JOMBANG – Di tengah gegap gempita jargon “Pahlawan tanpa tanda jasa”, ada sosok Yuliana Emawati—seorang guru Taman Kanak-Kanak di Desa Johowinong, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang—yang barangkali lebih layak disebut “pahlawan tanpa atap layak huni”.
Setiap kali hujan turun, bukan kenangan yang datang, melainkan tetesan air yang menembus atap rumahnya. Suara “tik… tik… tik…” di malam hari bukanlah puisi nostalgia seperti lagu anak-anak, tapi alarm darurat agar ia segera memindahkan kasur dari rembesan air.
Yuliana tinggal bersama anak perempuannya di rumah sederhana—kalau tidak mau disebut memprihatinkan—yang berdiri di atas tanah desa. Sebagian besar dinding rumah terbuat dari gedek (anyaman bambu) yang sudah mulai keropos.
Lubang-lubang di sela bambu ditutup dengan banner bekas, bekas kampanye, bekas promosi minuman energi, bahkan ada satu pojok rumah yang ditutup banner ucapan “Selamat Hari Jadi Mojoagung ke-763”. Ironi sekali—di bawah ucapan “Selamat” itu, seorang guru justru hidup dalam ketidaklayakan.
#Hidup dari Gaji Rp350 Ribu, dengan Bonus Keteguhan
Gaji Yuliana sebagai guru TK hanya Rp350 ribu per bulan. Uang itu harus cukup untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, hingga memperbaiki rumah yang reot. Kalau ada bocor di atap, dia tak bisa langsung beli genting baru. Biasanya, Yuliana hanya menambalnya dengan plastik bekas atau banner yang sama seperti di dinding.
“Kalau hujan deras, saya sama anak cuma bisa pindah-pindah tempat biar gak kehujanan,” katanya lirih.
Yuliana mengajar dengan sepenuh hati. Setiap pagi, ia berangkat ke TK di dekat rumah dengan pakaian sederhana. Ia menyambut murid-murid kecilnya dengan senyum, walau semalam mungkin tak tidur karena air hujan menetes di dalam kamar.
Namun di balik keteguhannya, tersimpan kelelahan yang tak semestinya dipikul sendirian. Ia tak menuntut banyak. Hanya berharap rumahnya bisa lebih layak, agar tak selalu waswas setiap kali langit mendung.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Antara Kepedulian dan Formalitas Bantuan
Warga Johowinong sebenarnya sudah lama mengetahui kondisi rumah Yuliana. Mereka bergotong royong semampunya, tapi jelas kemampuan warga desa juga terbatas. Harapan kini tertuju pada Pemerintah Desa Johowinong dan Pemkab Jombang, agar tangan-tangan birokrasi mau menjangkau sudut-sudut paling sunyi di Mojoagung.
Dalam banyak rapat, pejabat sering bicara soal “pemberdayaan masyarakat” atau “pengentasan kemiskinan”. Tapi kisah Yuliana justru menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekadar data statistik. Ia punya wajah, punya anak, dan punya rumah yang dindingnya terbuat dari banner.
Saat kisah ini diunggah oleh Jombang Informasi, kolom komentar seketika ramai. Warganet bereaksi keras—bukan hanya karena iba, tapi juga marah. Seorang netizen menulis, “Gimana perangkat desa gak ada tindakannya? Ini udah ada program bedah rumah, tapi kok bisa nggak masuk?” Ada juga yang menyindir, “RT, RW, Kasun, Lurah-né nang endi? Rakyat njur kudu viralkan dulu baru dibantu?”
Komentar-komentar semacam itu mencerminkan rasa jengkel yang makin menumpuk: kenapa hal-hal kecil yang semestinya bisa diselesaikan di tingkat desa, justru harus menunggu jadi viral lebih dulu?
Di dunia yang sibuk mengejar tayangan dan laporan kegiatan, perhatian kadang baru muncul setelah kamera menyorot. Sementara Yuliana, di tengah banner-banner bekas yang menutup dinding rumahnya, masih mengajar anak-anak dengan senyum yang sama setiap pagi. Mungkin karena ia tahu, satu-satunya yang tak boleh bocor dalam hidupnya adalah semangat.***