Lewati ke konten

Kejuaraan Pencak Silat Piala KONI Surabaya 2025 Jadi Arena Regenerasi Atlet Menuju Prestasi Dunia

| 4 menit baca |Rekreatif | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Lebih dari 1.500 atlet muda turun gelanggang di Surabaya dalam Kejuaraan Pencak Silat Piala KONI 2025. Ajang ini tak sekadar kompetisi, tetapi juga ruang seleksi, regenerasi, dan penguatan identitas pencak silat menuju prestasi nasional hingga global.

 

Kejuaraan Pencak Silat Piala KONI Surabaya 2025 resmi digelar di Mall City of Tomorrow, Surabaya, pada Jumat malam, 12 Desember 2025. Sejak awal, arena pertandingan dipenuhi sorak dukungan, mencerminkan besarnya antusiasme terhadap olahraga bela diri tradisional ini.

Pencak silat bukan sekadar olahraga, tetapi jati diri bangsa. Di Piala KONI Surabaya 2025, ribuan atlet muda membuktikan budaya bisa tumbuh seiring prestasi. | Foto: Ulung

Sebanyak 1.535 atlet dari 22 perguruan pencak silat ambil bagian. Jumlah tersebut melampaui ekspektasi panitia dan menegaskan kuatnya basis pencak silat di Kota Pahlawan. Bagi IPSI Surabaya, kejuaraan ini menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan.

Ketua Umum IPSI Surabaya, Bambang Haryo Soekartono, menyebut ajang ini sebagai pintu awal seleksi atlet menuju berbagai kejuaraan besar. Mulai dari Pekan Olahraga Pelajar Daerah 2026, Porprov Jawa Timur 2027, hingga Pekan Olahraga Nasional 2028.

“Dari sini kita berharap lahir juara-juara masa depan,” kata Bambang Haryo, yang akrab disapa BHS. Ia menilai tingginya partisipasi mencerminkan keberhasilan pembinaan yang telah berjalan bertahun-tahun.

#Regenerasi atlet sejak usia dini

Kejuaraan ini didominasi atlet muda, sebagian besar masih berusia pelajar. IPSI Surabaya menilai kelompok usia ini sebagai fondasi penting untuk menjaga kesinambungan prestasi.

Menurut BHS, regenerasi menjadi kunci mempertahankan tradisi juara Surabaya di tingkat provinsi. “Ini bukan lomba biasa, tetapi proses seleksi jangka panjang,” ujarnya.

Surabaya selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung atlet pencak silat nasional. Nama-nama seperti Sarah Tria Monita dan Amri Rusdana kerap dijadikan inspirasi bagi pesilat muda yang kini memulai langkah mereka.

Kejuaraan Piala KONI menjadi ruang pembuktian awal: siapa yang siap naik kelas, siapa yang perlu pembinaan lanjutan.

Bambang Haryo Soekartono, Ketua Umum IPSI Surabaya, menyampaikan optimisme regenerasi atlet pencak silat saat diwawancarai wartawan usai Piala KONI Surabaya 2025. Dari gelanggang lokal, Surabaya menatap prestasi nasional hingga dunia. | Foto: Ulung

#Solidaritas perguruan dan dukungan KONI

Ketua KONI Surabaya, Arderio Hukom, mengapresiasi penyelenggaraan kejuaraan ini. Ia menyebut keterlibatan ribuan atlet sebagai bukti kuatnya solidaritas antarperguruan silat.

“Ini menunjukkan keguyuban IPSI Surabaya,” kata Arderio. Ia juga menyoroti peran keluarga atlet yang setia mendampingi proses latihan hingga pertandingan.

Bagi Arderio, pencak silat bukan hanya olahraga prestasi, melainkan bagian dari budaya bangsa. “Silat punya masa depan dan bisa membanggakan keluarga serta daerah,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ia meyakini, dari ribuan peserta ini, akan lahir atlet yang mampu membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

#Tradisi juara dan target ambisius

Prestasi IPSI Surabaya di tingkat provinsi memang konsisten. Pada Porprov Jawa Timur 2025 di Malang Raya, Surabaya kembali menjadi juara umum untuk kesembilan kali berturut-turut.

Capaian tersebut meliputi lima medali emas, satu perak, dan lima perunggu. Menurut BHS, hasil itu tak lepas dari pembinaan berkelanjutan dan dukungan penuh KONI Surabaya.

Menatap Porprov 2027, yang akan digelar di Surabaya, target dipasang lebih tinggi. Arderio menargetkan kontribusi maksimal IPSI dalam upaya meraih 250 emas untuk kontingen Surabaya.

Sorak dukungan mengiringi langkah pesilat muda Surabaya. Piala KONI 2025 menjadi awal perjalanan menuju Porprov, PON, dan mimpi berdiri di podium internasional. | Foto: Ulung

BHS sendiri menargetkan minimal lima emas sesuai ketentuan KONI, namun optimistis bisa meraih lebih. “Main di rumah sendiri harus bisa,” katanya.

#Pencak silat, karakter, dan masa depan

Dukungan juga datang dari kalangan legislatif. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menyebut IPSI Surabaya sebagai cabang olahraga yang sarat nilai kebangsaan.

Ia menyoroti pencak silat sebagai ruang pendidikan karakter: disiplin, saling menghormati, dan fokus pada proses. Nilai-nilai itu, menurutnya, sejalan dengan Pancasila.

Di tengah era digital, pencak silat dinilai tetap relevan. Banyak atlet muda memilih berlatih intensif di padepokan, menjauh sejenak dari gawai demi mengasah kemampuan.

Pemilihan mal sebagai venue juga memberi nuansa berbeda. Olahraga tradisional ini tampil di ruang modern, lebih dekat dengan masyarakat luas.

Kejuaraan Piala KONI Surabaya 2025 akhirnya menegaskan satu hal: pencak silat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan investasi masa depan. Dari gelanggang Surabaya, harapan menuju podium dunia mulai disusun langkah demi langkah.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *