Lewati ke konten

Dari Kampus ke Kampus: Gerakan Literasi Media yang Nggak Sekadar Wacana

| 3 menit baca |Sorotan | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

DI TENGAH dunia digital yang makin ribut, ada segelintir anak muda yang memilih jalan sunyi, memperkuat literasi media. Bukan buat viral, bukan juga buat “ngegas” di Twitter, tapi biar publik paham bedanya fakta, opini, dan omongan warung kopi.

Lewat pameran Media and Information Literacy (MIL), para jurnalis kampus membuktikan, jadi mahasiswa itu bukan cuma soal IPK dan skripsi. Tapi juga tentang bagaimana tetap waras membaca banjir informasi yang datang saban detik dari layar ponsel kita.

Di sebuah aula kampus Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta Barat, suasana hari Senin, 10 November 2025, kemarin agak beda. Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Forum Alumni Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FA PPMI), dan UNESCO kompak bikin pameran karya para penerima pendanaan program Media and Information Literacy Fellowship.

Lima Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) terpilih tampil gagah di sana, LPM Retorika Universitas Airlangga Surabaya, LPM Dedikasi IAIN Kediri, LPM Profesi Universitas Negeri Makassar, UKPM Zawiyah IAIN Langsa, dan LPM Paradigma UIN Sunan Kudus. Tak cuma memamerkan karya, mereka juga berbagi cerita tentang perjuangan membangun literasi media di kampus—yang kadang lebih ribet daripada ngurus KRS online.

#Ketika Zawiyah Bicara Etika AI dan Dedikasi Ngajar Santri

Tsaqila Rizki, anggota UKPM Zawiyah, tampak antusias menjelaskan pameran karyanya. “Kami mengangkat tema Transformasi Literasi Media di Era Digital: Tantangan Etika dan Peran Generasi Muda,” ujarnya sambil sesekali menatap poster workshop mereka.

Selama dua hari, Zawiyah menggelar pelatihan untuk anggota pers kampus se-Langsa. Hari pertama bahas dasar-dasar MIL, hari kedua ngomongin etika AI dan ujaran kebencian di media sosial. “Kami pengin teman-teman muda tahu, pakai media itu bukan cuma posting doang, tapi juga mikir,” kata Qila, dengan nada serius tapi semangat.

Sementara itu, dari arah timur pulau Jawa, LPM Dedikasi IAIN Kediri punya cerita lain. Lutfia Kholifatur bersama timnya mengajak santri-santri pesantren ikut pelatihan literasi media.

“Anak pesantren juga harus melek info. Jangan cuma baca kitab, tapi juga bisa bedain berita beneran sama hoaks WhatsApp keluarga,” candanya.

Mereka kirim 15 surat ke berbagai pesantren dan sukses menghadirkan 30 peserta. Dari pelatihan itu, Lutfia berharap media pesantren tak cuma jadi arsip kegiatan, tapi juga ruang diskusi yang lebih kritis dan reflektif. “Media bukan papan pengumuman, tapi jendela berpikir,” ujarnya, sambil senyum lebar.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Dari Mentoring Hingga Global MIL Week: Sebuah Gerakan Sunyi Tapi Pasti

Tentu, perjalanan ini nggak semulus jalan tol. Koordinasi tim sering terbentur jadwal KKN dan ujian, bahkan mencari pemateri pun seperti berburu dosen pembimbing, lama tapi pasti.

Untungnya, ada Atikah dari AJI Indonesia yang jadi mentor sekaligus “teman curhat” tiap Jumat lewat Zoom.

“Kalau nggak ada mentoring itu, mungkin acara kami bubar di tengah jalan,” kata Lutfia, jujur. Atikah membantu mereka menyusun konsep, memberi saran, bahkan jadi penyemangat kala semangat tim menurun.

Pameran di UKRIDA ini pun jadi puncak rangkaian program Media and Information Literacy Training. Setelah pelatihan daring dan luring, peserta mengajukan proposal, diseleksi, didanai, lalu didampingi hingga akhirnya bisa memamerkan hasilnya. Semua ditutup lewat MIL Changemaker Seminar & Exhibition yang bertepatan dengan Global MIL Week 2025, 10–12 November.

Bukan sekadar pamer karya, tapi juga selebrasi kecil dari upaya panjang anak muda melawan kebodohan digital. Di tengah dunia yang makin gaduh, mereka memilih jadi jurnalis kampus—bukan karena gaji, tapi karena idealisme yang (kadang) masih utuh. Seperti kata Qila, “Kritik itu penting. Tapi lebih penting lagi: tahu dulu apa yang dikritik.”***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *