Lewati ke konten

MIMO – SARKA SPACE Ungkap Pencemaran Mikroplastik dan Fosfat Belasan Lipat di Sampean Baru Bondowoso

| 9 menit baca |Mikroplastik | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Bendungan Sampean Baru Bondowoso tercemar mikroplastik dan fosfat hingga 19,5 kali lipat. Temuan tim MIMO ECOTON ini mengancam ekosistem perairan serta kesehatan masyarakat lokal.
  • Riset Hari Sungai Sedunia membongkar ancaman bahaya di Bendungan Sampean Baru. Mikroplastik tak hanya mengkontaminasi air waduk, tetapi juga terdeteksi melayang di udara sekitar.
  • Uji laboratorium MIMO ECOTON menemukan partikel mikroplastik dan kelebihan fosfat masif di Bendungan Sampean Baru Bondowoso. Gerakan tolak plastik sekali pakai mendesak dilakukan.
  • Air Waduk Sampean Baru terkontaminasi mikroplastik dan tingginya fosfat pemicu eutrofikasi. Kolaborasi lintas sektor dibutuhkan untuk menghentikan pencemaran limbah dari wilayah hulu sungai.
  • Mengandung mikroplastik serta lonjakan fosfat berbahaya, kondisi Bendungan Sampean Baru kian mengkhawatirkan. Temuan riset ECOTON memicu seruan aksi darurat guna ulang sampah plastik.

PERINGATAN Hari Sungai Sedunia di Kabupaten Bondowoso mengungkap fakta kelam terkait kondisi ekosistem perairan lokal. Lembaga kajian ekologi ECOTON bersama komunitas Sarka Space Bondowoso dalam gelaran risetnya menemukan kondisi lingkungan yang terpapar pencemaran mikroplastik serta senyawa kimia, terutama di Bendungan Sampean Baru.

Hasil pengujian laboratorium bergerak Microplastic Mobile Laboratory (MIMO) menunjukkan perairan bendungan telah tercemar. Berdasarkan data faktual ini, temuan tersebut menjadi peringatan keras bagi kelestarian daya dukung lingkungan serta kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Melihat hasil temuan tersebut, peneliti ECOTON, Sofi Azilan, menyatakan bahwa kondisi ini merefleksikan tingginya akumulasi buangan sampah dari aktivitas harian masyarakat.

“Partikel fiber umumnya terlepas dari serat pakaian berbahan tekstil yang terbuang saat proses pencucian domestik,” ungkap Sofi dalam keterangan rilisnya, Sabtu (26/9/2026).

Sementara itu, partikel fragmen dan filamen terbentuk akibat proses pelapukan serta fragmentasi fisik produk plastik sekali pakai. Sofi menegaskan, timbulan sampah yang tak terlihat mata di permukaan waduk hanyalah bagian kecil dari ancaman pencemaran.

“Mikroplastik dapat berasal dari berbagai aktivitas manusia. Fiber dapat berasal dari pelepasan serat pakaian saat pencucian maupun material berbahan tekstil, sedangkan fragmen dan filamen dapat berasal dari pecahan atau degradasi berbagai produk plastik yang masuk ke lingkungan,” jelas Sofi. “Karena itu, sampah plastik yang kita lihat di permukaan sebenarnya hanya sebagian kecil dari persoalan,” imbuhnya.

Dalam riset ini, tim laboratorium MIMO ECOTON melakukan pengambilan sampel air di Bendungan Sampean Baru untuk mengukur sejauh mana tingkat kontaminasi plastik berukuran mikro. Dari total 10 liter sampel air yang diuji, peneliti mengidentifikasi keberadaan 25 partikel mikroplastik.

Rincian temuan partikel mencakup 11 partikel fiber, 8 partikel fragmen, serta 6 partikel filamen. Keberadaan partikel mikroskopis ini mengonfirmasi bahwa ekosistem perairan waduk telah terdegradasi oleh polimer sintetis.

Riset Perairan: Peneliti ECOTON Sofi Azilan (kiri) bersama Peneliti/Ketua Laboratorium ECOTON Rafika Aprilianti bersiap melakukan pengambilan sampel dan uji kualitas air di Bendungan Sampean Baru, Kabupaten Bondowoso, Sabtu (26/9/2026). Pengujian ini bertujuan memetakan kontaminasi mikroplastik serta parameter kimia fosfat dalam rangkaian peringatan Hari Sungai Sedunia. | Foto: Dok. Ecoton

#Temuan Mikroplastik Pada Air

Sebagaimana disampaikan, kegiatan kolaboratif ini menghadirkan lebih dari 100 peserta dari lintas sektor. Unsur pemerintah daerah, akademisi, instansi teknis, hingga relawan komunitas pecinta alam terlibat mengawal pengujian air dan udara di kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Festival Raksha Loka di Jakarta Tekan Sampah 77 Persen

Selain menyasar sampel air perairan waduk, tim MIMO ECOTON juga mengukur paparan partikel mikroplastik di udara terbuka sekitar bendungan. Pengujian dilakukan pada dua titik sampel udara ambient di kawasan waduk tersebut.

Pada sampel udara pertama, tim menemukan sebanyak 13 partikel mikroplastik yang melayang di udara. Partikel tersebut terdiri atas 4 fragmen, 2 filamen, dan 7 fiber.

Hasil pengujian pada sampel udara kedua mengonfirmasi keberadaan 7 partikel mikroplastik tambahan. Rinciannya meliputi 3 fragmen, 2 filamen, serta 2 fiber.

Data ini membuktikan bahwa polusi plastik tidak lagi terbatas pada media air dan endapan sedimen dasar bendungan semata. Partikel berukuran mikro tersebut terbukti telah beterbangan dan mencemari atmosfer di sekitar kawasan bendungan.

Fragmentasi material plastik, debu jalanan, serta serat pakaian yang terlepas di udara terbuka menjadi sumber utama pencemaran. Kondisi ini memperbesar risiko paparan partikel sintetis terhadap sistem pernapasan makhluk hidup di sekitar waduk.

Kegiatan pengujian riset lingkungan ini mendapat pengawalan ketat dari berbagai elemen instansi dan organisasi masyarakat. Kehadiran peserta yang melimpah menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap isu pencemaran sungai di Kabupaten Bondowoso.

Perwakilan instansi yang hadir antara lain BNPB Bondowoso, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial P3AKB, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kominfo, serta Bappeda dan BRIDA Bondowoso. Turut hadir UPT PSDA WS Sampean Setail, Forkopimda Bondowoso, BBWS Brantas, dan Puskesmas Tapen.

Kelompok akademisi dan pelajar juga memadati lokasi acara. Di antaranya mahasiswa Mapensa Faperta Universitas Jember, Mahasiswa Pecinta Alam Bekisar Politeknik Jember, siswa pecinta alam SMKN 4 Bondowoso, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3 Bondowoso, SMKN Tapen, serta relawan masyarakat.

Rangkaian acara peringatan Hari Sungai Sedunia ini dibuka secara resmi oleh Asisten II Perekonomian dan Pembangunan, Hendri Widodo, S.Pt., M.P., yang hadir mewakili Bupati Bondowoso. Pihak pemerintah daerah menyambut positif inisiatif riset lingkungan tersebut.

Dalam pengarahannya, Hendri menegaskan bahwa penyelamatan ekosistem sungai memerlukan kerja sama padu dari seluruh elemen. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung gerakan kolaboratif agar kegiatan pemantauan sungai ini dapat terencana secara berkelanjutan.

“Kami mendukung kegiatan Hari Sungai ini karena menjaga sungai tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kegiatan seperti ini penting untuk membangun kepedulian masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi gerakan bersama untuk menjaga kualitas sungai di Bondowoso,” tegas Hendri Widodo.

#Kadar Fosfat Melampaui Batas

Di samping pengujian mikroplastik, tim ECOTON bersama para relawan melakukan analisis parameter kualitas air di tiga titik sampling Bendungan Sampean Baru. Parameter yang diuji meliputi kadar fosfat, derajat keasaman (pH), Total Dissolved Solids (TDS), serta tingkat warna air.

BACA JUGA:  Mobil Laboratorium Ecoton Latih 50 Kader Lingkungan SMAN 1 Driyorejo Kaji Mikroplastik

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Hasil pengukuran laboratorium mencatat data kondisi air pada masing-masing titik sampling sebagai berikut:

  • Titik 1 (Air Sungai Tapen yang masuk ke bendungan):
    • Fosfat: 1,6 ppm
    • pH: 8,76
    • TDS: 204 mg/L
    • Warna: 40 PCU
  • Titik 2 (Air waduk yang keluar menuju aliran sungai):
    • Fosfat: 1,9 ppm
    • pH: 7,87
    • TDS: 205 mg/L
    • Warna: 5 PCU
  • Titik 3 (Bagian tengah waduk Sampean Baru):
    • Fosfat: 3,9 ppm
    • pH: 7,60
    • TDS: 207 mg/L
    • Warna: 35 PCU

Berdasarkan regulasi baku mutu air waduk yang berlaku, ambang batas maksimum kadar fosfat ditetapkan sebesar 0,2 ppm, TDS 1.000 mg/L, warna 50 PCU, serta pH berada pada rentang 7–9.

Dari perbandingan data tersebut, nilai TDS, warna, dan pH secara umum masih berada di dalam koridor standar baku mutu. Namun, parameter fosfat di seluruh titik pengambilan sampel terbukti telah melebihi ambang batas aman yang diperbolehkan.

Konsentrasi fosfat tertinggi ditemukan pada bagian tengah waduk, yakni mencapai angka 3,9 ppm. Nilai ini tercatat melonjak hingga 19,5 kali lipat melebihi standar baku mutu lingkungan sebesar 0,2 ppm.

Peneliti ECOTON, Rafika Aprilianti, menegaskan bahwa lonjakan parameter fosfat merupakan ancaman serius bagi kelangsungan ekosistem perairan. Fosfat berperan sebagai unsur hara utama yang memicu ledakan populasi tumbuhan air secara masif.

“Dari tiga titik yang kami uji, kadar fosfat semuanya sudah melebihi baku mutu, bahkan di titik tengah waduk mencapai 3,9 ppm. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena kelebihan nutrien seperti fosfat dapat mendorong proses eutrofikasi dan memicu pertumbuhan tumbuhan air secara berlebihan. Di Bendungan Sampean Baru juga terlihat keberadaan eceng gondok di permukaan air yang perlu dipantau perkembangannya,” terang Rafika Aprilianti.

PEMAPARAN JALUR PAPARAN: Peneliti sekaligus Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti (kanan), menjelaskan papan infografis mengenai jalur paparan mikroplastik ke dalam tubuh manusia kepada para peserta kegiatan Hari Sungai Sedunia di kawasan Bendungan Sampean Baru, Kabupaten Bondowoso, Sabtu (26/9/2026). | Dok. Ecoton

Rafika merinci bahwa tingginya akumulasi fosfat dipicu oleh maraknya buangan limbah dari wilayah tangkapan air waduk. Limbah cair domestik, sisa deterjen rumah tangga, limpasan pupuk kimia lahan pertanian, serta buangan usaha peternakan menjadi kontributor utama pencemaran.

Oleh karena itu, upaya penanggulangan tidak dapat hanya bertumpu pada pembersihan di badan air waduk belaka. Penanganan komprehensif harus dimulai dari pengawasan sumber-sumber pencemar di area hulu dan pemukiman warga sekitar bendungan.

“Solusinya adalah mengurangi masuknya limbah yang mengandung nutrien ke badan air, memperbaiki pengelolaan air limbah domestik, mendorong penggunaan deterjen yang lebih ramah lingkungan, mengendalikan limpasan pupuk dari lahan pertanian, serta melakukan pemantauan kualitas air secara berkala. Data kualitas air perlu menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk menentukan sumber pencemar dan langkah pengendaliannya,” papar Rafika lebih lanjut.

BACA JUGA:  Riset Mahasiswa Unesa: Komunitas Plankton Berubah, Oksigen Kali Surabaya Kritis

#Dari Riset Aksi Bersama

Usai menuntaskan pengujian parameter air dan mikroplastik, seluruh peserta berkumpul untuk berdiskusi interaktif membahas hasil temuan laboratorium. Diskusi tersebut kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata pembersihan sampah di sepanjang pesisir Bendungan Sampean Baru.

KAMPANYE BEBAS PLASTIK: Koordinator Refill Reuse System ECOTON Jofanny Ahmad (ketiga dari kanan) bersama peserta dan relawan membentangkan poster kampanye perlindungan sungai di depan Mobil Laboratorium Mikroplastik (MIMO) pada peringatan Hari Sungai Sedunia di kawasan Bendungan Sampean Baru, Kabupaten Bondowoso, Sabtu (26/9/2026). Aksi ini menyerukan penghentian penggunaan plastik sekali pakai demi memulihkan kualitas perairan sungai. | Dok. Ecoton

Warga Desa Sumberwringin, Muhammad Alfin Kafabihi, yang hadir sebagai peserta aksi menegaskan pentingnya integrasi antarlembaga. Menurutnya, temuan sains berupa data laboratorium harus segera ditindaklanjuti dengan langkah taktis di lapangan.

“Menjaga sungai tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah, masyarakat, komunitas, sekolah, kampus, dan dunia usaha harus bisa duduk bersama karena masing-masing memiliki peran. Data dan kondisi lingkungan yang kita lihat hari ini seharusnya menjadi dasar untuk bergerak bersama,” tutur Muhammad Alfin Kafabihi.

Selama aksi bersih-bersih berlangsung, para relawan berhasil mengumpulkan timbulan sampah dalam jumlah besar. Jenis sampah yang mendominasi kawasan pesisir waduk tersebut adalah limbah plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, sedotan, serta kemasan sachet.

Sementara itu, Koordinator Refill Reuse System ECOTON, Jofanny Ahmad, menyampaikan keprihatinannya atas tingginya volume limbah kemasan di area perairan. Jofanny menekankan pentingnya pergeseran perilaku konsumsi masyarakat dari sistem sekali pakai menuju budaya guna ulang.

“Sampah yang kita temukan hari ini menunjukkan bahwa plastik sekali pakai masih menjadi bagian besar dari konsumsi sehari-hari. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah beralih dari budaya sekali pakai menjadi budaya guna ulang atau reuse. Membawa tumbler, wadah makan, dan menggunakannya secara berulang adalah langkah awal,” ungkap Jofanny Ahmad.

Melihat ancaman pencemaran mikroplastik yang makin mengkhawatirkan, tim MIMO bersama ECOTON menyerukan Gerakan Tolak Plastik Sekali Pakai. Edukasi ini diberikan agar masyarakat dapat menghentikan pencemaran dari rantai terdepan, yakni perilaku konsumsi harian.

Rafika Aprilianti menegaskan kembali bahwa partikel mikroplastik di alam merupakan hasil rekah atau protolan dari produk plastik sekali pakai yang terdegradasi. Memutus rantai penggunaan plastik sekali pakai menjadi syarat mutlak jika ingin memulihkan kualitas air sungai.

“Karena mikroplastik berasal dari protolan plastik sekali pakai, maka kita harus mulai stop gunakan plastik sekali pakai agar sungai dan perairan terbebas dari mikroplastik,” tegas Rafika Aprilianti di akhir kegiatan.

Dalam ajakan tersebut, tim ECOTON merinci 8 jenis produk plastik sekali pakai yang wajib dihindari oleh masyarakat demi menyelamatkan lingkungan:

  1. Tas plastik kresek
  2. Kemasan makanan dan minuman sasetan
  3. Wadah styrofoam
  4. Sedotan plastik
  5. Air minum dalam kemasan (AMDK) plastik sekali pakai
  6. Gelas kertas (berlapisan plastik)
  7. Mikrobeads dalam produk skincare atau kosmetik
  8. Popok plastik dan pembalut wanita sekali pakai

Melalui gerakan kolaboratif ini, data riset ilmiah diharapkan tidak hanya berhenti di atas kertas laporan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk membebaskan Bendungan Sampean Baru dari belenggu pencemaran mikroplastik dan fosfat.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *