Di tengah sorak solidaritas dan wajah-wajah yang menolak bungkam, CPJ mengguncang panggung pembukaan Global Investigative Journalism Conference 2025 di Malaysia. Lebih dari 1.500 jurnalis dari 135 negara bersatu menyerukan: bebaskan ratusan jurnalis yang dipenjara, hentikan impunitas, dan tegakkan satu kebenaran abadi — jurnalisme bukan kejahatan.
#CPJ Serukan Perlawanan Global: Bebaskan Pewarta, Akhiri Impunitas
Ketika lampu panggung menyala di Kuala Lumpur pada 21 November 2025, suasana pembukaan Global Investigative Journalism Conference (GIJC) berubah menjadi arena solidaritas. Bukan sekadar konferensi, tetapi panggilan moral yang menggema, jurnalisme sedang berada pada titik paling mematikan sejak CPJ mulai mencatat data tiga dekade lalu. Di tengah dunia yang bergeser ke arah otoritarianisme, ratusan pewarta yang semestinya menjadi pilar demokrasi justru jadi target.
Dua sosok penting CPJ, Gypsy Guillén Kaiser dan Beh Lih Yi, membacakan pernyataan solidaritas yang disambut tepuk tangan panjang. Tak lama kemudian, Maria Ressa, peraih Nobel Perdamaian, naik ke panggung mengangkat spanduk bertuliskan tegas: “Journalism is not a crime.” Kalimat yang menjadi senjata, doa, dan tekad yang tak mau dipadamkan.
#Era Gelap Jurnalisme: Ancaman yang Merayap dan Menggigit
Pernyataan CPJ menyentak ruang konferensi, tahun ini, jumlah jurnalis terbunuh dan dipenjara menembus rekor.
Dari Gaza hingga Sudan, dari Ukraina hingga Myanmar, wartawan bukan hanya kehilangan ruang bekerja. Mereka juga kehilangan hidup. Hampir 250 jurnalis tewas di Gaza saja, sebagian besar ketika menjalankan tugas paling mulia, memberi tahu dunia apa yang sedang terjadi.
Di tempat lain, bentuk serangannya mungkin lebih senyap, tapi tak kalah mematikan. Para jurnalis dikuntit spyware, diseret ke pengadilan dengan UU karet, dipermalukan di ruang publik, hingga terpaksa mengungsi.
Tahun 2024 mencatat lebih dari 370 pewarta dipenjara di seluruh dunia, dan Asia, rumah bagi lebih dari 30 persen total itu. Kini menyandang predikat muram, benua dengan jurnalis paling banyak ditahan.
Namun satu hal tak berubah, mereka adalah para pencari fakta yang bekerja untuk membuat masyarakat lebih aman dan adil. “Mereka bukan angka. Mereka kolega kita,” begitu bunyi pernyataannya. Kalimat yang membuat banyak kepala tertunduk sejenak, mencerna betapa tinggi harga yang harus dibayar atas sebuah berita.
#Jejak Solidaritas: Dari Meksiko hingga Slovakia, Dari Hong Kong hingga Pentagon
CPJ mengingatkan, solidaritas bukan barang baru dalam dunia pers. Di Meksiko, jurnalis tak pernah lupa Regina Martinez, yang dibunuh pada 2012 saat menulis soal kartel narkoba. Di Hong Kong, dunia pers berdiri bersama Jimmy Lai yang dipenjara karena mempertahankan kebebasan berekspresi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKetika Pentagon mengeluarkan aturan yang dianggap membatasi akses peliputan, puluhan ruang redaksi menolak serentak. Dan siapa yang bisa lupa gelombang massa di Slovakia pada 2018, ketika puluhan ribu orang turun ke jalan menuntut keadilan atas pembunuhan Ján Kuciak, sang jurnalis investigasi yang membuka borok korupsi?
Sejarah kecil ini dirangkai dalam pernyataan CPJ untuk menegaskan satu hal: solidaritas telah menyelamatkan banyak suara, dan kini, diperlukan lebih besar dari sebelumnya.
#Seruan Global: Bebaskan Pewarta, Tegakkan Kebebasan Pers
Puncak momen itu terjadi ketika lebih dari 1.500 jurnalis dari 135 negara berdiri bersama dalam satu seruan, bebaskan jurnalis yang ditahan sewenang-wenang dan hentikan impunitas bagi para pelaku kekerasan terhadap pers.
Tidak ada demokrasi tanpa jurnalis yang bebas bekerja. Tidak ada kebenaran tanpa orang-orang yang berani mencarinya.
Dalam pernyataan bersama, mereka menuntut pemerintah di seluruh dunia menghentikan kriminalisasi terhadap pewarta, menjamin keselamatan mereka, dan menghormati kerja jurnalistik sebagai pilar penting masyarakat modern. “Truth can move mountains,” ungkap CPJ. Kebenaran mampu memindahkan gunung, tetapi pemikulnya perlu dilindungi.
Pernyataan itu bukan sekadar teks yang dibacakan. Ia menjadi gema yang beresonansi di ruang konferensi, menetes dari suara ke suara, dari mata ke mata. Sebuah ikrar: jurnalis bukan kriminal, bukan musuh, bukan target.
Di dunia yang semakin gaduh oleh disinformasi, propaganda, dan represi, jurnalis adalah cahaya yang dipaksa menyala meski angin berhembus kencang. Dan di Kuala Lumpur hari itu, 1.500 jurnalis bersepakat menjaga nyala itu – bersama, setia, tanpa takut.***