JOMBANG – Bayangkan, Rp 2,6 triliun! Kalau duit segitu dijadikan receh Rp 500, bisa dipakai nutup semua jalan berlubang se-Jombang, plus bonus jalur tol ke bulan—biar warga nggak perlu rebutan mudik lagi.
Tapi tunggu dulu, ada bumbu tambahan. Ternyata APBD 2026 ini minus Rp 109,56 miliar alias defisit. Pemkab tetap pede, katanya sih aman terkendali. Soalnya bakal ditambal pakai SiLPA. Jangan salah paham, SiLPA di sini bukan akronim dari “Siap Lah Pak, Pasrah Aja”, tapi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran. Walau kadang rakyat mikir, kok rasanya lebih mirip yang pertama, ya?
Bupati Warsubi mantap banget ngomong, “Pemerintah daerah hadir untuk melayani rakyat secara lebih baik, lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah.” Kalimatnya rapi, lengkap, dan terdengar kayak tagline iklan kartu perdana.
Nggak cukup sampai di situ, beliau juga nambah, “Semua kebijakan 2026 berangkat dari dokumen perencanaan yang sudah disepakati, mulai RKPD, Kebijakan Umum APBD, hingga PPAS.” Lengkap banget. Rakyat yang denger di kursi belakang rapat paripurna cuma nyeletuk dalam hati: “Iyo, Pak. Asal duitnya jangan cuma mampir di baliho sama spanduk acara seremonial, yo.”
Warsubi juga bilang, APBD bukan sekadar angka, tapi instrumen penting buat nggerakké roda pembangunan. Di luar gedung, rakyat nyruput kopi sambil nyamber: “Rodane ojo ban bocor maneh, yo, Pak.”
#Sumber Duit: Pajak, Retribusi, dan… Entah Apa Lagi
Pendapatan daerah tahun depan ditargetkan Rp 2,4 triliun. Dari mana? Ya dari kantong rakyat juga, salah satunya. Pendapatan Asli Daerah (PAD) diproyeksikan Rp 760,65 miliar.
Rinciannya, pajak daerah Rp 314,04 miliar, retribusi Rp 428,04 miliar, pengelolaan kekayaan Rp 10,24 miliar, dan terakhir, lain-lain PAD yang sah Rp 8,32 miliar. Kalau dibaca cepat, angka ini mirip brosur cicilan motor, banyak nol, tapi bikin kening berkerut.
Sisanya, Pemkab berharap pada pendapatan transfer sebesar Rp 1,7 triliun. Alias, nunggu duit kiriman dari pusat. Warga yang lagi ngopi di warung pun nyeletuk: “Lha, berarti APBD iki setengahnya yo tetep ngemis ke pusat, tho?”
Bupati Warsubi tentu punya versi lebih diplomatis. Dengan nada resmi, ia menegaskan, “Pendapatan daerah harus dikelola secara bijak. Kita optimalkan PAD tanpa membebani rakyat, sambil memaksimalkan dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan Jombang.”
#Empat Fokus: Kamera Masih Blur
Warsubi dengan bangga menyebut empat fokus utama: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan UMKM. Kedengarannya heroik, tapi rakyat sudah kebal. Biasanya mereka menanggapinya sambil ngudud di gardu: “Fokus meneh, fokus meneh. Jangan janji terus ya, pak. Kayak fokus kok kayak kamera jadul, hasil e tetep burem.”
Warsubi menegaskan lagi dalam rapat, “Empat prioritas pembangunan strategis ini akan jadi fokus. Kami ingin memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.”
Janji ini tiap tahun keluar. Bedanya cuma tahun, pejabat, sama warna baliho.
#Pendidikan: Jangan Cuma Ganti Cat
Sektor pendidikan masuk gacoan pertama. Akses ditingkatkan, kualitas dinaikkan, fasilitas dibaguskan. Tapi pengalaman menunjukkan, peningkatan pendidikan sering cuma sebatas cat tembok baru warna oranye terang, sementara atap kelas masih bocor dan guru honorer tetap dihitung pakai kalkulator hutang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMurid maunya simpel: ruang kelas aman, buku gratis, dan toilet sekolah nggak lagi jadi tempat uji nyali.
#Kesehatan: Paracetamol Sejuta Umat
Kesehatan juga jadi fokus. Warsubi bilang layanan harus cepat, murah, dan gampang. Warga langsung ketawa pahit: “Lho, cepet opo, wong ngantri neng puskesmas wae iso nganti dua jam.”
Dan obatnya, ya itu-itu saja: paracetamol. Dari sakit gigi sampai sakit hati ditinggal mantan, tetap dikasih paracetamol. Kalau Rp 2,6 triliun nggak bisa bikin resep lebih variatif, mendingan langsung kerja sama sama pabrik obat itu saja.
#Infrastruktur: Jalan Rusak, Mental Baja
Siapa sih yang nggak pengin jalan mulus? Warsubi janji infrastruktur jadi prioritas. Tapi warga sudah hafal: janji ini setiap tahun nongol, hasilnya jalan tetap kayak arena motocross.
Lubang jalan sudah kayak saudara jauh: akrab, nggak bisa dihindari. Motor jadi crosser dadakan, ban bocor sudah masuk kategori “biaya rutin bulanan”.
Kalau beneran serius, Rp 2,6 triliun bisa bikin jalanan Jombang halus kayak kulit artis Korea. Tapi kalau cuma tambal sulam asal-asalan, rakyat bakal bilang APBD itu kepanjangannya: Asal Pasang Batu Duluan.
#UMKM: Usaha Mendingan Konten Meme
Terakhir, UMKM. Katanya bakal dikasih pelatihan, modal, dan akses pasar. Tapi pedagang cilok depan sekolah langsung komentar: “Akses pasar opo, rek? Wong jualan wae isih sering digusur Satpol PP.”
Pelatihan UMKM sering berakhir jadi ajang foto-foto buat laporan. Bantuan modal kadang kalah banyak dibanding limit paylater. Jadinya, UMKM jalan sendiri dengan strategi promosi pakai meme. UMKM pun punya singkatan baru: Usaha Mendingan Konten Meme.
#Rakyat Butuh Bukti, Bukan Baliho
Duit Rp 2,6 triliun itu segunung. Tapi tanpa realisasi nyata, semuanya cuma angka. Rakyat maunya sederhana: sekolah nggak bocor, puskesmas benar-benar nyembuhin, jalan mulus, UMKM bisa jualan tanpa takut digusur.
Kalau itu tercapai, rakyat bakal bilang: “Mantap, lanjutkan, Pak Bupati!” Tapi kalau nggak, ya siap-siap aja jadi bahan guyonan di warung kopi, ditemani gorengan tiga ribu dan es teh manis.***