Lewati ke konten

Dari Sungai hingga Rahim: Ketika Plastik Tak Lagi di Luar Tubuh Manusia

| 4 menit baca |Opini | 10 dibaca

Mikroplastik kini menembus batas tubuh manusia—dari darah hingga rahim. Krisis ini bukan lagi soal sampah, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan dan masa depan generasi.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026 menghadirkan kabar yang bukan sekadar mengkhawatirkan, tetapi juga mengubah cara kita memahami krisis lingkungan. Dalam sebuah forum ilmiah di Surabaya, para peneliti memaparkan temuan yang menandai babak baru: mikroplastik tidak lagi hanya mencemari sungai dan laut, tetapi telah masuk ke dalam tubuh manusia—bahkan hingga ke darah dan air ketuban.

Penelitian terhadap perempuan di Gresik menunjukkan fakta yang sulit diabaikan: 100 persen sampel darah mengandung mikroplastik, dengan konsentrasi sekitar 2–18 partikel per mililiter. Jika dikalkulasikan dengan volume darah manusia dewasa sekitar 5 liter, maka tubuh dapat membawa 10.000 hingga 90.000 partikel mikroplastik hanya dalam sistem peredaran darah.

Lebih jauh, dari 42 sampel air ketuban (amnion) yang diteliti, seluruhnya juga terkontaminasi mikroplastik. Temuan ini menggeser batas krisis: dari lingkungan eksternal menuju ruang paling awal kehidupan manusia.

#Paparan yang Nyaris Tak Terhindarkan

Mikroplastik masuk ke tubuh melalui jalur yang nyaris tak terhindarkan: udara, makanan, dan air minum. Di dalam tubuh, partikel ini tidak sekadar mengendap. Ia membawa zat kimia berbahaya seperti bisfenol (BPA), ftalat, PFAS, dan PAHs, yang dapat terlepas dan berinteraksi dengan sistem biologis manusia.

Dalam sejumlah studi yang dipresentasikan, paparan ini berkorelasi dengan inflamasi, perubahan sel darah, gangguan metabolisme, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Secara biologis, mikroplastik memicu stres oksidatif dan peradangan kronis, menghasilkan reactive oxygen species (ROS) yang mampu merusak DNA, protein, dan membran sel.

Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan lingkungan biologis yang memungkinkan proliferasi sel abnormal dan membuka potensi kanker.

#Krisis yang Bersumber dari Sistem Produksi

Temuan ini bukan fenomena yang berdiri sendiri. Ia merupakan konsekuensi langsung dari struktur industri plastik global.

Produksi plastik dunia kini melampaui 400 juta ton per tahun, dengan sebagian besar digunakan untuk kemasan sekali pakai. Di Indonesia, konsumsi plastik mencapai 7–9 juta ton per tahun, didominasi kemasan yang cepat dibuang.

Dari seluruh plastik yang diproduksi, hanya sekitar 9–12 persen yang didaur ulang, sekitar 60 persen tidak terkelola optimal, dan sekitar 30 persen bocor ke lingkungan. Tidak mengherankan jika Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah plastik laut di dunia.

Plastik yang terbuang tidak pernah benar-benar hilang. Ia terfragmentasi menjadi mikroplastik dalam waktu relatif singkat, masuk ke siklus kehidupan, dan pada akhirnya kembali ke tubuh manusia. Bahkan, konsumsi mikroplastik oleh masyarakat Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 15 gram per bulan—setara berat satu kartu ATM.

#Ketika Kebijakan Tertinggal

Berbagai kebijakan telah dicanangkan, baik di tingkat global maupun nasional. Dunia tengah merumuskan perjanjian plastik global, sementara Indonesia menargetkan pengurangan sampah hingga 30 persen pada 2025.

Namun realitas menunjukkan kesenjangan yang nyata: produksi plastik terus meningkat, daur ulang stagnan di kisaran 10 persen, dan kebocoran plastik ke lingkungan tetap tinggi. Kebijakan masih didominasi pendekatan hilir—pengelolaan sampah—bukan pengendalian produksi.

Di sinilah akar persoalan berada.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Membaca Akar Masalah

Dalam kitab مشكلة البيئة وأسبابها وكيفية معالجتها في نظر الإسلام”, krisis lingkungan tidak dipandang semata sebagai persoalan teknis, melainkan sebagai akibat dari paradigma hidup manusia.

Kesalahan utama terletak pada cara mendefinisikan masalah—yang berhenti pada gejala—serta orientasi produksi tanpa batas dan dominasi kepentingan material. Dalam konteks plastik, hal ini tampak jelas: produksi terus meningkat bukan karena kebutuhan dasar, melainkan karena sistem ekonomi yang mendorong konsumsi massal.

Kemasan dirancang untuk efisiensi pasar, bukan keberlanjutan. Biaya lingkungan dan kesehatan tidak tercermin dalam harga produk. Ia justru ditanggung oleh masyarakat dalam bentuk pencemaran, penyakit, dan kerusakan ekosistem.

Kitab tersebut menegaskan prinsip fundamental: tidak boleh ada aktivitas yang menimbulkan bahaya (dharar). Dalam konteks temuan ilmiah hari ini—ketika mikroplastik terbukti masuk ke darah, merusak sel, dan berpotensi memicu penyakit—maka krisis ini tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menyentuh prinsip dasar perlindungan kehidupan manusia.

#Dari Krisis Lingkungan ke Krisis Peradaban

Apa yang kita hadapi hari ini bukan sekadar persoalan sampah plastik. Ini adalah refleksi dari sistem produksi dan konsumsi global yang kehilangan batas moral.

Plastik yang diciptakan untuk memudahkan hidup kini kembali dalam bentuk yang lebih halus—mikroplastik—dan masuk ke dalam tubuh manusia. Dari sungai, ke laut, ke udara, ke makanan, hingga ke darah dan rahim.

Sungai mungkin masih mengalir seperti biasa. Namun yang mengalir di dalamnya telah berubah. Dan bersama itu, batas antara lingkungan dan tubuh manusia pun mulai menghilang.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita terdampak, tetapi: seberapa jauh kita akan membiarkan sistem ini terus berjalan sebelum dampaknya tak lagi dapat dikendalikan.***

Penulis: Slamet Sugianto – Alumni FISIP Universitas Airlangga Angkatan 1987

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *