PANTAI Kenjeran bukan cuma jadi tempat orang nyari sunrise dan lontong kupang. Ada ratusan orang datang bukan buat liburan, tapi buat “nyangkul” sampah. ECOTON dan Natura Amerta ngajak warga Surabaya untuk gotong royong melawan plastik.
Dari Cak dan Ning Surabaya sampai TNI AL ikut turun tangan. Tapi yang dibersihkan bukan cuma pasir dan plastic, melainkan juga kebiasaan buruk kita yang hobi buang sampah sembarangan. Karena kadang, pantai kotor cuma cerminan dari kepala yang belum bersih.
#Dari Aksi Bersih Jadi Gerakan Sadar
Pantai Kenjeran terlihat lebih ramai dari biasanya, Ahad (9/11/2025). Bukan karena konser dangdut atau lomba layang-layang, tapi karena komunitas ECOTON dan Natura Amerta lagi-lagi bikin gebrakan: aksi Clean Up Beach. Acara dimulai pukul 08.00 WIB, dan dalam dua jam suasana pantai berubah jadi kelas besar tentang kesadaran lingkungan.
Ratusan peserta hadir membawa karung, bukan kamera. Mereka datang dengan semangat “bersih-bersih” yang bukan cuma simbolik. Dari pelajar, pegiat lingkungan, warga sekitar, hingga tamu istimewa seperti Cak dan Ning Surabaya serta anggota TNI AL, semua membaur jadi satu. Tak ada yang pakai jas atau seragam keren—semua sama-sama jongkok, ngais-ngais plastik di pasir.
Sebelum aksi dimulai, perwakilan panitia dan ECOTON memberikan sambutan singkat. “Hari ini kita bukan sekadar pungut sampah, tapi juga pungut kesadaran,” ujar salah satu relawan lewat pengeras suara. Ucapannya disambut tepuk tangan yang, entah kenapa, terdengar seperti bentuk janji kecil bahwa mereka mau berubah.
#Dari Karung Sampah ke Panggung Ide
Sekitar dua jam aksi berlangsung. Plastik, botol air mineral, bungkus makanan, dan sisa-sisa sedotan dikumpulkan jadi satu. Pantai Kenjeran yang tadi kotor mulai terlihat lega, meski ombak tampak masih membawa “kiriman” sampah baru dari laut. Tapi semangat peserta nggak surut—justru makin jadi.
Setelah bersih-bersih, peserta diajak ke sesi berikutnya: mimbar bebas. Di sini, siapa pun boleh bicara—tentang keresahan, ide, atau bahkan unek-unek soal sampah. Ada yang menyalahkan kebiasaan pengunjung, ada yang nuntut pemerintah lebih tegas, ada juga yang nyeletuk, “Yang perlu dibersihin bukan cuma pantainya, tapi juga kebijakan soal sampah.”

Ferdy Satrya, founder Natura Amerta sekaligus ketua pelaksana, bilang aksi ini bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih besar. “Acara ini bertujuan untuk menyatukan semua lapisan masyarakat dan menyatakan bahwa kita sebagai warga Indonesia siap menanggulangi masalah sampah,” ujarnya. “Harapannya, aksi ini bisa memperjuangkan lahirnya produk hukum yang tepat bagi penanganan sampah.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDari sampah plastik yang menumpuk, ternyata muncul inspirasi. Sebagian material hasil clean up bakal diolah jadi karya seni instalasi oleh seniman lokal Surabaya. Ide ini lahir dari keinginan untuk membuat edukasi lingkungan lebih kreatif dan menyenangkan. “Biar orang sadar kalau sampah bisa punya cerita, asal nggak dibuang sembarangan,” kata salah satu relawan ECOTON.
#Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih
Dalam kegiatan ini, Jofan Ahmad, dari ECOTON, menegaskan bahwa kontribusi terhadap lingkungan nggak bisa berhenti di kegiatan simbolik. “Harapan saya, kontribusi kita tidak hanya tentang bersih-bersih saja. Ke depan kita juga harus ikut menolak penggunaan plastik sekali pakai. Itu bentuk kontribusi yang nyata,” katanya tegas.
Ucapannya menampar pelan, karena memang benar: kadang kita terlalu sibuk memunguti sampah yang kita buat sendiri. Gerakan bersih pantai jadi pengingat bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada sekadar membersihkan. Kalau kebiasaan konsumtif dan ketergantungan plastik masih jalan terus, pantai bakal kotor lagi dalam seminggu.
Tapi di balik kelelahan dan bau amis laut, ada semangat yang tak bisa dicuci. Para peserta pulang dengan wajah berkeringat tapi puas. Mereka mungkin tak langsung mengubah dunia, tapi setidaknya sudah memulai dari hal kecil: membuktikan bahwa cinta lingkungan itu nggak harus ribet—asal mau turun tangan, bukan cuma nyinyir di media sosial.
Sebagian peserta bahkan berencana datang lagi minggu depan, bukan untuk bersih-bersih, tapi sekadar menikmati pantai tanpa merasa bersalah. Karena ketika kita ikut menjaga, tempat itu otomatis jadi bagian dari diri kita. Dan mungkin, dari satu aksi seperti ini, akan lahir kebiasaan baru: tidak membuang, tapi menjaga. Tidak menutup mata, tapi bergerak.
Di Pantai Kenjeran, pagi itu, laut memang belum sepenuhnya bersih. Tapi semangat manusianya—pelan-pelan—sudah mulai jernih.***