Lewati ke konten

Ekspedisi Pemburu Mikroplastik ECOTON Sisir Gresik–Solo–Semarang Ungkap Ancaman Polusi dari Hujan dan Atmosfer

| 3 menit baca |Mikroplastik | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

Tim ECOTON memulai perjalanan riset Gresik–Solo–Semarang untuk membuktikan bahwa mikroplastik kini tidak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi juga turun langsung dari langit lewat air hujan. Ekspedisi ini menjadi penanda penting bahwa ancaman plastik telah memasuki seluruh siklus hidrologi, hingga udara yang kita hirup.

#Ancaman Mikroplastik Turun ke Bumi Lewat Hujan

Melaju dari kota ke kota, mobil Tim Microplastic Hunter membawa misi riset dan edukasi: mengungkap jejak mikroplastik yang kini mengancam air, udara, dan kesehatan manusia. Tim ekspedisi Microplastic Hunter saat berhenti di rest area Madiun, Ahad, 23 November 2025 I Foto: Alaika/Ecoton

DI BAWAH hujan pertama yang menyambut perjalanan mereka, tim ECOTON mengawali Ekspedisi Pemburu Mikroplastik dengan semangat penelitian dan peringatan ekologis.

Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan melintasi rute Gresik – Solo – Semarang, tetapi sebuah upaya membongkar fakta yang selama ini kurang dipahami publik, mikroplastik tidak hanya berada di sungai, danau, atau laut. polutan sintetis berukuran serpihan itu kini terbawa angin, melayang di atmosfer, dan kemudian turun bersama presipitasi.

Setiap kali hujan jatuh di titik perjalanan, tim akan menghentikan kendaraan dan menampung air hujan menggunakan alat khusus. Sampel tersebut kemudian akan dianalisis di laboratorium ECOTON untuk mengidentifikasi jenis polimer, bentuk partikel, hingga dugaan sumber pencemarnya.

Data yang terkumpul akan menjadi fondasi penting untuk memetakan persebaran mikroplastik di jalur pantura Jawa yang padat industri dan permukiman. “Kami ingin menunjukkan bahwa mikroplastik bukan hanya berasal dari limbah domestik atau industri, tetapi kini telah masuk ke udara yang kita hirup dan hujan yang turun di atas kita,” ujar Alaika Rahmatullah, Koordinator Devisi Edukasi dan Kampanye ECOTON, Ahad, 23 November 2025, yang merupakan bagian dari tim ekspedisi.

“Data ini penting untuk mendorong pemerintah dan industri mengambil langkah serius mengurangi sumber pencemar plastik, ” tandas Alaika.

Ancaman yang dibawa ekspedisi ini bukanlah ancaman abstrak. Jika mikroplastik benar berasal dari atmosfer dan turun melalui hujan, maka seluruh populasi, baik pesisir maupun pegunungan, kota maupun desa, berada dalam risiko yang sama tanpa pengecualian.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Mencari Jejak dari Industri hingga Siklus Hidrologi

Peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengumpulkan sampel air hujan di titik perjalanan ekspedisi untuk mengidentifikasi jejak mikroplastik yang terbawa presipitasi. Foto: Ecoton

Selain pengambilan sampel hujan, tim juga melakukan pengamatan pada titik-titik rawan pencemaran, kawasan industri, jalur limpasan air, arah angin dominan, serta korelasinya dengan potensi kandungan mikroplastik di udara.

Pola yang terlihat di lapangan akan menjadi basis untuk mengungkap rantai penyebaran partikel plastik dari sumber pencemar hingga kembali ke manusia melalui hujan, air minum, atau rantai makanan.

Ekspedisi Pemburu Mikroplastik atau Microplastic Hunter ini juga menjadi ruang edukasi publik. Dokumentasi perjalanan disebarkan secara berkala untuk membuka mata masyarakat bahwa polusi plastik tidak hanya menjadi masalah laut atau pesisir, tetapi telah merembes ke sistem kehidupan yang paling mendasar, yaitu siklus air.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa ancaman mikroplastik kini muncul di seluruh siklus hidrologi, dan diperlukan kebijakan komprehensif untuk mengendalikan produksi serta konsumsi plastik sekali pakai,” ujar Prigi Arisandi, Pendiri ECOTON.

Dengan temuan yang nanti dipublikasikan, ECOTON berharap hasil ekspedisi ini bukan hanya menjadi laporan ilmiah, tetapi pemantik kebijakan dan gerakan publik. Sebab bila mikroplastik telah benar-benar jatuh dari langit bersama hujan, maka seluruh sistem pengendalian pencemaran yang ada perlu diperbarui, dan urgensi perubahan kini tak lagi bisa ditunda.

“Jika mikroplastik sudah jatuh dari langit bersama hujan, maka masalah ini sudah menyentuh seluruh kehidupan. Kebijakan pengendalian polusi plastik bukan pilihan lagi—melainkan keharusan, ” pungkas Prigi. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *