Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Dari Mrican Kota Kediri, Warga Menantang Bom Metan

| 4 menit baca |Ekologis | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Firly Mas’ulatul Janah Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Berbekal data sampah rumah tangga, warga Mrican membangun kemandirian dan menolak krisis metan dari TPA.

Pagi belum terlalu panas, ketika kantong-kantong sampah rumah tangga dikumpulkan di RT 02/RW 03 Kelurahan Mrican, Kecamata Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, saat itu, Sabtu, (31/1/2026).

Ibu-ibu Kelurahan Mrican bersama peserta Zero Waste Academy 2026 menunjukkan hasil timbangan pengelolaan sampah. | Foto: Amiruddin Muttaqin

Tidak ada truk besar atau alat berat. Yang tampak justru timbangan portable jinjing, lembar pencatatan, dan wajah-wajah warga yang penasaran melihat sampahnya sendiri diteliti.

Selama tiga hari, 29–31 Januari 2026, warga secara sukarela menyetorkan sampah rumah tangga mereka untuk dianalisis dalam kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA).

Mungkin sebagian ada yang ragu dan mengatakann jika kegiatan yang dijalani warga Keluarahan Mrican ini sekadar teknis bekala. Ternyata bukan. Karena kegiatan ini melibatkan mahasiswa KKN Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Mereka mendatangi rumah ke rumah, memastikan pemilahan dilakukan sejak dari sumber.

Bila masih tercampur, sampah dipilah bersama pemilik rumah. Proses ini berlangsung terbuka, tanpa jarak antara peneliti dan warga. “Kami memilah di depan pemilik rumah supaya mereka paham betul apa yang mereka hasilkan setiap hari,” kata Riska Dwi Rohmatika, relawan dari tim KKN.

Hasilnya mencerminkan kenyataan yang kerap tersembunyi: 53,9 persen sampah warga adalah organik. Sisa makanan, daun, dan limbah dapur menjadi penanda, persoalan sampah bukan hanya soal plastik. Di Mrican, data itu tidak berhenti sebagai catatan saja. Sampah itu menjadi dasar kesepakatan kolektif untuk bertindak.

#Gas Metan dan Kesadaran dari Akar

Sampah organik yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir bukan sekadar bau atau pemandangan tak sedap. Sisa dari berbagai jenis produk itu, berubah menjadi ancaman iklim. Dalam kondisi tertutup tanpa oksigen, sampah organik menghasilkan gas metan, gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat memerangkap panas dibanding karbon dioksida. Ledakan dan kebakaran di TPA di berbagai daerah menjadi peringatan nyata.

Kesadaran itulah yang mendorong warga Mrican memperbanyak komposter di lingkungan permukiman. Alih-alih membuang sampah organik ke TPA, mereka memilih mengolahnya sendiri. Kompos diproduksi, tanah diperbaiki, dan emisi dicegah sebelum terjadi.

“Kami tidak ingin sampah kami menjadi bom waktu gas metan,” ujar Riyadi, Ketua Bank Sampah Pringgodani, sambut menyambut peserta Zero Waste Academy 2026 yang sedang berkunjungan ke Kelurahan Mrican.

Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan nasional. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 menegaskan pengurangan dan penanganan sampah dari sumbernya. Pemerintah juga menargetkan Indonesia Zero Waste 2050 dan berencana menghentikan pembangunan TPA baru mulai 2030.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (E.NDC), sektor limbah menjadi kunci penurunan emisi. Namun di Mrican, regulasi itu diterjemahkan menjadi praktik sehari-hari—tanpa menunggu instruksi panjang.

Arman Fuadi, S.Sos., MM., dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri, peserta Zero Waste Academy 2026, melihat proses pengomposan di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. | Foto: Amiruddin Muttaqin

#Dari Data ke Gerakan Warga

AKSA 2026 juga mencatat potensi ekonomi yang selama ini terabaikan. Sampah daur ulang mencapai 26 persen, didominasi kardus duplex dan botol kaca. Jumlah ini memperkuat peran bank sampah sebagai simpul ekonomi sirkular di tingkat kampung. Sampah bukan lagi beban, melainkan sumber nilai.

Namun tidak semua persoalan selesai. Sampah residu masih mencapai 20,2 persen, terutama popok, tisu, serta barang bekas seperti tas dan sepatu. Kategori ini menjadi tantangan tersisa yang belum memiliki solusi mudah.

Meski begitu, warga menempatkan residu sebagai prioritas terakhir—setelah pengurangan, pemilahan, dan pengolahan.

Program di Mrican menunjukkan, pengelolaan sampah berbasis data dapat dijalankan dari skala paling kecil. Cara tidak lahir dari proyek besar, melainkan dari kesediaan warga menimbang sampahnya sendiri dan bercermin pada dampaknya.

Di tengah krisis iklim dan keterbatasan TPA, Mrican menawarkan satu pesan sederhana sebagai cermin perubahan, yaitu bisa dimulai dari dapur, dari halaman rumah, dari satu RT yang berani mengelola sampahnya sendiri. ***

 

*) Firly Mas’ulatul Janah, tim Zero Waste City Program pada Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *