SEPEKAN pasca insiden kebakaran di kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), bara amarah rupanya belum padam. Puluhan warga dari tiga desa di Kecamatan Jenu, Tasikharjo, Remen, dan Purworejo, datang ke Balai Desa Tasikharjo, Senin (20/10/2025), bukan untuk menonton api lagi, tapi untuk menagih kompensasi.
Mereka datang bukan membawa galon air, tapi galon kesabaran yang sudah hampir kosong.
“Selama tinggal di sini, kami nggak pernah dapat santunan apa pun,” kata Wasilah, warga Dusun Boro, yang rumahnya cuma sepelemparan batu dari pagar TPPI. “Kami minta pertanggungjawaban dari TPPI, ”ujarnya, sebagaimana dikutip Ngopibareng.id
Audiensi ini dihadiri Forkopimka Jenu, pihak manajemen TPPI yang diwakili HSSE Manager Darmanto dan Area Manager CSR & Comrell, Tinoto Hadi Sucipto. Lengkap sudah, yang terbakar bukan cuma kilang, tapi juga rasa percaya warga.
#Kompensasi, Bukan Sekadar Janji Manis di Tengah Asap
Kepala Desa Tasikharjo, Damuri, jadi jembatan antara warga yang panas dan perusahaan yang dingin. Ia menyebut pertemuan ini lahir dari keresahan warga pasca insiden kebakaran beberapa hari lalu.

“Tuntutannya jelas, mereka minta kompensasi,” kata Damuri. Warga juga memberi tenggat waktu hingga Rabu (22/10/2025) untuk ada kepastian.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelTidak harus langsung uang kontan, katanya, tapi minimal ada janji yang jelas dan bisa dipegang. Karena janji tanpa tanggal itu sama aja kayak “proyek CSR yang katanya sedang dalam proses.”
#TPPI Menjawab: “Audiensi Ini Tindak Lanjut”
Sementara dari pihak perusahaan, Area Manager CSR & Comrell TPPI, Tinoto Hadi Sucipto, menjelaskan bahwa audiensi kali ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada Kamis (16/10/2025).
Kata “tindak lanjut” di sini terdengar seperti sinyal bahwa prosesnya belum tentu cepat.
Warga tentu berharap, tindak lanjut itu bukan hanya dalam bentuk dokumen, notulen, atau kopi hitam pahit di meja rapat. Tapi benar-benar langkah konkret—karena di ring satu, asap masih terasa, dan janji manis tidak bisa jadi masker.***