Lewati ke konten

Keracunan MBG Tuban: Dari Program Gizi Anak Sekolah Menjadi Kepanikan IGD

| 5 menit baca |Sorotan | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

TUBAN – Kalau selama ini orang tua murid paling takut anaknya jajan ciki-cikian di depan sekolah, ternyata bahaya juga bisa datang dari makanan yang katanya sehat. Ya, itulah yang terjadi di Tuban, Rabu (24/9/2025). Enam siswa SMK Negeri Palang mengalami muntah-muntah setelah menyantap Menu Bergizi Gratis (MBG).

Bayangkan, program yang awalnya diniatkan biar anak-anak makin pintar, sehat, dan tahan banting menghadapi ujian Matematika, malah bikin mereka tumbang di kamar mandi. Alih-alih jadi generasi emas, mereka malah jadi pasien IGD.

Orang tua pun kompak minta: “Tolong dong, ini ditangani serius. Jangan cuma datang bawa plastik, foto-foto, terus pulang. Anak kami bukan figuran sinetron!”

Kronologi: Nasi Goreng yang Bikin Dilarikan ke IGD

Hari itu sekolah menyajikan 203 porsi MBG. Menunya cukup komplet: nasi goreng, telur ceplok, tahu, tempe, buah anggur, dan timun. Kalau difoto pakai filter aesthetic, menunya bisa langsung jadi konten influencer gizi: seimbang, penuh warna, sehat di atas kertas.

Ironisnya, nasi goreng yang selama ini dikenal sebagai “makanan pemersatu bangsa” justru berubah jadi biang trauma. Biasanya kalau ada yang nyeletuk, “Nasi goreng, yuk?” semua langsung angguk tanpa debat. Sekarang, orang tua murid di Tuban bisa saja nyeletuk, “Nasi goreng? Eh jangan, nanti masuk IGD.”

Dan benar saja, horornya nggak berhenti di episode pertama. Dua siswa yang sempat membaik dan pulang pada Rabu sore, keesokan harinya—Kamis (25/9/2025)—balik lagi ke IGD RSUD dr Koesma untuk perawatan intensif. Mereka adalah Hijrayatul Nasyi’in (15), warga Desa Karangagung, Kecamatan Palang, dan Siti Khoirul Nisa (16), warga Desa Wangun, Kecamatan Palang. Ceritanya kayak film horor berseri: Episode 1, muntah. Episode 2, kambuh.

Ibu dari Siti Khoirul Nisa, Juharti (52), sampai geleng-geleng. Putrinya yang malam sebelumnya terlihat membaik, tiba-tiba drop lagi pada Kamis pagi. “Kemarin malam pukul 22.00 WIB sebenarnya sudah membaik. Tapi sekitar pukul 09.00 WIB tiba-tiba mengeluh lagi, sesak napas, perut sakit, lemas,” ceritanya dikutip Kompas.

Bayangkan paniknya. Anak yang biasanya cuma ribut soal tugas sekolah, kali ini ribut soal bisa napas atau tidak.

Padahal sebelumnya, Siti nggak punya riwayat sakit serius. Pola makannya standar remaja desa: nasi, lauk sederhana, kadang jajan di warung. Normal. Nggak ada tanda-tanda bakal jadi pasien IGD hanya gara-gara sepiring nasi goreng sekolah.

#Dari Janji Higienis ke Realita Piring Sekolah

Wakil Bupati Tuban, Joko Sarwono, muncul ke publik dengan wajah serius—dan mungkin sedikit kecut—soal kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan kalau Pemkab Tuban akan memastikan kualitas, keamanan, dan kesehatan pangan. Intinya: jangan sampai anak-anak sekolah yang mestinya belajar IPA malah praktek langsung tentang “reaksi muntah massal”.

“Kami akan memastikan higienitas makanan dan minuman benar-benar terjaga sebelum disalurkan,” kata Wabup, di Ruang Dandang Wacana Setda Tuban, Jumat (26/9/2025),

Kalimatnya terasa heroik, nyaris seperti tagline iklan sabun cuci piring. Tapi ya, warga sudah kadung skeptis. Soalnya, nasi goreng yang kemarin bikin geger itu juga mestinya lewat filter “higienis” sebelum masuk ke perut siswa. Kenyataannya? Perut anak-anak lebih sibuk keluar-masuk IGD ketimbang kelas.

#Dari Dapur Sekolah, Naik Kelas ke Meja Penyidik

Konsep MBG sebenarnya cakep banget. Pemerintah ingin anak-anak sekolah nggak cuma kenyang gorengan dua ribuan atau mie instan cup, tapi benar-benar dapat gizi yang layak. Masuk akal: anak sehat = masa depan cerah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Masalahnya, niat baik ini bisa berubah jadi malapetaka kalau eksekusinya asal-asalan. Mulai dari bahan makanan yang sudah nggak segar, dapur yang ala kadarnya, sampai distribusi yang lebih mirip “ekspedisi kilat” ketimbang program gizi. Alih-alih sehat, yang ada malah jadi bumerang.

Kasus di Tuban ini buktinya. Anak-anak bukannya pulang sekolah dengan wajah sumringah karena baru belajar rumus Pythagoras, malah pulang dengan perut mules dan muka pucat. Orang tua yang awalnya bangga karena anaknya ikut program gizi, mendadak berubah panik: satu tangan pegang minyak kayu putih, tangan lain sibuk nelpon IGD terdekat.

Coba bayangkan, bukannya cerita seru soal pelajaran IPA, anak-anak malah pamer rekor muntah: “Aku tadi muntah tiga kali, kamu berapa?”

Yang bikin makin serius, Polres Tuban langsung turun tangan. Dugaan keracunan massal ini nggak lagi dianggap “cuma salah bumbu”. Kepala Satreskrim Polres Tuban, AKP Dimas Robin Alexander, bilang pihaknya sudah ambil sampel makanan—plus muntahan siswa—buat diuji di laboratorium.

“Untuk sampel sedang dilakukan uji laboratorium di Labkesda dan Labfor Polda Jatim. Hasilnya baru keluar sekitar tiga sampai lima hari ke depan,” kata Dimas, Jumat (26/9/2025).

#Anggaran Besar, Masalah Lebih Besar

Satu hal yang bikin orang tua makin gondok adalah: program MBG ini jelas nggak murah. Pemerintah menggelontorkan anggaran lumayan besar untuk memastikan menu sehat tersaji di sekolah-sekolah.

Tapi, di lapangan, pengawasan sering lemah. Audit soal kualitas bahan makanan? Jarang terdengar. Kontrol dapur dan distribusi? Kadang hanya formalitas. Yang pasti beres biasanya cuma kwitansi.

Akhirnya muncul pertanyaan klasik: “Uangnya habis di mana?” Kalau anak-anak tetap keracunan, berarti ada yang salah di rantai panjang penyediaan MBG. Sayangnya, yang sering jadi korban ya murid-murid polos itu. Mereka nggak ngerti soal anggaran, mereka cuma tahu: habis makan kok jadi mules.

Orang tua pun mulai skeptis. “Kalau kayak gini terus, mending anak saya bawa bekal sendiri deh. Nasi, telur ceplok, sama kecap. Aman, sehat, dan nggak bikin deg-degan.”

#Jangan Cuma Jadi Headline Sehari

Kasus keracunan massal di sekolah bukan sekali ini saja. Hari ini di Tuban, besok bisa Jember, lusa mungkin Surabaya. Setiap kali terjadi, media heboh memberitakan, pejabat cepat datang, janji evaluasi diucapkan. Setelah itu? Senyap. Yang kasihan jelas anak-anak, seolah dijadikan “kelinci percobaan” program pemerintah. Padahal mereka generasi penerus yang mestinya mendapat makanan bergizi sungguhan, bukan menu yang justru bikin trauma tiap jam makan siang.

Tuntutan orang tua sederhana: transparansi, pengawasan ketat, dan penanganan serius. Kalau ada kesalahan, akui. Kalau ada kelalaian, perbaiki. Jangan cuma bilang, “sudah ditangani,” padahal anak-anak masih terkapar. Karena soal gizi bukan urusan sepele, ini langsung nyambung ke kualitas generasi mendatang. Kalau dari SD sudah disuguhi makanan yang bikin sakit, bagaimana bisa berharap jadi SDM unggul 2045? Jangan-jangan malah jadi SDM “unggah-ungguh”: sopan sama pejabat, tapi jasmaninya ambrol.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *