak bisa dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.

“Kerjanya perlu empati, perlu dengan hati. Tidak cukup hanya pintar, tapi harus melayani dengan hati, membayangkan posisi kita seperti adik-adik yang kita dampingi,” katanya, dengan nada yang sudah kembali teduh tapi tetap tajam.

#Peran Pendamping, Bukan Sekadar Formalitas

Teguran itu memang tidak muncul tanpa alasan. Dalam program Sekolah Rakyat, pendamping sosial punya peran krusial: mulai dari melakukan asesmen lapangan, mengumpulkan data, hingga memastikan calon siswa benar-benar berasal dari keluarga yang membutuhkan.

“Peran pendamping sangat erat. Proses seleksi diawali dari mereka, berdasarkan data tunggal yang mereka himpun,” jelas Gus Ipul saat diwawancarai seusai acara.

Artinya, kesalahan di tahap awal bisa berakibat panjang. Kalau data tidak akurat, bantuan bisa meleset sasaran. Kalau empati tidak hadir, kerja bisa kehilangan makna. Pendamping sosial bukan sekadar perantara birokrasi, tapi wajah pertama negara di hadapan rakyat kecil.

Maka wajar saja jika Gus Ipul tegas. Ia tak ingin program yang punya niat baik justru terhambat oleh sikap setengah hati.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Sound System yang Jadi Tumbal

Tapi—seperti banyak peristiwa di Indonesia—selalu ada “tapi”-nya. Beberapa menit setelah teguran itu, barulah terungkap penyebab mengobrolnya sebagian peserta: sound system-nya ngadat.

Suara Gus Ipul dari panggung tak terdengar jelas sampai ke barisan depan. Akibatnya, sebagian pendamping sosial yang duduk di area itu tidak tahu sedang dibahas apa. Daripada bengong, mereka memilih mengobrol sendiri. Sebuah keputusan yang, sayangnya, berujung petaka kecil.

“Kalau tadi ada yang bicara sendiri itu karena sound system-nya kurang keras,” kata Gus Ipul, yang akhirnya memaklumi situasi tersebut.

Pernyataan itu kemudian dibenarkan oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto, Tri Raharjo Murdianto.

“Mungkin karena sound system yang di depan tidak nyambung. Setelah kita geser, sudah mulai tenang. Mungkin yang di depan tidak dengar apa yang disampaikan Pak Menteri dari dalam,” ujarnya.

Sederhana memang, tapi begitulah realitas lapangan. Kadang yang bikin suasana panas bukan karena sikap peserta, tapi karena kabel mic yang longgar. Teknologi, rupanya, juga punya andil dalam menciptakan salah paham.

#Antara Teguran dan Pelajaran

Akhirnya, acara berjalan kembali lancar. Gus Ipul melanjutkan sosialisasi dengan nada yang lebih bersahabat, sementara para pendamping tampak makin fokus. Tak ada lagi yang mengobrol. Sound system pun sudah kembali berfungsi dengan baik—semoga kali ini kabelnya benar-benar nyambung.

Kejadian di Gedeg ini mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya cukup simbolis. Ia mengingatkan bahwa komunikasi, sekecil apa pun gangguannya, bisa berujung salah paham. Dalam konteks program sosial, hal itu bisa berarti banyak—karena di balik setiap data dan formulir, ada manusia yang butuh didengar.

Dan tentu saja, ada pesan tersirat yang lebih luas: di negara yang kadang terasa bising ini, yang paling penting bukan sekadar siapa yang bicara paling keras, tapi siapa yang benar-benar mendengar.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *