Kunjungan edukasi 87 siswa Cita Hati Christian School ke ECOTON mengungkap temuan mikroplastik pada air minum, udara, kulit, daun, dan perabot sehari-hari.
Sebanyak 87 siswa kelas 2 Cita Hati Christian School Surabaya menemukan partikel mikroplastik pada air minum, udara, kulit manusia, daun, hingga perabot rumah tangga saat mengikuti program edukasi Mikro Guardians 2026 di lembaga lingkungan ECOTON, Jumat, (8/5/2026).
Kegiatan yang memperlihatkan secara langsung bagaimana partikel plastik berukuran sangat kecil itu, telah menyebar di lingkungan sehari-hari anak-anak. Pada kegitan itu, para siswa mengamati sampel menggunakan mikroskop di delapan pos pembelajaran interaktif yang disiapkan tim ECOTON.
Salah satu temuan muncul dari pengamatan udara di area teras ECOTON. Tim edukasi menemukan 13 partikel mikroplastik yang terdiri atas enam fiber, lima fragmen, dan dua filamen.
“Tapi enak, mikroplastiknya dingin,” kata seorang siswa saat mengikuti kegiatan.
Komentar polos itu menjadi gambaran bagaimana mikroplastik muncul di ruang terbuka yang selama ini dianggap aman. Partikel-partikel melayang di udara dan berpotensi terhirup manusia tanpa disadari.

#Mikroplastik pada Air dan Kulit
Dalam sesi pengamatan air minum, 13 dari 17 siswa menguji sampel air minum yang mereka bawa sendiri. Hasilnya, rata-rata ditemukan dua partikel mikroplastik pada setiap sampel air milik siswa.
Tim ECOTON juga melakukan uji swab kulit terhadap 20 siswa. Dari pengamatan mikroskopis, ditemukan 30 fiber dan 10 fragmen mikroplastik menempel di permukaan kulit.
Pengamatan lain dilakukan terhadap mainan, telepon seluler, dan perabot rumah tangga. Dari 20 siswa yang mengikuti pengujian, ditemukan 19 partikel mikroplastik yang terdiri atas 10 fiber dan sembilan fragmen.
Sementara itu, pada sampel daun yang dipetik langsung di sekitar lokasi kegiatan, tim menemukan 10 partikel mikroplastik berupa enam fiber dan empat filamen.
Guru pendamping Cita Hati Christian School, Bambang Margono, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan dampak pencemaran lingkungan kepada anak-anak sejak dini.
“Tujuan kegiatan ini agar anak-anak mengetahui akibat dari aktivitas manusia yang dapat mengganggu lingkungan. Kami merasa ECOTON menjadi tempat yang paling sesuai untuk anak-anak belajar mengenai dampak lingkungan secara langsung,” kata Bambang.

Program Mikro Guardians 2026 menggunakan metode station learning atau pembelajaran berbasis pos. Setiap kelompok siswa berpindah dari satu pos ke pos lain untuk mempelajari sumber dan dampak mikroplastik pada medium yang berbeda.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Selain pengamatan mikroplastik, siswa juga mendapat materi mengenai pemilahan sampah, pengolahan kompos, serta pengenalan limbah residu dan bahan berbahaya beracun atau B3.
#Ancaman Mikroplastik bagi Lingkungan
Koordinator Tim Pelaksana Mikro Guardians 2026 ECOTON, Wahyu Baitullah, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan membentuk kesadaran lingkungan sejak usia sekolah dasar.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang lebih kritis dan peduli. Polusi mikroplastik kini telah mencemari air, udara, tanah, hingga tubuh manusia. Fakta ini bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk bergerak,” ujar Wahyu.

Menurut ECOTON, hasil pengamatan para siswa memperlihatkan bahwa pencemaran mikroplastik tidak hanya ditemukan di sungai atau kawasan industri. Kontaminasi juga hadir pada benda-benda yang digunakan sehari-hari oleh anak-anak.
Mikroplastik merupakan serpihan plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang berasal dari pelapukan sampah plastik, serat sintetis, maupun produk rumah tangga. Partikel tersebut dapat terbawa udara, mengalir ke sungai dan laut, serta masuk ke rantai makanan manusia.
Dalam siaran persnya, ECOTON mengaitkan temuan tersebut dengan sejumlah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi.
Temuan rata-rata dua partikel mikroplastik dalam air minum siswa dinilai memperlihatkan tantangan penyediaan air bersih yang aman dikonsumsi masyarakat.
ECOTON juga menyoroti keterkaitan pencemaran mikroplastik dengan SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, SDG 14 mengenai ekosistem laut, dan SDG 15 terkait perlindungan ekosistem darat.
Lembaga yang berbasis di Gresik itu selama ini dikenal aktif melakukan riset pencemaran sungai dan mikroplastik di Indonesia. Hasil penelitian ECOTON kerap digunakan sebagai rujukan dalam advokasi kebijakan lingkungan dan kampanye pengurangan plastik sekali pakai.***

Artikel ini dikirim oleh Amalia Fibrianty, M.I.Kom, Media and Communications Officer Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).