Lewati ke konten

Jerami, Bos! Euforia BBM Bobibos vs. Realita di Jalanan

| 14 menit baca |Opini | 60 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Marga Bagus Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

“Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia, Bos!” – begitulah singkatan Bobibos dideklarasikan, diiringi euforia media dan warganet. Bayangkan suasana warteg saat ada menu baru “nasi jerami spesial”: semua heboh ingin coba, seakan inilah jurus jitu anti-mahal. Inovasi bahan bakar jerami ini dielu-elukan bak diskon minyak goreng 70%, memicu overproud nasional. Pertanyaannya, apakah euforia ini berdasar atau sekadar “kaget discount” yang abai realita? Mari kita kupas bersama-sama.

Ilustrasi anak muda Indonesia berkerumun dengan bangga di sekitar stan BBM jerami Bobibos sambil berfoto dan menunjukkan botol bahan bakar.
Euforia BBM jerami ala anak bangsa, sorotan kamera dan tepuk tangan sering lebih dulu datang sebelum pertanyaan soal keamanan dan kesiapan mesinnya.

#Euforia “BBM Jerami” ala Anak Bangsa

Di lini masa media sosial, Bobibos dielu-elukan bak pahlawan baru. “Inovasi anak bangsa! RON 98 setara Pertamax Turbo!” seru berita. Visual mobil diisi cairan bening jerami dengan corong merah viral di mana-mana. Analogi sederhana: ini seperti melihat angkot tua tiba-tiba pakai bahan bakar angin surga – semua melongo kagum.

Pendiri Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, mengklaim risetnya 10 tahun hingga tercipta BBM murah, aman, rendah emisi. Bahan bakunya jerami padi; 1 hektare sawah konon bisa hasilkan 3.000 liter BBM. “Sawah tidak hanya menumbuhkan pangan, tapi juga energi,” ujarnya visioner. Dua jenis BBM ditawarkan: setara bensin (RON ~98) dan solar. Bahkan, katanya, Bobibos sudah dites di berbagai kendaraan: motor bebek harian, mobil Alphard bensin, sampai Innova dan truk diesel. Semua tangki dikuras, diisi Bobibos full, mesin hidup mulus, asap knalpot “tipis banget”.

Klaim ini terdengar wow – ibarat kopi sachet Rp2.000 bisa bikin Ferrari ngebut. Wajar publik bangga: akhirnya ada “energi merah putih” lokal yang (katanya) bisa bikin kita berhenti impor bensin mahal.

Apalagi nama Bobibos sendiri mengandung kesan jenaka nan percaya diri: “Buatan Indonesia, Bos!” – seolah menyindir bahwa selama ini jadi bos di negeri sendiri saja kita kesulitan. Secara branding, jempolan lah.

Tapi, seperti kata pepatah warteg: “Enak di lidah belum tentu aman di perut.” Euforianya enak, realitanya perlu dicerna perlahan. Apakah benar Bobibos ini seorisinal yang kita kira? Ataukah kita telat ngopi, karena orang luar sudah seduh duluan?

Ilustrasi perbandingan konferensi pers BBM jerami di Indonesia yang heboh dengan ruang kontrol pembangkit listrik jerami di Eropa dan Tiongkok yang sudah berjalan rutin.
Di Indonesia jerami baru jadi headline, sementara di Eropa dan Tiongkok jerami sudah lama kerja lembur jadi listrik dan panas tanpa banyak seremoni.

#Di Sana Sudah Biasa: Jerami Jadi Energi Sejak Lama

Sebelum kita terbang terlalu tinggi dengan “inovasi baru” ini, mari turun sebentar melihat fakta global. Ternyata, jerami sebagai sumber energi bukan barang baru. Penelitian internasional sejak 2005 sudah membahas potensi mengubah jerami & limbah tanaman jadi “emas hijau” berupa etanol selulosa. Bukan cuma wacana, di lapangan pun negara lain sudah panen manfaat jerami.

Di Jerman, ada pembangkit listrik dan panas di Emlichheim yang kerjanya membakar jerami bal tiap hari. Pabrik BEKW (Bioenergiekraftwerk Emsland ) ini bukan eksperimen garasi, tapi pembangkit listrik tenaga jerami penuh: sekitar 10 MW listrik plus hampir 50 MW panas, dengan konsumsi kira-kira 70 ribu ton jerami per tahun. Sistemnya model combined heat and power (CHP), jadi uap dari pembakaran jerami dipakai sekaligus untuk listrik dan pemanas industri, dengan efisiensi energi total diklaim bisa tembus 90% berkat desain Rankine klasik dan tangki buffer air 4.000 m³ yang meredam fluktuasi beban. Kontrol otomatisnya memakai platform ABB System 800xA, levelnya sudah industri berat, bukan saklar on/off ala bengkel kampung.

Denmark bahkan bisa dibilang kerajaan jerami. Laporan Danish Technological Institute menyebut negara ini memakai sekitar 1,5 juta ton jerami per tahun hanya untuk energi. Ada tradisi lama: dulu jerami dipakai di boiler kecil di pertanian, lalu naik kelas ke boiler menengah untuk pemanas distrik, dan beberapa dekade terakhir masuk ke pembangkit listrik CHP dan PLTU biomassa. Dari total produksi jerami sekitar 5,5 juta ton per tahun, jutaan ton sudah rutin dialirkan ke sektor energi, bukan cuma dibakar di sawah lalu hilang jadi asap.

Geser ke Asia, Tiongkok bukan cuma jago bikin pabrik panel surya. Mereka juga menggarap jerami sebagai bahan bakar lewat teknologi gasifikasi. Perusahaan seperti Powermax menawarkan sistem gasifikasi jerami modular yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik 50 kW sampai 20 MW. Prinsipnya, jerami (termasuk sekam padi, tongkol jagung, gandum, sampai kapas) diubah dulu jadi syngas, baru kemudian dipakai untuk menggerakkan genset dan menyuplai listrik, uap proses, atau pemanas industri. Powermax mengklaim punya seratusan instalasi referensi di seluruh dunia, banyak di antaranya berlokasi di Cina.

Sekarang kita masuk ke bahan bakar cair dari jerami. Di Rumania, perusahaan kimia Swiss Clariant membangun pabrik sunliquid® di Podari untuk memproduksi cellulosic ethanol dari limbah pertanian, termasuk jerami. Kapasitasnya sekitar 50 ribu ton etanol per tahun, dan seluruh produksinya sudah dikontrak Shell lewat kesepakatan jangka panjang. Ini bukan cuma demo lab; ini pabrik komersial yang didanai antara lain oleh program riset Uni Eropa seperti SUNLIQUID dan LIGNOFLAG.

Uni Eropa sendiri sudah lama memasukkan biofuel canggih (termasuk etanol dari jerami) ke dalam regulasi energi transportasi. Melalui revisi Renewable Energy Directive (RED II/RED III), mereka menetapkan sub-target khusus: porsi “advanced biofuels” di sektor transport minimal 0,2% pada 2022, naik menjadi 0,5% pada 2025, dan sekitar 2,2% pada 2030 dalam bauran energi transport. Artinya, biofuel dari limbah pertanian bukan lagi “side project keren” tapi bagian resmi dari roadmap dekarbonisasi transport Eropa.

Di sisi lain, campuran bensin–etanol (E10, E20, E25, dan seterusnya) sudah jadi keseharian di banyak negara. Di Amerika Serikat, lembaga energi EIA mencatat bahwa E10 (bensin dengan 10% etanol) sudah menjadi standar, dan lebih dari 95% bensin yang dijual mengandung sampai 10% etanol. Di Brasil, program etanol dari tebu sudah berjalan sejak 1970-an; campuran etanol di bensin yang dulu 20–25% kini dinaikkan menjadi 27% dan menuju 30% (E30) sebagai mandat nasional terbaru, lengkap dengan pengujian kinerja resmi. Thailand juga sudah lama mendorong gasohol E10 dan E20, dengan kebijakan bahwa semua mobil penumpang yang diproduksi sejak 2008 kompatibel dengan E20 dan rencana menjadikan E20 sebagai campuran utama ke depan.

Sementara di sini, begitu ada istilah “BBM jerami karya anak bangsa”, suasana langsung kayak diskon 90% di mal: kamera semua mengarah ke panggung, lupa cek manual mesin dan catatan footnote dari negara lain. Hebohnya boleh, bangganya wajar, tapi kalau sampai overproud dan merasa menemukan “jurus baru” yang dunia belum tahu, di situlah kita mulai bahaya: bukan hanya karena lupa belajar soal standar keamanan, regulasi, dan kecocokan mesin, tapi juga karena menutup mata dari pengalaman puluhan tahun negara lain mengelola bahan bakar berbasis jerami.

Jadi, poinnya bukan “ah, di luar negeri juga sudah ada, berarti Bobibos nggak penting.” Justru sebaliknya: fakta bahwa jerami sudah lama dipakai di Jerman, Denmark, Tiongkok, sampai Brasil, harusnya jadi buku contekan besar. Dari sana kita bisa belajar soal teknologinya, risiko operasional, sampai bagaimana mereka mengatur campuran etanol di kendaraan. Bangga boleh, tapi lebih keren kalau bangganya disertai PR rumah – bukan cuma poster dan tagline.

Ilustrasi pakar otomotif dan mekanik Indonesia membahas risiko etanol tinggi di depan mesin motor uji dengan diagram korosi dan injektor tersumbat.
Etanol bisa ramah lingkungan, tapi di mesin yang belum siap ia juga bisa jadi “tamu liar” yang mengundang karat, selang getas, dan injektor mampet.

#Kata Pakar & Fakta Mesin: Etanol Bukan Tanpa Tantangan

Euforia boleh saja menggelora, tapi apa kata pakar otomotif dan peneliti? Apakah cukup tuang BBM jerami dan tancap gas, beres urusan? Ternyata tidak segampang itu, Bos.

Hari Setyapraja, Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengingatkan bahwa setiap inovasi bahan bakar wajib melewati kajian & pengujian menyeluruh sebelum dipasarkan. Ini bukan sok birokratis, tapi demi keamanan dan mutu. Bayangkan kita isi angkot dengan bahan bakar eksperimen yang belum standar – bisa-bisa penumpang bukannya sampai Pasar Senen, malah dorong angkot mogok di tengah jalan. Hari menegaskan, apalagi untuk transportasi, harus ada jaminan kualitas. Proses perizinan edar BBM ada di Kementerian ESDM, dan fuel baru harus sesuai spesifikasi teknis yang dipersyaratkan. Lemigas (Balai Besar Pengujian Migas) biasanya jadi garda penjaga standar.

Pihak Bobibos mengklaim sudah uji lab Lemigas dengan hasil RON 98.1. Namun, Dirjen Migas Laode Sulaeman meluruskan kabar viral: Bobibos belum mengantongi sertifikasi Lemigas sama sekali, baru tahap pengajuan uji laboratorium. Hasil uji pun masih under secret agreement. Lagi pula, kata Laode, proses pengujian BBM hingga layak edar minimal makan waktu 8 bulan. Jadi, sabar dulu, jangan esok lusa langsung bawa jerigen jerami ke pom bensin. Pemerintah pasti akan cek apakah klaim oktan 98 dan “aman bagi kendaraan” itu benar, atau perlu penyesuaian formula.

Dari sisi pakar otomotif, muncul pula insight soal etanol – komponen inti Bobibos. Yannes M. Pasaribu, pakar otomotif ITB, mengatakan campuran etanol 10% (E10) masih aman untuk kendaraan modern. “Campuran etanol 10 persen umumnya aman pada mesin mobil dan motor injeksi keluaran 2010 ke atas, karena material selang, seal, pompa, injektor, serta kalibrasi ECU sudah kompatibel,” ujar Yannes. Artinya, kalau Bobibos nanti dipasarkan sebagai campuran (misal E10), mayoritas motor-mobil baru mungkin oke-oke saja. Bahkan, oktan naik bisa jadi manfaat (etanol murni oktannya ~109).

Tapi tunggu… Bobibos ini apakah cuma E10? Belum tentu. Jika dia klaim “bensin jerami” penuh, barangkali kandungan etanolnya jauh lebih tinggi (mungkin E50 atau bahkan E100 jika murni etanol). Nah, disini tantangan dimulai. Etanol “jahat” untuk mesin yang tak siap dalam dua hal utama:

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

  • Higroskopis (Menyerap Air): Etanol gampang mengikat uap air dari udara. Air ini bisa larut dalam BBM bercampur etanol. Pada tangki motor (terutama besi), endapan air + etanol bisa memicu karat halus (korosi mikro) di dasar tangki. Karat mungkin tak kasat mata awalnya, tapi ibarat rayap di kusen, lama-lama menggerogoti.

  • Korosif ke Material Lawas: Etanol itu pelarut ulung. Karet dan plastik lawas di sistem bahan bakar bisa direndam etanol lalu menjadi getas atau larut. Seal karburator tua, selang karet jadul – bisa “kemakan” alkohol, retak, bocor.

Akibat kombinasi di atas? Serpihan karat dan sisa karet bakal ikut aliran BBM, lantas nyangkut di filter atau injektor. Injektor modern punya lubang super kecil; sekali tersumbat, semprotan bensin gak presisi, mesin pun brebet-brebet gak bertenaga. Banyak mekanik horror story soal motor mendadak mogok gara-gara pakai bensin oplosan etanol tanpa penanganan. Apalagi motor skutik injeksi harian (110-150cc) – meski injeksi, ternyata juga riskan alami penyumbatan injektor dan tangki berkarat halus jika dipaksa minum etanol tinggi. Jadi, anggapan “motor injeksi aman lah” tak sepenuhnya benar kalau kadar etanol tinggi.

Hal lain: bensin etanol lebih cepat basi. Dalam hitungan minggu tanpa dipakai, etanol cenderung terurai dan menurunkan kualitas BBM. Buat yang jarang pakai motor (misal motor kedua di rumah untuk weekend), BBM jerami yang ngendon di tangki bisa jadi kayak kopi dingin semalaman – gak nikmat lagi, bahkan bisa merusak performa saat dinyalakan.

Namun, tentu ada solusinya kalau memang mau dijalankan: adaptasi teknologi kendaraan. Negara maju menangani etanol tinggi dengan Flex Fuel Vehicle (FFV) – mobil atau motor dengan material tangki dan fuel line tahan etanol, injektor dan ECU pintar yang bisa kalibrasi campuran E20 hingga E85. Mungkin ke depan, pabrikan motor di Indonesia perlu disiapkan ke arah itu bila BBM nabati makin dominan. Sekarang, kebanyakan motor kita baru siap minum Pertalite (RON90) plus mungkin sedikit campuran etanol (Pertamina rencana E5-E10). Kalau tiba-tiba disuguhi “arak jerami 98 oktan” murni, ya wajar ada penolakan. Buktinya, waktu Pertamina coba pasok BBM impor dengan 3,5% etanol saja, SPBU swasta BP dan Vivo sempat ogah beli karena spesifikasi mereka belum siap campuran itu. Padahal regulasi di sini membolehkan sampai E20. Artinya, infrastruktur dan pelaku industri pun masih adjusment dulu.

Intinya, kata pepatah otomotif: “Don’t try this at home (yet).” Selama standar dan kesiapan belum jelas, pengguna jangan sembarangan eksperimen isi motor dengan cairan etanol murni hasil fermentasi tetangga. Risiko jangka panjang perlu dipahami betul: performa turun, komponen aus dini, garansi kendaraan hangus pula. Pakar jelas berpesan, kadar etanol moderat (5-10%) aman dengan sedikit penyesuaian, tapi di atas itu perlu kendaraan khusus atau modifikasi.

dampak-bbm-jerami-hemat-atau-tekor
Di atas kertas BBM jerami terlihat menghemat biaya, tapi di jalanan keputusan salah bisa berujung lebih sering mampir ke bengkel daripada ke dompet.

#Dampak Nyata ke Pengguna: Hemat atau Tekor?

Seandainya Bobibos lolos uji dan dijual massal, apa dampaknya bagi kita, pengguna motor sehari-hari? Mari kita bayangkan skenario terbaik dan terburuknya.

Sisi positifnya, kalau klaimnya tepat, BBM jerami akan jauh lebih murah daripada BBM fosil setara. Pendiri Bobibos sempat menyebut ingin harga sangat ekonomis di SPBU sendiri. Ada rumor seliweran harganya bisa di kisaran Rp4.000-5.000 per liter – bandingkan Pertamax Turbo RON98 sekitar Rp13 ribu. Bagi ojek online, sopir angkot, emak-emak anter sekolah, ini jelas kabar bahagia: pengeluaran BBM bisa turun drastis. Selain itu, jerami berbahan nabati harusnya lebih ramah lingkungan – emisi karbon lebih rendah. Bisa jadi napas di jalan lebih lega, polusi berkurang (klaimnya emisi gas buang Bobibos mendekati nol. Jika motor Anda kompatibel, performa pun bisa oke karena oktan tinggi (RON 98) berarti pembakaran lebih baik, mesin lebih dingin. Mungkin nanti tidak ada lagi cerita knocking atau ngelitik di tanjakan. Plus, petani dapat nilai tambah dari jerami yang tadinya dibakar sia-sia, kini jadi duit – roda ekonomi pedesaan bisa jalan. Secara makro, kita kurangi impor BBM, CAD (current account deficit) membaik, kurs rupiah tepuk tangan. Win-win, bukan?

Sisi negatifnya, semua itu dengan banyak catatan. Kendaraan lama (terutama produksi <2010 atau yang masih karburator) berpotensi “jadi korban”. Mereka paling rentan kena efek korosif etanol: tangki karat, selang getas, mesin mogok. Bagi pemilik motor jadul atau mobil klasik, muncul dilema: tetap pakai BBM mahal tapi aman, atau BBM murah tapi berisiko? Jangan lupa, mayoritas pengguna roda dua di Indonesia itu motor 110-150cc, banyak di antaranya skutik injeksi kelas pekerja. Motor segmen ini rentan kena “masuk angin” kalau BBM-nya gak cocok. Bakal ironis kalau niat hati ngirit, eh motor malah sering ke bengkel. Biaya servis injektor, ganti filter, overhaul tangki bisa bikin tekor juga. Belum lagi potensi kecelakaan kalau motor mendadak mogok di jalan ramai.

Dampak lain, jangkauan kilometer per liter etanol biasanya lebih rendah daripada bensin (karena densitas energi etanol lebih kecil). Jadi meski oktan tinggi, konsumsi volume BBM mungkin sedikit lebih boros. Kalau harus lebih sering isi ulang (meski murah per liter), perlu dihitung lagi cost-effectiveness-nya. Apalagi kalau stasiun pengisian Bobibos belum banyak, bisa repot berburu SPBU khusus.

Bagi industri otomotif, hadirnya BBM jenis baru berarti PR besar: edukasi ke mekanik, penyesuaian garansi, mungkin mendesak percepatan keluarkan model-model Flex Fuel. Jangan sampai kasus Brazil tahun 80-90an terulang: pemerintah genjot etanol tapi mobil-mobil gak siap, ujungnya program tersendat karena komplain kerusakan mesin. AISI (asosiasi sepeda motor) dan ATPM perlu dilibatkan dalam uji coba Bobibos. Apakah pabrikan Honda, Yamaha, dkk sudah ditanyai: motor mereka kuat gak minum BBM jerami 100%? Kalau belum, pengguna lah jadi kelinci percobaan – tentu kurang bijak.

Perilaku konsumen juga bakal diuji. Di Indonesia, rumor kecil soal BBM bisa melejit jadi kepanikan. Contoh, kemarin ada isu Pertalite dicampur etanol bikin motor brebet, langsung viral. Walau Pertamina bantah dan sebut aman, banyak yang terpengaruh. Kepercayaan publik terhadap BBM baru itu rapuh. Sedikit saja ada kasus motor mogok habis isi Bobibos, bakal muncul banjir posting “Jangan pakai BBM jerami, injektor saya rusak!” di grup Facebook motor. Sekali image buruk terbentuk, susah dipulihkan. Edukasi dan transparansi jadi kunci.

Sisi lingkungan pun harus jujur dilihat: jerami memang renewable, tapi apakah supply-nya cukup jika nanti demand tinggi? Jangan sampai gegar bahan baku – misal petani jadi prefer jual jerami daripada membajak ke sawah sebagai kompos, efek jangka panjang ke kesuburan tanah perlu diperhitungkan. Studi sustainability harus ada: berapa banyak jerami maksimal boleh diambil agar ekosistem pertanian tetap seimbang, dsb. Eropa menerapkan advanced biofuel juga pelan-pelan sambil jaga agar tak ganggu rantai pangan. Kita pun sebaiknya gitu.

Ilustrasi insinyur, petani, pengendara motor, dan pejabat Indonesia berjalan bersama di jalan panjang dengan rambu riset, regulasi, dan keamanan mesin untuk BBM jerami.
Agar jerami benar-benar jadi emas hijau, euforia perlu ditemani riset, regulasi, dan desain mesin yang siap, bukan hanya slogan “anak bangsa” di panggung peluncuran.

#Jalan Panjang di Depan, Euforia Harus Diimbangi Logika

Fenomena Bobibos ini mengingatkan kita pada antrean diskon: lihat harga murah, langsung serbu, kadang lupa cek expiry date barangnya. Sebagai anak bangsa, wajar kita bangga ada terobosan lokal di sektor energi. Bioetanol jerami potensinya besar sebagai solusi win-win-win (energi, ekonomi petani, lingkungan). Tapi bangga berlebihan tanpa pemahaman bisa berbahaya.

Harus diakui, publik dan media kita kadang gampang terpesona jargon “inovasi anak negeri”. Sebuah teknologi lama pun kalau dikemas patriotik, bisa jadi sensasi. Padahal yang kita butuhkan bukan sekadar sensasi, melainkan implementasi yang matang. Belajar dari Eropa, Tiongkok, Amerika yang sudah lebih dulu memanfaatkan jerami, kita bisa mengambil ilmunya: teknologi oke, tapi tetap ada tantangan teknis dan regulasi.

Jadi, tetaplah optimis tapi kritis. Dukung inovasi Bobibos, tapi tuntut transparansi uji coba. Ajak diskusi para ahli mesin, komunitas otomotif, biar semua paham plus-minusnya. Toh ujungnya kita, pengguna akhir, yang akan merasakan – entah itu hemat di dompet atau menangis di bengkel.

Seperti analogi warteg terakhir: boleh saja ganti minyak goreng ke minyak jelantah daur ulang demi hemat biaya, tapi pastikan perut pelanggan gak mules besoknya. Begitu pula BBM jerami: klaim-klaim manis harus ditepati dengan standar keamanan untuk “perut”-nya mesin kita. Euforia boleh, asal diiringi logika. Jangan sampai slogan “Buatan Indonesia, Bos!” berubah jadi keluhan “Bikin motor jebol, Bos!” di kemudian hari.

Inovasi energi terbarukan seperti Bobibos adalah langkah maju dan patut diapresiasi. Namun, agar terang tak redup, perlu keseimbangan antara semangat nasionalisme dan ketelitian saintifik. Dengan begitu, jerami yang dulu dianggap remeh bisa benar-benar menjadi emas hijau bagi Indonesia – bukan sekadar hangat di berita, lalu hilang tanpa jejak. Bos!

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *