Lewati ke konten

Tekan Pencemaran Kali Tebu, ECOTON Edukasi Warga Simokerto Surabaya Olah Sampah Organik

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Tim Mozaik ECOTON mendorong warga Simokerto mengolah sampah organik untuk menekan pencemaran Kali Tebu.
  • Sampah organik mendominasi timbunan Kali Tebu dan berpotensi mengganggu kesehatan lingkungan warga.
  • Warga Simokerto mendapat pelatihan membuat eco-enzyme dan kompos dari sampah rumah tangga.
  • Edukasi pengelolaan sampah organik diarahkan untuk mengurangi beban pencemaran Kali Tebu.
  • ECOTON meminta warga mulai mengolah sampah rumah tangga sebelum mencemari lingkungan sekitar.

Penulis: Ferlita Aurelia Wijaya, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), yang berlangsung pada 31 Agustus – 11 Desember 2026.

DOMINASI sampah organik menjadi perhatian dalam pencemaran Kali Tebu. Kondisi tersebut mendorong Tim Mozaik bentukan ECOTON mengedukasi warga Simokerto, Surabaya.

Kegiatan berlangsung Selasa (8/9/2026), dengan materi pengolahan sampah rumah tangga. Warga diperkenalkan pada pembuatan kompos dan eco-enzyme secara sederhana.

Senki Desta Galuh dari Divisi Pengelolaan Sampah Organik MOZAIK menekankan pentingnya pengelolaan sejak rumah. Menurutnya, sampah organik harus ditangani sebelum menimbulkan persoalan lingkungan.

“Jangan malas untuk bergerak menangani sampah organik di lingkungan,” kata Galuh. Ia mendorong warga mengolah sampah yang dihasilkan sendiri menjadi kompos.

Pengelolaan tersebut dinilai penting karena sampah organik mudah membusuk. Sampah yang tidak tertangani juga dapat menimbulkan bau dan mengundang organisme pengganggu.

Karena itu, edukasi diarahkan pada perubahan kebiasaan masyarakat. Warga didorong mengurangi sampah yang berakhir di lingkungan terbuka.

Senki Desta Galuh dari Divisi Pengelolaan Sampah Organik MOZAIK memberikan keterangan kepada penulis mengenai pengolahan sampah organik. | Foto: Zidan Abdillah.

#Warga Belajar Membuat Eco-Enzyme

Dalam kegiatan tersebut, Tim Mozaik memperagakan pengolahan sampah organik. Bahan rumah tangga yang tersedia dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan eco-enzyme.

Warga juga mendapatkan penjelasan mengenai pengolahan kompos. Kedua metode tersebut menjadi pilihan pengurangan sampah organik dari sumbernya.

Eco-enzyme dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Produk hasil pengolahan dapat digunakan sebagai cairan pembersih dengan pengolahan tepat.

Bahan hasil pengolahan juga dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan. Di antaranya bahan sabun, lilin, aromaterapi, serta pupuk.

Galuh mengingatkan warga memperhatikan kebersihan selama proses pengolahan. Sanitasi menjadi bagian penting untuk mencegah kontaminasi bahan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Proses pembersihan bahan baku menjadi syarat mutlak,” ujar Galuh. Menurutnya, kebersihan menentukan keamanan proses pengolahan bahan organik.

Edukasi tersebut sekaligus mengenalkan konsep pemilahan sampah rumah tangga. Sampah organik dipisahkan agar dapat diolah sesuai karakteristiknya.

Warga Simokerto menunjukkan hasil pengolahan eco-enzyme sebagai upaya memanfaatkan sampah organik rumah tangga. | Foto: Zidan Abdillah

#Dari Rumah untuk Menekan Pencemaran

Antusiasme warga terlihat ketika mengikuti praktik pengelolaan sampah organik. Sejumlah warga mencoba langsung tahapan pembuatan eco-enzyme.

Tim Mozaik berharap pengetahuan tersebut diterapkan secara konsisten di rumah. Pengelolaan dari sumber dinilai dapat mengurangi sampah menuju Kali Tebu.

Persoalan sampah di kawasan sungai tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Sampah yang menumpuk juga dapat mengganggu kebersihan permukiman dan kenyamanan warga.

Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting pengurangan sampah. Warga dapat memulai dari pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga.

Langkah tersebut juga mengurangi ketergantungan terhadap pembuangan sampah terbuka. Sampah organik yang diolah tidak langsung menjadi beban lingkungan sekitar.

ECOTON meminta masyarakat mengambil tanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Upaya tersebut diharapkan berkembang menjadi kebiasaan bersama di Simokerto.

“Setidaknya kalian bisa mengolahnya menjadi kompos,” kata Galuh. Ajakan tersebut menjadi penutup kegiatan edukasi pengelolaan sampah organik.

Tim Mozaik berharap praktik pengolahan terus dilakukan setelah kegiatan berakhir. Konsistensi warga menjadi kunci menjaga lingkungan sekitar Kali Tebu.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *