Lewati ke konten

Angka Kemiskinan Mojokerto Turun, Garis Kemiskinan Naik: Selamat, Miskin Jadi Makin Mahal!

| 4 menit baca |Sorotan | 9 dibaca

MOJOKERTO – Kalau dengar berita “kemiskinan turun”, biasanya kita langsung kebayang suasana riang: rakyat tersenyum, ekonomi menggeliat, dan pasar penuh dengan ibu-ibu bahagia yang bisa beli cabai segunung tanpa mikir.

Sayangnya, realitas di Mojokerto tahun 2025 ini agak lain. Memang benar, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Mojokerto turun menjadi 8,79 persen. Tapi jangan buru-buru ngibarin bendera kemenangan dulu. Ada detail penting yang sering luput dari sorotan: garis kemiskinan ikut naik.

#Statistik yang Bikin Tenang, Tapi Dompet yang Bikin Deg-degan

BPS datang dengan angka-angka yang terdengar indah: kemiskinan menurun. Biasanya, itu jadi bahan pidato pejabat. Biar ada konten buat acara seremonial, lengkap dengan kalimat pamungkas, “Mojokerto makin sejahtera.”

Tapi, kalau mau jujur, di balik angka indah itu ada kenyataan pahit. Garis kemiskinan alias ambang minimal untuk disebut miskin naik. Kalau dulu orang dengan penghasilan Rp550 ribu per bulan masih dianggap “pas-pasan”, sekarang standar minimumnya naik jadi sekitar Rp600 ribuan.

Artinya, miskin di Mojokerto itu udah kayak naik kelas. Lebih mahal, lebih menantang, tapi tetap sama-sama bikin kepala pusing.

#Pasar Jadi Tolak Ukur Paling Jujur, Kemiskinan Jadi Klub Eksklusif

Beda dengan grafik dan tabel, pasar tradisional Mojokerto bisa jadi cermin paling jujur kondisi ekonomi.

Harga beras? Naik.
Harga cabai? Jangan ditanya, bisa bikin jantung copot.
Harga LPG? Bikin bapak-bapak mendadak ahli strategi keuangan keluarga.

Jadi, meskipun angka kemiskinan turun, tapi di warung tepi jalan tetap ada ibu-ibu yang terpaksa menukar lauk ayam dengan tahu tempe.

Sementara itu, bapak-bapak nongkrong di pos ronda masih suka ngutang kopi atau rokok ke warung tetangga. Kalau ditagih, jawabannya klise tapi menusuk: “Nunggu gajian, Bu.” Padahal gajian cuma lewat sebentar buat bayar utang bulan lalu.

Dengan naiknya garis kemiskinan, ada fenomena unik: miskin di Mojokerto sekarang jadi lebih eksklusif.

Bayangkan, kalau kamu masih bisa makan ayam goreng tiap minggu, selamat, kamu belum miskin versi BPS. Tapi jangan senang dulu, karena bisa jadi statusmu “pra-miskin” alias ngantri giliran.

Lucunya, status miskin ini jadi semacam prestasi. Kalau berhasil hidup dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan tapi tetap bisa beli kuota buat nonton TikTok, itu bukan sekadar bertahan hidup, tapi skill kelas dunia.

#Pemerintah Happy, Warga Tetap Hectic

Pemerintah biasanya bahagia dengan laporan BPS. Angka kemiskinan turun = citra baik = bahan kampanye gratis. Tapi rakyat jelata tahu, yang turun itu cuma angka di kertas, bukan beban hidup sehari-hari.

Ibarat diet: di catatan timbangan turun 3 kilo, tapi di kaca kamar mandi badan masih sama aja.

Pejabat bisa bilang, “Masyarakat Mojokerto makin sejahtera.” Tapi di lapangan, banyak keluarga masih harus mikir keras buat makan tiga kali sehari.

#Jadi Kaya Itu Makin Sulit, Jadi Miskin Pun Butuh Modal

Ironinya, di Mojokerto sekarang jadi kaya itu makin susah, tapi jadi miskin pun butuh modal. Biaya hidup naik, sementara pendapatan warga biasa stagnan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Petani masih pusing dengan harga pupuk. Buruh pabrik masih jungkir balik dengan UMR yang nggak seberapa. Pedagang kecil harus tahan banting bersaing dengan toko online.

Kalau gaji bulanan kalah cepat dengan laju harga kebutuhan pokok, lama-lama masyarakat bisa merasa: “Lho, kok bertahan hidup di Mojokerto ini mirip main game survival?”

#Humor Hitam dari Dapur Rumah Tangga

Kalau mau ditarik ke level rumah tangga, kondisi ini memunculkan banyak humor hitam.

  • Menu harian berubah: yang dulu nasi + ayam, sekarang nasi + sayur, minggu depannya nasi + lauk imajinasi.
  • Kulkas makin sepi: isi kulkas bukan lagi makanan, tapi semangat dan doa.
  • Anak minta jajan: orang tua jawab, “Nanti kalau bapak naik pangkat jadi presiden.”

Humor-humor itu lahir bukan karena masyarakat Mojokerto nggak serius menghadapi hidup, tapi justru karena mereka terlalu serius sampai butuh tawa buat bertahan.

#Siapa yang Layak Dapat Medali?

Kalau ada penghargaan “Atlet Ketahanan Kemiskinan”, warga miskin Mojokerto paling layak dapat medali emas. Bayangkan, mereka bisa bertahan dengan penghasilan minim, tetap sekolahin anak, masih bayar listrik, dan kadang masih sempat traktir istri gorengan.

Itu level multitasking yang bahkan pejabat sekalipun belum tentu bisa jalani.

#Apakah Mojokerto Benar-Benar Sejahtera?

Pertanyaan besarnya: dengan angka kemiskinan turun tapi garis kemiskinan naik, apakah Mojokerto benar-benar menuju sejahtera?

Jawabannya tergantung siapa yang bicara.

  • Kalau pejabat: “Iya, tentu saja. Lihat datanya.”
  • Kalau emak-emak di pasar: “Sejahtera apanya, beras aja naik terus.”
  • Kalau bapak-bapak di pos ronda: “Sejahtera itu kalau bisa ngopi tanpa ngutang.”

#Selamat, Miskin Jadi Premium

Akhirnya, kita harus akui, data BPS memang berguna. Tapi jangan sampai angka-angka itu bikin kita tutup mata dari kenyataan. Kemiskinan di Mojokerto memang turun, tapi garis kemiskinan yang naik bikin “status miskin” makin mahal.

Kalau besok ada pejabat bilang, “Selamat, Mojokerto makin sejahtera,” warga boleh jawab dengan satire khas mereka:

“Iya, Pak. Sekarang miskin udah level premium. Bedanya, kalau dulu susah makan dibilang miskin, sekarang susah makan masih dianggap belum miskin.”

Dan di situlah letak ironinya. ***

 

Fio Atmaja, jurnalis di Mojokerto berkontribusi atas artikel ini | Editor: Supriyadi

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *