Lewati ke konten

CNN Indonesia dan Sulap Upah: Pekerja Menang, Kopi Tetap Panjang Menunggu Episode Berikutnya

| 4 menit baca |Sorotan | 8 dibaca

SURABAYA – Kalau Anda kira bekerja di media cuma soal menulis berita viral dan minum kopi artis, salah besar. Ternyata, di balik layar kaca CNN Indonesia, ada pertunjukan sulap jalanan profesional: uang pekerja bisa hilang… dan muncul lagi, tapi hanya setelah drama hukum yang panjang dan sedikit humor pahit.

Ya, drama ini dimulai ketika manajemen CNN Indonesia memutuskan memotong upah jurnalis secara sepihak. Tidak pakai alasan klise seperti “efisiensi” atau “kondisi perusahaan”, tapi langsung saja—abrakadabra, gaji ilang. Untungnya, Miftah Faridl, jurnalis veteran yang sudah bertahan sejak 2015, tak mau tinggal diam.

 #Petisi, Serikat, dan Sulap Ekonomi

Juli 2024, 201 pekerja CNN Indonesia bikin petisi. Mereka mempertanyakan kenapa gaji dipotong tanpa prosedur. Bagi manajemen, ini mungkin cuma “trik sulap kecil”—menghilangkan uang, menunggu pekerja diam. Tapi pekerja tak diam.

Faridl dan kawan-kawan mendirikan serikat pekerja, dan tentu, seperti semua drama sinetron, ada efek samping: pemecatan. Ya, mempertahankan hak sendiri ternyata berisiko kantong kering. Sulap ekonomi ala manajemen CNN berhasil menakut-nakuti sebagian pekerja, tapi tidak untuk Faridl.

“Bayangkan, pekerja berjuang untuk haknya, harus melewati represi dan kekerasan ekonomi,” kata Faridl. “Seolah-olah keberanian dibayar mahal—dalam bentuk PHK dan pemotongan upah.”

 # Solidaritas, Senjata Anti-Sulap

Kalau pesulap jalanan butuh trik tangan yang cepat, pekerja CNN Indonesia punya solidaritas. Salawati dari Komite Advokasi Jurnalis (KAJ) Jatim menjelaskan, kemenangan Faridl bukan soal angka uang, tapi tentang teladan.

“Putusan ini bukan sekadar bukti perlakuan tidak prosedural. Ini penguat bagi mereka yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, meski hukum kadang disimpangi,” ujar Salawati.

Faridl menambahkan: “Ini bukan sekadar uang. Ini pelajaran. Bahwa manajemen harus sadar, mereka salah. Dan sulap itu tidak selalu berhasil.”

#Drama Pengadilan vs Sinetron

Kalau Anda pikir sidang itu membosankan, Anda belum melihat mini-seri ini. Sidang pertama PHK sepihak Faridl digelar pada 22 September 2025 di Surabaya. Tim hukum lengkap: Salawati, Fatkhul Khoir, Johanes Dipa Widjaja, Mahendra Suhartono, Inggrit Carolina Nafi, dan Shannon Spencer Mulianto, semua bekerja pro bono.

Bayangkan adegannya: Faridl sebagai protagonis, manajemen CNN sebagai antagonis yang jago sulap, hakim sebagai narator yang sesekali menghela napas, dan tim hukum sebagai sidekick super-solid. Drama ini lengkap dengan intrik, sindiran, dan sedikit humor pahit.

#Rp 3.045.900, Uang atau Simbol Kemenangan?

Akhirnya, uang yang dipotong—Rp 3.045.900—kembali ke tangan Faridl. Tidak banyak, tapi cukup untuk jadi simbol: saat pekerja bersatu, keadilan bisa ditegakkan. Bagi manajemen CNN Indonesia, jumlah ini mungkin cuma setara biaya makan siang CEO mereka, tapi bagi Faridl, itu adalah trophy kecil dalam perang anti-sulap ekonomi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tujuh pekerja lain di Jakarta juga masih menunggu giliran. Mereka menghadapi kasus pemotongan upah dan PHK sepihak, sekaligus dugaan union busting yang sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Seolah mini-seri ini punya spin-off: episode-episode berikutnya masih menunggu, lengkap dengan plot twist, antagonis yang licik, dan sidekick pekerja yang tak kenal menyerah.

Kalau ingin sedikit dramatis: bayangkan meja kerja di CNN Indonesia sebagai panggung sulap. Uang pekerja menghilang begitu saja, lalu muncul kembali—kadang di tempat yang tak terduga, kadang hanya setelah sidang panjang. Tapi di balik semua itu, ada pesan pedas terselubung: jangan pernah meremehkan pekerja yang bersatu. Sulap sepihak bisa digagalkan, hukum bisa menjadi trik paling ampuh, dan solidaritas adalah mantra yang tak bisa diabaikan.

Dan tentu saja, di tengah semua drama ini, kopi hitam panjang dan catatan hukum tetap menjadi teman setia: karena pertunjukan sulap manajemen hanya berhenti ketika pekerja tidak lagi diam—dan itulah babak kemenangan yang sesungguhnya.

 #Pelajaran dari Dunia Media

Kalau ada yang bilang bekerja di media itu glamor, mereka belum merasakan pemotongan upah sepihak dan PHK tanpa ampun. Kemenangan Faridl dan kawan-kawan bukan soal uang—tapi tentang keberanian, solidaritas, dan sedikit sarkasme terhadap sistem yang kadang terlalu percaya pada sulap sendiri.

Ini juga pelajaran bahwa jurnalis, meski setiap hari menulis tentang “keadilan”, kadang harus memperjuangkan keadilan untuk diri sendiri. Dan ketika sulap manajemen gagal, hukum bisa menjadi trik paling manjur.

Dan jangan salah, drama ini juga menunjukkan sisi absurd dunia media: di satu sisi, jurnalis mengulas ketidakadilan, tapi di sisi lain, mereka sendiri jadi korban trik sulap manajemen. Seolah-olah newsroom adalah sirkus mini, di mana pekerja adalah penonton sekaligus pemain, dan setiap sidang pengadilan adalah atraksi utama yang mengingatkan: tidak ada sulap yang lebih kuat daripada solidaritas dan keberanian untuk menuntut hak sendiri.

 #Kopi Hitam, Sidang, dan Senyum Pedas

Di dunia media, berita besar tidak selalu datang dari layar kaca. Kadang, berita besar lahir dari meja kerja, tim hukum yang menolak sulap sepihak, dan pekerja yang bersatu. Faridl dan kawan-kawan membuktikan: jika solidaritas adalah senjata, hukum adalah tameng, dan humor pahit adalah bumbu, sulap manajemen bisa digagalkan.

Dan tentu, sambil menunggu episode berikutnya, kopi hitam panjang siap menemani—karena drama di dunia nyata lebih pedas daripada drama di layar kaca.***

 

Salawati, Ketua Komite Advokasi Jurnalis (KAJ) Jawa Timur dan Andre Yuris, Ketua AJI Surabaya, berkontribusi atas artikel ini dan narahubung: kaj[dot]jatim@gmail[dot]com| Supriyadi, penyunting rilis dan editor artikel.

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *