Lewati ke konten

BEM POLWANGI Gelar Diskusi Film Merawat Kesadaran Kritis Mahasiswa di Banyuwangi

| 3 menit baca |Reportase | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • BEM POLWANGI sukses menggelar nobar film dokumenter di Rogojampi. Agenda ini menjadi wadah mahasiswa Banyuwangi untuk merawat ingatan dan mengasah nalar kritis bersama.
  • Menolak bungkam, puluhan mahasiswa lintas kampus di Banyuwangi berkumpul menggelar diskusi film. Aksi ini menjadi momentum refleksi perjuangan demokrasi dan kebebasan berpendapat.
  • Mengangkat isu kebebasan berekspresi, BEM POLWANGI manfaatkan media film dokumenter guna mempertajam analisis sosial mahasiswa terhadap berbagai kebijakan kampus maupun pemerintah daerah.
  • Lewat pemutaran film dan refleksi September Hitam, mahasiswa Banyuwangi diajak terus berpikir kritis. Forum ini menegaskan peran pemuda sebagai agen perubahan di masyarakat.
  • Kolaborasi BEM POLWANGI dan BRKS Banyuwangi hadirkan ruang dialog interaktif. Pemutaran film dokumenter ini sukses membakar semangat kesadaran kritis generasi muda setempat.

BADAN Eksekutif Mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (BEM POLWANGI) menggelar pemutaran film dokumenter. Kegiatan berlangsung di Cafe Jalan Sukses, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi. Acara pada Rabu malam, 30 September 2026.

Pemutaran film berjudul MAKin Ditekan Makin Melawan menjadi agenda utama. Kegiatan melibatkan mahasiswa lintas kampus dan organisasi mahasiswa ekstra, serta Building Resilience Kindness Society (BRKS) Banyuwangi.

Rangkaian acara dimulai dengan registrasi peserta dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Moderator memberikan pengantar mengenai latar belakang kegiatan sebelum pemutaran film. Panitia mengajak seluruh peserta menjadikan forum ini sebagai ruang belajar bersama.

Wakil Presma BEM POLWANGI, Edo, menjelaskan tujuan utama dari penyelenggaraan kegiatan dengan pemutaran film ini dapat mengasah daya kritis para mahasiswa.

“Kami ingin film ini sebagai bagian dari ruang belajar bagi para mahasiswa,” ujar Edo. Ia menambahkan bahwa mahasiswa harus terus mengembangkan nalar berpikir di kampus maupun masyarakat.

“Mahasiswa harus mampu sebagai agen of change di lingkungan akademik kampus maupun di masyarakat, “ tegas Edo.

BACA JUGA:  Aksi Selamatkan Hiu: Dari Budidaya Lele ke Kecerdasan Buatan – Kisah Pemuda Banyuwangi yang Bikin Laut Lebih Cerdas
Suasana Peserta: Sejumlah mahasiswa dan peserta antusias mengikuti jalannya acara Nonton Bareng serta Diskusi Film Dokumenter “Makin Ditekan Makin Melawan” di Cafe Jalan Sukses, Desa Gitik, Rogojampi, Rabu (30/09/2026) malam. Kegiatan yang digagas BEM POLWANGI bersama BRKS ini menjadi wadah konsolidasi gagasan dan penguatan nalar kritis pemuda di Banyuwangi. | Dok. BRKS

Ruang Refleksi Demokrasi Mahasiswa

Acara dilanjutkan dengan sesi refleksi momentum September Hitam secara mendalam. Sesi ini bertujuan mengingat sejarah perjuangan demokrasi dan keadilan di Indonesia. Penyelenggara menutup rangkaian kegiatan dengan menyanyikan lagu nasional Indonesia Pusaka.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Edo menyatakan penutupan acara tersebut membawa harapan besar bagi generasi muda.

“Nobar dan diskusi ini kami tutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka,” ungkap Edo, sambil mengungkapkan harapannya, bahwa pemuda sebagai penerus bangsa dapat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.

Sementera itu, Direktur Building Resilience Kindness Society (BRKS) Banyuwangi, Eka Rimawati, memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa. Menurutnya, kegiatan ini penting untuk mempertajam analisis sosial (Ansos) di lingkungan akademik.

“Kegiatan yang diprakarsai oleh adik-adik BEM POLWANGI ini sangat bagus. Ini bisa menjadi momentum bahan refleksi bagi puluhan mahasiswa progresif, agar terus kritis menganalisa kebijakan-kebijakan di lingkungan kampus terlebih di lingkungan pemerintah,”  ucap Rima.

Melalui forum diskusi ini, BEM POLWANGI memanfaatkan media film untuk membuka ruang dialog. Organisasi mahasiswa tersebut berkomitmen membangun kesadaran kritis publik secara berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *