Banjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh Tamiang pada 26 November meninggalkan kehancuran luas, kesaksian memilukan, dan penantian panjang atas bantuan yang tak kunjung datang. Dua desa—Lintang Bawah dan Sukajadi—hancur hampir sepenuhnya, memaksa warga bertahan di atap rumah sambil menunggu pertolongan yang baru tiba setelah berhari-hari.
#Desa yang Hilang: Reruntuhan, Lumpur, dan Tangis Penyintas
Kabupaten Aceh Tamiang kini menjadi salah satu wilayah dengan dampak terburuk setelah dihantam banjir bandang pada Rabu (26/11/2025). Dua desa, Lintang Bawah dan Sukajadi, praktis hilang dari peta kehidupan. Yang tersisa hanyalah rangka bangunan, tumpukan kayu gelondongan, genangan lumpur tebal, dan beberapa rumah yang masih bertahan dalam kondisi rapuh.
Fitriana, 53 tahun, penyintas dari Desa Lintang Bawah, mengingat detik-detik ketika gelombang air bercampur balok kayu menerjang rumah warga. Ia dan ratusan warga lainnya bahkan tak sempat menyelamatkan barang berharga.

“Airnya cepat sekali naik. Kami hanya bisa naik ke bubung rumah. Pertolongan enggak ada,” ujarnya dikutip BBC Indonesia.
Selama tiga hari penuh, katanya, sejumlah warga bertahan di atap rumah tanpa makanan dan minuman, termasuk seorang ibu yang bersama anaknya yang berumur empat tahun. Hingga sembilan hari setelah banjir menerjang, bantuan masih belum merata.
Warga menggambarkan wilayah itu “seperti kota zombie”, penuh reruntuhan, kesunyian, dan aroma bangkai yang menyengat.
#Korban Banjir Bertambah
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang, sejak Rabu, 3 Desember 2025, mencatat jumlah sementara korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor mencapai 40 jiwa.
“Kondisi hingga pukul 17.00 WIB, korban sudah mencapai 40 jiwa,” kata Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Agusliayana Devita, saat dikonfirmasi AJNN.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Posko Terpadu Penanganan Banjir Kabupaten Aceh Timur, korban meninggal dunia tersebar di delapan kecamatan.
Rinciannya, Kecamatan Karang Baru 10 orang, Kecamatan Kejuruan Muda delapan orang, Kecamatan Kota Kualasimpang dan Rantau masing-masing enam orang. Selanjutnya, Kecamatan Bandar Pusaka dan Manyak Payed masing-masing empat orang, serta Kecamatan Sekerak dan Tamiang Hulu masing-masing satu orang.
Untuk warga yang mengalami luka, terdapat tiga orang: dua dari Kecamatan Bendahara dan satu dari Kecamatan Kejuruan Muda.

#Ratusan Ribu Warga Aceh Tamiang Terdampak
Total warga terdampak mencapai 310.480 orang yang tersebar di 12 kecamatan. Sementara itu, warga yang mengungsi mencapai 53.835 kepala keluarga atau 215.652 jiwa.
Rinciannya sebagai berikut:
- Kecamatan Bendahara 8.179 kepala keluarga atau 32.716 jiwa
- Kecamatan Banda Mulia 3.265 kepala keluarga atau 13.060 jiwa
- Kecamatan Kota Kualasimpang 4.566 kepala keluarga atau 18.263 jiwa
- Kecamatan Kejuruan Muda 9.100 kepala keluarga atau 36.711 jiwa
- Kecamatan Sekerak 2.029 kepala keluarga atau 8.116 jiwa
- Kecamatan Rantau 9.557 kepala keluarga atau 38.227 jiwa
- Kecamatan Tamiang Hulu 4.826 kepala keluarga atau 19,303 jiwa
- Kecamatan Bandar Pusaka 3.665 kepala keluarga atau 14.660 jiwa
- Kecamatan Karang Baru 6.815 kepala keluarga atau 27.259 jiwa
- Kecamatan Manyak Payed 8.975 kepala keluarga atau 35.900 jiwa
- Kecamatan Tenggulun 1.038 kepala keluarga atau 4.152 jiwa
- Kecamatan Seruway masih dalam pendataan
#Kisah M. Nur dan Warga Sukajadi yang Kehilangan Segalanya
Di Desa Sukajadi, kehancuran serupa terjadi. Dari total 323 kepala keluarga, hampir semuanya kehilangan rumah. M. Nur, imam gampoeng setempat, menceritakan bagaimana ia sekeluarga sempat mencoba bertahan di rumah lantaran air awalnya hanya masuk perlahan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kami cuma meletakkan bangku-bangku. Lama-lama air semakin tinggi,” katanya. Ia harus mendahulukan istri dan anaknya naik ke kapal evakuasi, sementara ia dan putrinya Deby berlindung di lantai dua menunggu giliran.
Bagi warga Sukajadi, banjir kali ini bukan hanya bencana alam, tetapi juga kehilangan besar atas masa depan. Rumah, kebun, ternak, dokumen penting—semuanya hilang tersapu arus.
#Penjarahan dan Kelangkaan Pangan Usai Banjir
Ketika banjir surut, masalah baru muncul: kelangkaan pangan dan penjarahan. Arif, warga Kampung Dalam, menyaksikan langsung puluhan warga memaksa masuk ke toko swalayan dan grosir pada Minggu (30/11/2025). Persediaan makanan dijarah setelah harga kebutuhan pokok melonjak drastis.
“Padahal sehari sebelumnya kami masih beli makanan. Tapi besoknya orang sudah tidak mau beli lagi, mereka mengambil saja. Beras 10 kilogram harganya sampai Rp250.000,” kata Arif.
Ia juga menyoroti tak adanya personel pemda yang datang membantu evakuasi pada hari-hari awal. “Polisi, damkar, SAR, BPBD—tidak ada satu pun,” ujarnya.
Ketiadaan pemerintah memperburuk rasa panik dan ketidakpastian warga. Banyak yang berjalan puluhan kilometer hanya untuk mencari makanan, air bersih, atau kabar keluarga yang hilang.
#Lapas Terendam, Napi Dievakuasi Demi Kemanusiaan
Dampak banjir juga sampai ke fasilitas pemasyarakatan. Sebuah lapas di Aceh Tamiang terendam hingga mencapai atap. Kondisi itu memaksa pemerintah melakukan langkah luar biasa: melepaskan sementara warga binaan.
“Ini terpaksa dilakukan, karena air sudah sampai ke atap,” kata Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, pada Jumat (5/12/2025) di Jakarta. Ia menyebut keputusan itu diambil demi kemanusiaan dan keselamatan narapidana.
Evakuasi mendadak itu menambah kepanikan warga, tetapi pemerintah menegaskan bahwa pendataan dilakukan ketat dan para narapidana akan dipindahkan sementara ke fasilitas yang aman.
#Masa Depan Aceh Tamiang: Menunggu Kepastian Pemulihan
Bencana di Aceh Tamiang bukan hanya soal curah hujan ekstrem, tetapi juga persoalan tata ruang, kerusakan lingkungan, dan lambannya respons tanggap darurat. Dengan ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan fasilitas umum porak-poranda, kebutuhan bantuan jangka panjang menjadi mendesak.
Namun bagi penyintas seperti Fitriana, harapan terbesar saat ini sederhana: tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, dan kehadiran negara di tengah krisis.
“Yang kami butuhkan sekarang cuma pertolongan. Itu saja,” katanya.***