Lewati ke konten

Bahasa Portugis Wajib di Sekolah: Diplomasi atau Basa-Basi di Meja Makan Istana?

| 5 menit baca |Sorotan | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

ISTANA MERDEKA Ruangan megah itu menjadi saksi bisu sebuah manuver linguistik yang tak terduga, yang mungkin akan mengubah nasib jutaan pelajar Indonesia, Bahasa Portugis ditetapkan sebagai salah satu bahasa prioritas yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah seantero negeri.

Demikian terdengar pengumuman datang langsung dari lisan Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto pada Kamis, 23 Oktober 2025, saat beliau menjamu tamunya yang terhormat, Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva. Momennya pas, suasananya hangat, dan mungkin chemistry antara kedua pemimpin sedang memuncak.

“Sebagai bukti kami memandang Brasil sangat penting, saya telah merumuskan bahwa bahasa Portugis akan menjadi salah satu prioritas bahasa [yang diajarkan di sekolah-sekolah],” ujar Prabowo dengan nada diplomatis nan tegas, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber yang mengendus aroma nasi kebuli Istana.

Sontak, Presiden Lula da Silva pun tersenyum lebar. Tentu saja. Siapa yang tidak bangga jika bahasanya, yang selama ini mungkin hanya dikenal lewat nama-nama pesepak bola legendaris macam Pelé atau Neymar, tiba-tiba diangkat derajatnya sejajar dengan Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Prancis, Jerman, dan Rusia, sebagaimana ditegaskan lagi oleh Prabowo.

“Bahasa Portugis menjadi bahasa prioritas kita,” katanya, seolah sedang mengumumkan menu baru di kantin sekolah yang wajib dicoba semua siswa, entah rasanya enak atau tidak.

Keputusan itu, konon, telah mengantongi restu (atau setidaknya perintah) dari sang Presiden kepada dua menteri Pendidikan, yaitu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Tugas mulia mereka,  menyusun kurikulum kilat dan segera memperkenalkan pelajaran Bahasa Portugis ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus.

#Kenapa Portugis? Kenapa Bukan Bahasa Nge-game?

Di sinilah letak kegelian yang hakiki. Di tengah perjuangan para siswa untuk sekadar lulus Ujian Nasional (walaupun sudah dihapus, cuy!) dan para guru yang sibuk dengan tetek bengek administrasi Kurikulum Merdeka yang ‘katanya’ memerdekakan, tiba-tiba muncul beban bahasa baru. Bukan bahasa pemrograman yang konon lebih menjanjikan masa depan digital, bukan bahasa Klingon yang mungkin lebih berguna saat alien menyerang, tapi Bahasa Portugis.

Tentu saja, alasannya klasik, memperkuat hubungan bilateral dengan Brasil. Sebuah negara yang letaknya jauhnya minta ampun, harus menyeberangi tujuh samudra, lima benua, dan satu setengah kali travelling ke Mars. Logika Istana:, “Kalau mau akrab sama tetangga sebelah, ya belajar bahasanya. Nah, kalau Brasil dianggap tetangga sebelah, berarti peta dunia kita ini sudah di-edit Photoshop oleh tim kepresidenan.

Kita tahu, hubungan Indonesia dan Brasil memang lagi mesra-mesranya. Mulai dari urusan perdagangan, pertanian, hingga urusan alutsista. Tapi, apakah untuk mempererat hubungan dagang kacang kedelai harus membuat siswa SMP se-Indonesia pusing membedakan bom dia (selamat pagi) dengan boa tarde (selamat sore)?

#Respon Publik: Antara Obrigado dan Ora Ndueh

Keputusan yang lahir di meja perjamuan ini, tentu saja, langsung menuai respons bak netizen menemukan akun gosip baru, beragam, heboh, dan penuh pertanyaan fundamental.

  1. Respon Kalangan Dewan (yang Paling Banyak Bicara)

Anggota DPR, terutama yang berada di Komisi X (bidang pendidikan), langsung terbelah. Ada yang langsung pasang mode auto-dukung ala cheerleader timnas. Mereka bilang, ini baik untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing siswa, membuka cakrawala, dan menjembatani gap peradaban. Intinya, pokoknya Presiden ngomong, ya bagus.

Namun, tak sedikit pula yang pasang wajah skeptis berbalut kekhawatiran yang realistis. Anggota DPR dari Dapil Banten I, Bonnie Triyana, misalnya, langsung mempertanyakan, “Guru dari mana? Anggarannya bagaimana?”

Ini bukan perkara sepele, cuy. Indonesia saat ini sudah krisis guru bahasa asing, bahkan untuk bahasa prioritas lama seperti Inggris. Lalu, tiba-tiba disuruh mencari guru yang fasih Bahasa Portugis ala Brasil yang minim logat Portugis Eropa? Apakah harus impor guru capoeira dari Rio de Janeiro? Atau, apakah guru honorer yang selama ini gajinya tak seberapa harus disuruh kursus kilat Portugis via Duolingo?

Kekhawatiran yang paling nendang adalah soal menjadikannya pelajaran wajib. Kalau wajib, ini bisa jadi beban baru bagi siswa dan guru. Anak-anak yang tadinya sudah stress dengan Matematika dan Fisika, kini harus menghafal konjugasi kata kerja falar (berbicara) di tengah malam.

  1. Respon Pengamat dan Praktisi Pendidikan (yang Paling Banyak Mengeluh)

Para pengamat pendidikan dan akademisi kompak bilang, “Halah, ini mah cuma basa-basi diplomatik!”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Mereka menyoroti bahwa kebijakan pendidikan seharusnya lahir dari perencanaan matang, riset kebutuhan pasar kerja, dan analisis mendalam, bukan dari inisiatif spontan saat sedang minum kopi (atau caipirinha?) dengan Presiden negara sahabat.

Urgensi? Pasar kerja Indonesia didominasi oleh bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan Korea. Kapan terakhir kali Anda melihat lowongan pekerjaan yang mensyaratkan “fasih berbahasa Portugis, diutamakan yang bisa memasak Feijoada”?

Bahkan, universitas-universitas besar di Indonesia pun nyeletuk bahwa mereka belum punya jurusan Bahasa Portugis. Kalau sumber gurunya saja belum ada, bagaimana mau menciptakan kurikulum dan mengirimkan guru ke pelosok negeri? Jangan-jangan, pelajaran Portugis nanti malah diajarkan oleh guru IPA yang sedang iseng.

Ini adalah contoh nyata politik deklaratif, di mana sebuah keputusan besar diumumkan secara heroik, tapi implementasinya nol besar, dan hanya menjadi deretan janji simbolik yang berakhir di laci kementerian.

  1. Respon Netizen (yang Paling Santuy Tapi Menghujat)

Netizen tentu saja paling santuy, tapi paling jujur. Kolom komentar di media sosial penuh dengan pertanyaan-pertanyaan lugas:

“Mending belajar coding Pak, biar cepat kaya.”

“Udah Bahasa Indonesia aja dulu yang benar. Typo di mana-mana.”

“Nanti Bahasa Portugis diajarkan sama guru yang sama yang ngajarin TIK di sekolah, alias, tidak ada.”

“Besok kalau ada kunjungan dari Timor Leste, wajib belajar Bahasa Tetun juga dong?” (Ini satir yang lumayan pedas, btw).

Ada juga yang mencoba mencari sisi positifnya, seperti, “Lumayan buat modal nonton Piala Dunia di Brasil sambil teriak Gooooooooool!”

#Ini (yang Mungkin Tidak Penting)

Keputusan Presiden Prabowo untuk memprioritaskan Bahasa Portugis adalah sebuah kejutan yang manis di meja jamuan, tapi bisa jadi pukulan telak di ruang kelas. Ini adalah dilema abadi kebijakan di Indonesia: diplomasi vs. realitas lapangan.

Kita, sebagai rakyat, hanya bisa berharap dua Menteri Pendidikan yang baru ditunjuk itu sudah menyiapkan escape plan dan tidak hanya mengandalkan Google Translate atau Duolingo untuk menyusun kurikulum ini.

Portugal dan Brasil memang penting. Tapi, apakah nasib pendidikan anak bangsa harus digadaikan demi sebuah basa-basi diplomatik yang keblinger? Hanya waktu yang akan menjawab. Sambil menunggu kurikulum Portugis tiba, mari kita scroll video-video tutorial Samba di YouTube. Siapa tahu skill dansa lebih berguna daripada skill konjugasi verbal.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *