Lewati ke konten

Anggun Berbalut Batik Jombang, Yuliati Warsubi Sabet Tiga Terbaik di Batik In Motion 2026

| 4 menit baca |Rekreatif | 3 dibaca
  • Tiga terbaik di Batik In Motion Probolinggo diraih Yuliati Warsubi lewat pesona batik Jombang.
  • Yuliati Warsubi sukses memukau Batik In Motion Probolinggo dengan mengenakan busana batik khas Jombang.
  • Karya UMKM Jombang berhasil menyabet tiga penampilan terbaik pada perhelatan Batik In Motion 2026.
  • Ajang Batik In Motion 2026 di Probolinggo sukses catatkan rekor MURI tari kolosal tradisional.
  • Gaun batik Jombang karya UMKM lokal tampil modern dan raih prestasi di Kota Probolinggo.

 

KEHADIRAN Yuliati Nugrahani Warsubi memukau panggung Batik In Motion 2026 di Kota Probolinggo. Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang tersebut sukses mempromosikan busana batik khas daerahnya. Karya lokal itu dinobatkan sebagai salah satu penampilan busana terbaik. Sinergi UMKM Jombang pun berhasil mencuri perhatian banyak pasang mata. Perhelatan budaya ini makin semarak lewat pemecahan rekor dunia MURI.

Perhelatan Ladies of Batik dalam rangkaian Batik In Motion 2026 di Kota Probolinggo pada Jumat, 4 September 2026, menjadi panggung pembuktian karya daerah. Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, sukses masuk dalam jajaran tiga penampilan terbaik.

Yuliati tampil memikat dalam balutan busana produk kerajinan UMKM asal Jombang. “Alhamdulillah, bersyukur bisa menjadi bagian dari Batik In Motion 2026 di Probolinggo dan membawa cerita tentang batik Jombang,” ujar Yuliati dikutip dari akun instagramnya, @yuliatiwarsubi_, yang diunggah, Jumat, (5/9/2026).

Acara ini semakin spektakuler dengan catatan rekor dunia MURI untuk pagelaran tari kolosal line dance berbusana tradisional yang melibatkan 2.705 peserta. Pihak penyelenggara menyatakan keberhasilan ajang ini membawa dampak positif bagi promosi budaya Jawa Timur.

Yuliati Nugrahani Warsubi tampil membawa batik Jombang dalam Ladies of Batik, Batik In Motion 2026. | Foto: @yuliatiwarsubi_

 

Yuliati menegaskan bahwa apresiasi ini didedikasikan penuh untuk para pelaku industri kreatif di daerahnya. “Lebih bahagia lagi ketika karya yang kita kenakan mendapat apresiasi dan masuk tiga terbaik. Terima kasih untuk para perajin, desainer, dan pelaku UMKM yang terus berkarya,” tutur Yuliati.

BACA JUGA:  PLN vs Warga Jombang: Lubang di KWH, Lubang di Keadilan yang Selalu Menimpa Kaum Lemah

Kemenangan ini diharapkan mampu mengangkat nama perajin lokal ke tingkat yang lebih tinggi. Yuliati menyampaikan harapannya agar batik Jombang semakin dikenal, dicintai, dan dekat dengan generasi muda.

#Inovasi Desain Modern dan Storytelling

Busana yang dikenakan Yuliati memperlihatkan adaptasi batik Jombang agar tampil lebih segar dan relevan. Motif flora berpadu harmonis dengan bentuk fauna yang ekspresif, lalu dikemas menjadi setelan feminin nan modern.

Perpaduan warna yang dipilih membuat kain tradisional ini terasa pas dengan selera anak muda. “Batik Jombang tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang kaku atau konvensional. Dengan kreativitas desainer lokal, kain batik dapat diolah menjadi busana yang lebih modern, anggun, dan sesuai dengan berbagai kesempatan,” jelas Yuliati.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Bagi saya, memakai batik Jombang adalah tentang menghargai karya, memberi ruang bagi para perajin dan desainer kita, sekaligus menunjukkan bahwa Jombang punya identitas yang pantas dibawa ke mana saja, ” ujar lulusan IKIP PGRI Surabaya ini.

Pendekatan visual ini dinilai efektif mengubah pandangan masyarakat terhadap kain batik. Yuliati mengungkapkan bahwa warna dan desain modern membuat batik cocok untuk gaya santai anak muda namun tetap berkarakter.

Yuliati Nugrahani Warsubi bersama peserta Batik In Motion 2026, mengenakan busana khas Jombang di Probolinggo. | Foto: @yuliatiwarsubi_

Semangat tersebut sejalan dengan konsep Batik Storytelling — “Satu Batik, Satu Cerita” yang diusung ajang Batik In Motion 2026. Peserta tidak hanya memperagakan busana, tetapi juga menceritakan makna motif serta identitas UMKM pembuatnya.

#Langkah Nyata Mengangkat Karya Lokal

Penguatan produk lokal dinilai harus dimulai dari tindakan nyata sehari-hari. Yuliati menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mempromosikan hasil karya daerah sendiri secara konsisten.

BACA JUGA:  Motor Baru untuk Kepala Desa di Jombang, Jalan Lama untuk Warga: “Desa Mantra” yang Terlalu Magis

Pilihan untuk mengenakan busana buatan perajin daerah merupakan bentuk dukungan langsung bagi ekonomi kerakyatan. “Yang penting kita mulai dari diri sendiri. Pakai produk Jombang, kenalkan produk Jombang, dan beri kesempatan para pelaku UMKM kita untuk berkembang,” tegas Yuliati.

Langkah Yuliati di Probolinggo menjadi cerminan nyata dari komitmen pemberdayaan UMKM tersebut. Kehadiran busana Jombang di panggung regional membuktikan kualitas karya daerah yang mampu bersaing secara estetika.

Melalui ajang ini, batik Jombang tampil utuh sebagai identitas budaya sekaligus produk ekonomi kreatif yang siap menjangkau pasar yang lebih luas. Pengamat fashion lokal menilai strategi promosi berbasis narasi ini akan mempercepat regenerasi pencinta batik di Indonesia.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *