BIASANYA, santriwati Pondok Pesantren (PP) Nurussalam Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan, Bondowoso, Jawa Timur, akrab dengan kitab kuning dan tadarus Al-Qur’an. Namun selama dua hari, mereka justru sibuk menakar partikel mikroplastik yang turun dari langit.
Dari sampel air hujan, mereka menemukan 36 partikel per liter. Tentu angka yang membuat mereka kemudian bergerak cepat. Menelusuri sumber pencemaran, menghitung 925 sampah plastik di lingkungan sekitar, hingga merumuskan enam aksi penyelamatan lingkungan khas generasi muda pesantren.
#Ketika Air Hujan Datang Membawa Mikroplastik, Bukan Lagi Ketenteraman

Di Bondowoso hujan selama ini identik dengan hawa dingin dan aroma tanah yang menenangkan. Namun tidak bagi 15 santriwati Pondok Pesantren (PP) Nurussalam di Bondowoso ini. Mereka menyambut hujan bukan dengan rindu, tetapi dengan rasa kaget. Bukan karena petir, pastinya. Melainkan karena mikroplastik.
“Awalnya kami kaget mengetahui air hujan di Bondowoso tercemar mikroplastik,” ujar Siti Fatimah, pengurus santriwati PP Nurussalam, Selasa, 18 November 2025.
Keterkejutan itu semakin menjadi, ketika mereka mengamati lingkungan sekitar pondok, pembakaran sampah plastik, tumpukan plastik di tepi jalan, hingga kebiasaan buang sampah sembarangan yang masih marak.
“Semua itu adalah pintu masuk mikroplastik ke udara yang kemudian turun bersama air hujan,” tambah Fatimah.
Kemudian mereka menggelar penelitian kecil-kecilan, yang dilakukan sebagai bagian dari Program Jawa Timur Young Changemaker (JAYCA) 2025, sebuah gerakan yang mendorong Gen Z Jawa Timur lebih sadar krisis iklim.
Menurut mentor JAYCA 2025, Prigi Arisandi, kegiatan berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa, 17–18 November 2025. Hari pertama, pelatihan mencakup pemantauan kualitas air, uji mikroplastik pada air hujan, hingga inventarisasi persoalan lingkungan, yang menjadi penyebab krisis iklim pada hari pertama.
Kemudian dilanjutkan pada hari kedua, peserta merancang solusi berupa poster dan konten media sosial. “Harapan kita bukan hanya paham masalah, tetapi juga bisa menjadi bagian dari solusi yang bisa langsung dirasakan masyarakat,” ujar Prigi.

#Uji Air Hujan: 36 Partikel Plastik per Liter, Didukung Temuan dari Sungai
Sampah plastik memang jadi masalah global. Indonesia sendiri, menurut Prigi, kini menjadi penyumbang sampah plastik terbesar ketiga ke laut dunia dengan lebih dari 3 juta ton plastik dibuang ke laut setiap tahun. Itu belum termasuk kenyataan pahit bahwa 56 persen sampah di Indonesia dibakar dan 10 persen dibuang ke sungai, yang akhirnya berakhir juga di laut. Dan kemudian, seperti karma balik, plastik itu pecah menjadi mikroplastik, naik ke udara, melayang di atmosfer, dan jatuh lagi lewat hujan.
Dalam kegiatan JAYCA di PP Nurussalam, tim santriwati melakukan uji air hujan pada Selasa (18/11/2025). Mereka menampung air dalam wadah aluminium atau stainless steel setinggi 2 meter, jauh dari bangunan dan vegetasi. Hasilnya cukup mencengangkan, 36 partikel mikroplastik ditemukan dalam 1 liter air hujan yang turun di dalam area pondok.
“Jenis yang teridentifikasi adalah fiber, ukurannya sangat kecil di bawah 5 mm, sehingga kami harus menggunakan mikroskop dengan pembesaran 40 kali hingga 100 kali,” jelas Cindi Yuniantika, salah satu anggota tim.
Hasil uji itu lalu dibandingkan dengan sampel air hujan dari Koncer dan Badean yang dikumpulkan siswi SMPN 3 Bondowoso pada Senin (17/11/2025).
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Namun kejutan belum selesai. Tim JAYCA PP Nurussalam juga memeriksa air Sungai Kemuning dan Bendungan Kemuning. Hasilnya, lebih dari 41 partikel mikroplastik ditemukan di sungai dan 26 partikel dalam air sumber Kemuning. Artinya, mikroplastik merajalela dari langit sampai sungai.
Bagi sebagian santriwati, temuan ini membuat mereka mengajak tak menggunakan plastik sekali pakai, baik aktivitas berbelanja atau yang lainnya.
Mereka yang sebelumnya mengira air hujan adalah air paling murni, kini sadar bahwa hujan pun telah dicemari oleh gaya hidup manusia sendiri.

#Menemukan Lima Sumber Mikroplastik di Sumber Kemuning
Setelah tahu air hujan tercemar, tim JAYCA PP Nurussalam melakukan investigasi lingkungan. Mereka berjalan sejauh satu kilometer dari area pondok, mengamati perilaku masyarakat, mencatat jumlah sampah yang ditemukan, dan mengidentifikasi penyebaran mikroplastik.
Hasilnya, lima sumber utama mikroplastik ditemukan di Desa Sumber Kemuning.
- Pembakaran sampah plastik secara terbuka: Hampir setiap rumah memiliki tempat sampah di depan rumah, tetapi tanpa pengelolaan akhir, akhirnya sampah dibakar. Asap pembakaran inilah yang melepas partikel plastik ke udara.
- Sampah plastik tercecer di jalan: Dalam area 1 km, tim menemukan 925 piece sampah plastic. Baik berupa kresek, botol plastik, gelas plastik, sachet, hingga styrofoam. Banyak yang sudah pecah atau mrotoli, mudah terbang terbawa angin.
- Sampah plastik di saluran air: Plastik-plastik menumpuk di dasar sungai kecil. Menyumbat aliran sungai. Setiap gesekan air bisa menghasilkan serpihan mikroplastik baru.
- Pembuangan sampah liar di kebun: Tumpukan plastik yang terpapar angin dan hujan membuatnya cepat hancur dan menyebar.
- Sampah terapung di sungai: Popok, tas kresek, botol plastik, dan styrofoam terlihat mengapung dan tersangkut di bebatuan di Sungai Sumber Kemuning. Tidak adanya fasilitas tempat sampah membuat masyarakat memilih sungai sebagai pilihan pembuangan sampah.
“Temuan ini membuat para santriwati sadar bahwa mikroplastik bukan fenomena abstrak, “ucap Prigi. “Serpihan ini lahir dari kebiasaan sehari-hari, dari hal kecil yang dianggap remeh, tapi dampaknya bisa ke mana-mana, bahkan sampai ke langit.”
#Enam Aksi Solusi Khas Santriwati JAYCA 2025
Setelah memahami sumbernya, para santriwati PP Nurussalam sepakat untuk berubah. “Kami sepakat untuk mau berubah dan akan memulai untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dimulai dari diri sendiri,” kata Siti Fatimah.
Kemudian Siti Fatimah dengan santriwati lainnya, merumuskan 6 aksi solusi sebagai komitmen mereka dalam program JAYCA 2025:
- Menolak dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
- Menggalakkan gerakan guna ulang: memakai tumbler, rantang, tepak, dan tas kain.
- Membuat poster imbauan agar warga tidak membuang sampah plastik ke sungai.
- Mendorong penyediaan tempat sampah yang lebih banyak di desa.
- Mengampanyekan larangan pembakaran sampah plastik.
- Menggunakan media sosial sebagai ruang edukasi dan ajakan ke teman sebaya.
Dengan langkah-langkah ini, para santriwati berharap bisa menjadi gelombang perubahan kecil yang memicu perubahan lebih besar. Jika mikroplastik bisa datang dari tindakan kecil manusia, maka solusi pun bisa dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.***