Di tengah banjir bandang dan longsor yang menelan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, para suporter sepak bola Indonesia—dari Bonek hingga Jakmania—menyatu, menanggalkan rivalitas, dan menjadi garda terdepan menyelamatkan nyawa serta membangun solidaritas kemanusiaan nyata.

Lupakan sejenak rivalitas abadi di stadion. Lupakan chant keras yang memekakkan telinga, atau gesekan antar-basis yang kadang berujung ricuh. Sekarang, sorotan kamera bukan lagi pada skill pemain di lapangan hijau, tapi pada lumpur setinggi pinggang, puing-puing rumah yang tercerai-berai, dan wajah-wajah putus asa di tiga Pulau Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Banjir bandang dan longsor telah mengubah sebagian wilayah menjadi neraka. Angka korban terus merangkak naik, dan ratusan orang dilaporkan hilang. Respons pemerintah, meski ada, terasa lamban dan belum merata. Tapi, di tengah kekosongan dan kekacauan ini, sekelompok orang yang selama ini dicap barbar, urakan, dan pembuat onar justru muncul sebagai garda terdepan kemanusiaan. Mereka adalah para suporter sepak bola Indonesia.
Ini bukan cerita tentang influencer atau artis yang pamer kedermawanan di media sosial. Ini adalah kisah tentang solidaritas yang tumbuh dari akar rumput, dari dompet tipis yang dikumpulkan di pinggir jalan, dan dari adrenalin yang biasanya meletup di tribun, kini dialihkan untuk menyelamatkan nyawa.
#Bonek: Suporter Fanatik Persebaya yang Kini Menjadi Garda Terdepan Pencarian Korban
Bayangkan ini, sebuah tim relawan yang selama ini mungkin lo kenal dari berita tawuran atau flare ilegal, kini membawa sekop, tali, dan perlengkapan SAR. Mereka adalah Bonek, suporter Persebaya Surabaya, yang melalui divisi kemanusiaan mereka, Bonek Disaster Rescue Team (BDRT), memutuskan melintasi pulau Jawa, menyeberang lautan, dan menembus lumpur Sumatera.
“Kami datang bukan untuk cari popularitas. Kami datang karena di sana ada saudara sebangsa yang lagi susah,” kata seorang koordinator BDRT yang enggan disebut namanya, dikutip dari unggahan Instagram tim mereka. Slogan lama, “Persebaya menyatukan kita, tapi kemanusiaan di atas segalanya”, terasa relevan—dan kali ini nyata, bukan sekadar tagline di spanduk.
Apa yang dilakukan BDRT di sana? Mereka tidak sekadar bagi-bagi mi instan. Mereka turun langsung ke lokasi paling parah terdampak, di mana jangkauan tim SAR resmi terbatas. Mereka terlibat dalam operasi pencarian dan evakuasi korban hilang.
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, salah satu titik terparah yang diterjang banjir lahar dingin dan longsor, relawan Bonek terlihat bahu-membahu dengan warga lokal dan tim SAR lainnya, menggali timbunan lumpur tebal yang dingin. Mereka mencari, bukan lagi harapan menemukan korban selamat, tapi untuk memberi kepastian pada keluarga yang menunggu di posko pengungsian. Sebuah tugas yang secara psikologis berat, menuntut keberanian, dan yang paling penting, empati.
“Kadang yang kami temukan bukan lagi jenazah utuh, tapi hanya bagian-bagian. Itu yang bikin kami terus kepikiran,” ujar seorang relawan muda BDRT, matanya kosong menatap derasnya sungai yang mengamuk. “Tapi kami harus terus. Bayangkan kalau itu keluarga kami.”
Inilah ironi yang menarik: mereka yang sering dikriminalisasi media—dicap “Bonek” dengan konotasi negatif—kini menunjukkan wajah kemanusiaan yang mungkin tak pernah lo lihat di berita mainstream. Aksi ini adalah tamparan keras bagi narasi yang selama ini membingkai suporter sepak bola sebagai entitas yang cuma bisa bikin onar.

#Solidaritas Lintas Tribun: Ketika Biru, Merah, dan Hijau Melebur di Lumpur
Gerakan ini ternyata tidak berhenti di Bonek. Jauh sebelum BDRT berangkat, gelombang solidaritas sudah muncul dari berbagai kelompok suporter. Dari Aceh hingga Sumatera Barat, para suporter lokal—yang notabene adalah korban atau tetangga korban—sudah bergerak. Mereka menggalang dana di jalan, mendirikan posko mandiri, dan menggunakan jaringan komunitas mereka untuk menyalurkan bantuan logistik.
Di Aceh, misalnya, saat akses jalan terputus, suporter lokal menggunakan perahu karet dan motor trail untuk menembus desa-desa terisolir. Di Medan, para suporter PSMS (SMeCK Hooligan, PSMS Fans Club) membuka donasi dan mengemas bantuan yang dikirim ke daerah-daerah pinggiran Sumatera Utara yang tak terjangkau radar media. Mereka berkoordinasi, dari markas kecil yang tiba-tiba berubah menjadi pusat logistik dadakan.
Aksi penggalangan dana dari suporter Persija Jakarta (Jakmania), Persib Bandung (Bobotoh), hingga tim-tim kecil lain di seluruh Indonesia juga mengalir deras. Mereka bukan hanya menggalang dana untuk logistik—makanan, selimut, obat-obatan—tapi juga untuk mendukung tim seperti BDRT yang bertugas di medan pencarian. Ini menunjukkan kesadaran kolektif: masalah kemanusiaan adalah gol bersama yang harus dicapai.
“Ini bukan soal ‘Siapa yang paling kuat di liga?’ atau ‘Tim mana yang paling jago?'” kata seorang Jakmania yang ikut menggalang dana di Jakarta, berdiri di bawah flyover dengan kotak kardus. “Di lapangan bencana, kita semua sama. Cuma relawan. Cuma manusia yang berusaha nolong manusia lain.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Lupakan panasnya rivalitas El Clasico Indonesia antara Persib vs Persija, atau gesekan Bonek vs Aremania. Saat Sumatera berdarah, semua atribut klub dilipat, diganti rompi relawan, dan bendera Indonesia dikibarkan sebagai satu-satunya identitas. Keadaan darurat ini adalah wasit tak terlihat yang memaksa semua jersey dari berbagai warna untuk bekerja sama, menyatukan kekuatan.
#Logistik DIY dan Jaringan Bawah Tanah
Bagaimana para suporter bisa bergerak cepat, sementara bantuan resmi sering terhambat? Jawabannya ada pada kekuatan komunitas dan struktur bawah tanah mereka.
Suporter garis keras seperti Bonek atau Jakmania memiliki jaringan solid dari Sabang hingga Merauke. Mereka tahu cara mengorganisir massa, menggalang dana cepat (biasanya dengan modal nekat dan teriakan), dan yang paling penting, mereka punya logistik Do It Yourself (DIY).
Mereka tak menunggu truk besar dari Jakarta. Mereka menggunakan mobil pick-up sewaan, bus rombongan, atau kendaraan pribadi yang dimodifikasi. Mereka tahu cara menembus blokade jalan karena terbiasa menembus blokade polisi saat away day. Kemampuan adaptasi, survivability, dan mobilitas tinggi ini menjadi aset tak ternilai di zona bencana.

“Kami tidak perlu rapat birokrasi panjang. Sekop? Kami beli. Bensin? Kami kumpulkan sekarang juga,” ujar salah satu relawan di posko kecil di Padang Pariaman. “Kecepatan adalah segalanya. Setiap jam berarti nyawa.”
#Kritik Diam-Diam terhadap Negara yang Lamban
Gerakan suporter ini, secara implisit, adalah kritik keras terhadap kinerja pemerintah dan lembaga resmi dalam penanganan bencana. Ini adalah pengingat: ketika negara absen atau lamban, selalu ada kekuatan rakyat yang siap mengambil alih. Kali ini, kekuatan itu datang dari kelompok yang sering dianggap remeh: suporter bola.
Mereka yang menggali lumpur di bawah hujan tanpa safety gear memadai mencerminkan kegagalan sistematis dalam merespons bencana yang seharusnya bisa diantisipasi.
Bagi para suporter, bencana ini adalah pertandingan yang tak bisa dimenangkan hanya dengan sorakan. Butuh kerja keras, nyali, dan risiko. Mereka membawa trauma orang lain di pundak, mencari sisa kehidupan di antara puing, tugas jauh lebih berat daripada berdiri 90 menit di tribun.
Mereka adalah potret nyata gonzo journalism versi kemanusiaan: turun ke lubang gelap, bertarung dengan lumpur dan birokrasi malas, dan menceritakan solidaritas tanpa filter.
Aksi suporter ini mengajarkan: di balik jersey dan atribut klub, ada hati terbuat dari empati. Kebisingan tribun bisa menjadi tenaga kemanusiaan dahsyat. Mereka membuktikan energi kolektif yang biasanya untuk sepak bola bisa menyelamatkan nyawa.
Kadang pahlawan sejati tak datang dari gedung pemerintahan megah, tapi dari tengah kerumunan suporter yang lo kira cuma bisa teriak-teriak. Mereka adalah garis pertahanan terakhir kemanusiaan yang terbuat dari kaos tim dan nyali. Kali ini, mereka tidak mencetak gol di gawang lawan, tapi di hati para penyintas. Bonek bilang “Avignam Jagat Samagram”. Selamatlah alam semesta.***