Brand audit di Kota Batu menemukan dominasi sampah sachet rumah tangga. Data ini mendorong perubahan ke sistem isi ulang dan tanggung jawab produsen kemasan.
Halaman TPS3R Jalibar Berseri di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, dipenuhi aktivitas pemilahan sampah. Sebanyak 30 relawan terlibat, terdiri dari anggota TPS3R, kader PKK, serta Tim Percepatan Pengelolaan Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Jawa Timur.
Mereka mengikuti kegiatan brand audit, sebuah metode untuk mengidentifikasi jenis dan merek sampah yang dihasilkan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi lanjutan dari aksi bersih yang sebelumnya dilakukan. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah secara rinci: plastik, kertas, dan residu. Fokus utama tertuju pada kemasan sekali pakai, terutama sachet yang kian mendominasi timbulan sampah rumah tangga.
Setiap relawan memiliki tugas. Ada yang mencatat merek, menghitung jumlah kemasan, hingga mendokumentasikan hasil. Proses ini berlangsung sistematis sekaligus membuka kesadaran baru tentang pola konsumsi sehari-hari.
Ony Dwi Setyowati, anggota Pokja 4 PKK Desa Oro-Oro Ombo, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan semacam ini. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap sampah.
“Ini pertama kali saya mengikuti kegiatan brand audit. Saya belajar mengenali dan mendata merek-merek dari kemasan plastik sekali pakai. Tidak disangka, ternyata sampah bermerek itu sangat banyak,” ujar Ony saat berlangsungnya kegiatan pada Kamis, 2 April 2026.

#Data Brand Audit: Dominasi Produk Sachet
Hasil brand audit menunjukkan satu temuan utama, yaitu kemasan sachet mendominasi sampah yang terkumpul. Produk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo, deterjen, hingga minuman instan menjadi penyumbang terbesar.
Dari pencatatan yang dilakukan, sepuluh produsen tercatat sebagai penyumbang utama sampah kemasan. Tanobel berada di posisi teratas dengan 774 kemasan. Disusul Mayora sebanyak 300 kemasan, Wings 274 kemasan, dan Danone 273 kemasan.
Sementara Indofood menyumbang 212 kemasan, Santos Jaya Abadi 143 kemasan, serta Procter & Gamble (P&G) terhitung sebanyak 132 kemasan.
Hitungan selanjutnya di bawahnya, yaitu Unilever tercatat 63 kemasan, Ultrajaya 61 kemasan, dan Ajinomoto 51 kemasan.
Angka-angka tersebut menggambarkan besarnya konsumsi produk kemasan kecil di tingkat rumah tangga.
Temuan ini memperlihatkan kalau sachet masih menjadi pilihan utama masyarakat. Faktor harga yang terjangkau dan kemudahan akses menjadi alasan utama. Padahal jenis kemasan ini sulit didaur ulang dan hampir tidak memiliki nilai jual kembali.
Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati berpendapat jika kegiatan brand audit yang dilakukannya ini memberikan manfaat nyata, terutama dalam memahami sumber sampah.
“Kegiatan brand audit sangat bagus dan bermanfaat. Kami jadi mengetahui produk apa yang paling banyak digunakan masyarakat. Ternyata yang mendominasi adalah sachet yang sulit didaur ulang, tidak laku dijual, dan akhirnya menjadi residu,” kata Titik.

Perempuan yang pernah mengungkapkan rasa kekhawatirannya soal sampah ini juga menyampaikan pandangan tegas terkait masa depan kemasan sachet.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Harapannya, kemasan sachet bisa ditiadakan. Perlu beralih ke wadah alternatif yang bisa digunakan ulang atau didaur ulang, misalnya botol,” ujarnya.
#Dorongan Sistem Refill dan Tanggung Jawab Produsen
Berdasarkan temuan yang dilakukan, sejumlah rekomendasi disusun sebagai langkah strategis mengurangi timbulan sampah sachet. Salah satunya, mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk beralih dari kemasan kecil ke ukuran besar atau sistem isi ulang.
Selain itu, pengembangan layanan seperti refill akan ditingkatkan, karena dinilai penting. Sistem ini, kata Eni Maulidiyah dari DLH Kota Batu, memungkinkan masyarakat membeli produk secara curah tanpa menghasilkan banyak sampah kemasan. “Dengan akses yang dekat, perubahan perilaku diharapkan lebih mudah terjadi, “ ucap Eni.
Rekomendasi lain ditujukan kepada produsen. Mereka didorong untuk bertanggungjawab terhadap kemasan yang dihasilkan melalui inovasi desain yang dapat digunakan kembali atau lebih mudah didaur ulang. Pengurangan produksi kemasan sekali pakai juga menjadi sorotan utama.

Dalam hal ini, peran pemerintah daerah tentu cukup krusial dalam mendukung perubahan ini. Kebijakan pembatasan peredaran sachet secara bertahap dapat menjadi langkah awal, disertai edukasi publik tentang pengurangan sampah dari sumbernya.
“Salah satunya kegiatan brand audit ini menjadi momentum agar masyarakat paham bahwa sampah anorganik dengan berbagai merek sangat banyak digunakan. Terutama kemasan sachet yang sebenarnya bisa dikurangi,” ujar Eni.
Eni juga meminta masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan belanja. “Masyarakat bisa membeli dalam kapasitas besar atau secara curah melalui sistem refill, sehingga sampah pembungkus tidak menjadi residu,” jelas Eni.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi kunci keberhasilan. Tanpa keterlibatan semua pihak, upaya pengurangan sampah hanya akan berhenti di tingkat wacana.
Melalui kegiatan ini, data yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi. Informasi tersebut dapat menjadi dasar advokasi untuk mendorong perubahan kebijakan dan praktik konsumsi yang lebih berkelanjutan di Kota Batu.
Brand audit yang dilakukan di TPS3R Jalibar Berseri menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih luas. Sampah sachet mencerminkan sistem konsumsi yang belum berpihak pada lingkungan. Perubahan menuju sistem isi ulang menjadi salah satu jalan keluar yang kini mulai diperjuangkan dari tingkat komunitas.***

Penulis Tonis Afrianto, Kepala Program Zero Waste Ecoton. Tulisan ini disusun sebagai bagian dari upaya mendorong pengurangan sampah melalui pendekatan brand audit dan sistem isi ulang.