DI JOMBANG, Jawa Timur, seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) sudah masuk babak krusial. Seperti biasa, atmosfernya mirip ujian CPNS, tapi lebih penuh strategi dan bisik-bisik. Sepuluh orang pejabat mengikuti asesmen manajerial di BKD Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Senin (27/10/2025). Semua berharap nasibnya tidak terhenti di papan pengumuman 29 Oktober nanti.
Kepala BKPSDM Jombang, Anwar, menjelaskan semuanya tampak tertib dan lancar. “Alhamdulillah, pelaksanaan seleksi kompetensi manajerial berjalan lancar, semua peserta hadir dan mengikuti asesmen dengan baik,” ujarnya dengan nada resmi yang khas pejabat. Ia menambahkan, hasil asesmen akan dibagi menjadi tiga kategori, MS (Memenuhi Syarat), MMS (Masih Memenuhi Syarat), dan TMS (Tidak Memenuhi Syarat).
Tapi di pojok warung kopi dekat pendopo, warga membisikkan satu kategori tambahan, MKS. Apa itu? “Masih Kuat Suapan atau Koneksi Sekda.” Sebuah istilah rakyat yang lahir dari pengalaman panjang menonton seleksi-seleksi serupa.
Karena di birokrasi, hasil seleksi sering kali bukan cuma soal kompetensi, tapi juga tentang siapa yang rajin nyapa, siapa yang tahu arah angin bertiup dari ruang Sekda.
#BKD Jatim: Tempat Tes atau Tempat Tes Keberanian?
Asesmen di BKD Provinsi Jatim digambarkan sebagai proses ilmiah, penuh tes psikologi, simulasi manajerial, dan wawancara perilaku. Tapi yang lebih berat dari semuanya adalah menjaga ekspresi supaya tetap tenang, meski di dada bergolak satu pertanyaan klasik, “Nilai lebih penting, atau restu lebih sakral?”
Anwar bilang, semua peserta hadir dan suasana kondusif. Dari total 19 peserta seleksi terbuka JPTP, hanya 10 orang yang menjalani asesmen manajerial.
“Jadi memang tidak semua ikut. Dari 19 hanya 10 orang yang menjalani asesmen, karena lainnya memiliki asesmen yang masih berlaku,” terangnya, dengan nada seolah menenangkan publik. Meski justru bikin penasaran, “Asesmen siapa yang “masih berlaku” itu?
Tapi di antara para peserta, yang paling berkeringat bukan karena soal tes, melainkan karena kipas angin di ruangan itu tak sekencang kipas yang berputar di meja ketua pansel.
Sekda Agus Purnomo, sang ketua pansel, disebut-sebut memegang posisi strategis. Dalam struktur resmi, dia memang hanya fasilitator seleksi. Tapi dalam struktur tak tertulis, dia adalah penentu arah angin, seberapa deras, ke mana bertiup, dan siapa yang kebagian sejuknya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKarena di dunia birokrasi, angin bukan sekadar udara yang bergerak. Ia bisa jadi sinyal kekuasaan, petunjuk arah karier, bahkan penentu siapa yang akan tetap berdiri, dan siapa yang harus menyingkir pelan-pelan dari papan permainan.
#Verifikasi Lapangan, Penelusuran, dan Aroma Kepentingan
Tim BKD Jatim kini menelusuri rekam jejak peserta, karakter, integritas, dan hubungan sosial di tempat tinggalnya. Ide bagus kalau dijalankan murni. Tapi dalam praktiknya, penelusuran ini kadang berubah jadi semacam survei politik kecil, siapa dekat dengan siapa, siapa “aman”, siapa yang terlalu vokal.
Anwar menegaskan, hasil penelusuran bukan penentu kelulusan, hanya bahan pertimbangan. Nah, justru itu masalahnya karena di birokrasi, kata “pertimbangan” sering lebih tajam dari “penentu.”
Di tangan tim pansel, terutama sang ketua yang kipasnya terkenal lebih gesit dari pendingin ruangan, “pertimbangan” bisa berubah jadi alat penyaring halus. Yang “kurang pas” bisa tergeser tanpa perlu surat resmi, cukup dengan bisikan yang ditiupkan pelan di sela rapat.
#Makalah, Wawancara, dan Angin yang Tak Pernah Netral
Tahapan berikutnya, 30 Oktober nanti, peserta harus menulis makalah dan menjalani uji gagasan. Tim pansel akan melibatkan akademisi dari UB dan Unair, tapi semua mata tahu, sorotan utama tetap mengarah ke kursi di mana Sekda Agus Purnomo duduk, tenang, berkipas, dan tersenyum tipis.
Para peserta boleh menulis makalah seideal mungkin: tentang visi pelayanan publik, inovasi daerah, sampai efisiensi anggaran. Tapi di birokrasi seperti ini, kadang makalah terbaik bukan yang paling akademis, melainkan yang paling selaras dengan arah kipas ketua pansel.
Karena dalam seleksi terbuka di negeri ini, transparansi sering kali seperti udara: katanya ada, tapi tak selalu bisa dirasakan semua orang.***