KETIKA dunia sibuk debat siapa yang paling suci di Gaza dan siapa yang paling strategis di Ukraina, di dataran tinggi Nigeria darah kembali tumpah—tanpa sanksi, tanpa headline, bahkan tanpa doa dari forum-forum yang hobi bilang “atas nama kemanusiaan”.
Lebih dari tujuh ribu umat Kristen dibantai cuma dalam tujuh bulan pertama tahun ini. Tujuh ribu, Bro. Itu kalau dikonversi ke kurs politik global, nilainya nggak sampai satu kontrak minyak.
Tapi jangan harap ada breaking news “Global Outrage”, atau sidang darurat PBB yang isinya pejabat dunia pakai dasi hitam tanda duka. Yang ada cuma satu-dua media internasional yang bilang: “konflik agraria”. Iya, agraria. Seolah-olah pembantaian manusia cuma efek samping rebutan padang rumput.
#PBB, Tradisi Diam Kolektif, dan Amerika, Energi, Iman yang Dipilih
PBB, lembaga yang lahir dari trauma Holocaust biar genosida nggak kejadian lagi, sekarang malah jadi klub debat yang lupa cara marah. Mereka bisa bikin konferensi 18 bab tentang sustainability, tapi nggak bisa nyebut kata “genosida” buat Nigeria.
Padahal ada doktrin Responsibility to Protect (R2P) yang isinya kurang lebih, “Kalau ada genosida, jangan diem aja.” Tapi ya, kayak biasa, mereka lebih takut kehilangan pengaruh politik daripada kehilangan nyawa orang lain.
Persis Rwanda 1994, ketika pembantaian Tutsi disebut “konflik etnis”. Lalu 30 tahun kemudian, template-nya dipakai lagi, cuma diganti nama, jadi “benturan petani-penggembala”. Dunia ini kayak mahasiswa yang copy-paste makalah gagal, tapi tetap lulus karena dosennya juga males baca.
Donald Trump dulu sering teriak “Freedom of Religion!” sambil tepuk dada di hadapan evangelikal kulit putih. Tapi begitu umat Kristen di Afrika dibantai, dia bilang, “It’s Nigeria’s internal matter.” Internal matamu.
Washington takut kehilangan pijakan di Afrika Barat yang kaya minyak, jadi lebih memilih bensin daripada belas kasih. Sederhana saja, iman boleh jadi komoditas politik, asal tidak mengganggu pasokan energi.
#Indonesia Diplomasi “Nggak Enak Ngomong” dan Dunia yang Pilih-Pilih Kasihan
Indonesia juga nggak kalah lihai dalam seni diam. Prabowo dengan jargon human security dan “perdamaian dunia” tampil keren di podium internasional, tapi Nigeria? Sunyi. Bahkan di OKI, yang seharusnya jadi wadah solidaritas umat, tak ada sepatah kata pun soal kekerasan sektarian ini.
Katanya kita negara “beradab dan menjunjung kemanusiaan”. Tapi ternyata, kemanusiaan itu tergantung siapa yang mati dan di mana.
Kalau korban Muslim di Rohingya, konferensi darurat langsung digelar. Kalau warga Palestina, dunia langsung trending #PrayForGaza. Tapi kalau yang mati Kristen kulit hitam di Afrika? Judulnya jadi “konflik lahan” atau “gesekan sosial”.
Ini bukan cuma bias agama, tapi juga rasisme terselubung. Kekerasan di Eropa disebut “ancaman terhadap peradaban”, sementara di Afrika disebut “tantangan pembangunan”.
Padahal darah itu warnanya sama, merah. Cuma bedanya, kamera dunia lebih tertarik pada yang lebih fotogenik.
#Media, Kemanusiaan Tanpa Syarat dan Sunyi yang Mengutuk
Media internasional juga punya dosa. Mereka takut dituduh islamofobia kalau bilang pelaku kekerasan adalah kelompok ekstremis Islam. Jadinya berita disamarkan jadi “konflik petani-penggembala”, seolah masalahnya cuma salah tanam jagung di tanah orang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelLalu perusahaan senjata Barat tetap jual peluru ke sana. Jadi kalau ditelusuri, genosida itu bukan cuma urusan agama, tapi juga rantai pasok ekonomi. Kemanusiaan berhenti di depan invoice.
Tulisan ini bukan soal membela satu agama. Justru sebaliknya, ini soal membela manusia. Kalau kita percaya bahwa setiap nyawa itu berharga, maka penderitaan umat Kristen di Nigeria seharusnya dapat perhatian yang sama seperti tragedi Gaza, Bosnia, atau Rohingya.
Keadilan sejati nggak punya label agama. Tapi dunia, sayangnya, punya prioritas.
Sejarah itu nggak berulang karena manusia lupa, tapi karena mereka nyaman pura-pura tuli. PBB bisa terus ceramah soal SDGs, Trump bisa selfie dengan pendeta, Prabowo bisa pidato soal “perdamaian dunia”, tapi selama mereka membiarkan desa-desa di Nigeria dibakar, mereka semua cuma pewaris sistem dunia yang busuk secara moral.
Dan kelak, sejarah akan menulis, bukan hanya siapa yang menembak, tapi siapa yang diam sambil scroll berita lain.***

*) Artikel mengalami perubahan pada bentuk penulisan, pelafalan atau penyebutan dari yang dikirim penulis, tetapi makna dasarnya tidak mengalami perubahan, disesuaikan platform TitikTerang.
**) Ruben Cornelius Siagian, aktif menulis opini di media nasional dan lokal. Jejaknya berserak di Google Scholar, Scopus, sampai ResearchGate—bukti kalau dia lebih suka debat pakai data daripada drama.