Lewati ke konten

Ketika Suara Muda Membuat Ruang DPRD Terdiam

| 3 menit baca |Sosok | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Tenang, jelas, dan penuh data, Aeshnina Azzahara Aqilani membuat dua anggota DPRD Jawa Timur terdiam, terkejut, dan seolah bertanya: siapa anak muda ini?

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Aeshnina Azzahara Aqilani langsung mengubah suasana ruang audiensi. Tidak ada teriakan. Tidak ada emosi meledak. Yang terdengar justru artikulasi rapi, tenang, dan penuh keyakinan. Setiap kata disusun jelas dan terdengar rapi, saat itu, Senin, 2 Februari 2026.

Di depan anggota DPRD Jawa Timur dari Komisi A, Yordan M Batara-Goa dan Freddy Poernomo, Nina – panggilan akrabnya – dari duduknya meraih mikropon di depannya di atas meja ruang anggaran DPRD Jawa Timur.

Dalam hitungan menit, sorot mata kedua legislator itu berubah. Mereka terpengah. Kaget. Pandangan mereka tertahan pada sosok muda di ruangan itu, seperti ingin bertanya dalam diam: siapa sebenarnya dia?

Nina berbicara tentang anak muda tanpa meromantisasi. Dia mengakui kebiasaan generasinya, malas, tenggelam di media sosial, menghabiskan waktu di kamar.

Namun dari pengakuan jujur itu, ia membalikkan narasi. Anak muda, kata Nina, bukan sekadar objek kebijakan, tetapi subjek yang mampu melakukan riset, mengumpulkan data primer, dan menggunakannya untuk kepentingan publik.

“Data itu bisa mengedukasi, menginformasikan masyarakat, dan mendorong pemerintah,” ujar mahasiswa Perempuan semester 2, Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya. Tentu saja dengan nada sopan.

Ia lalu menekankan, regulasi lingkungan tidak cukup hanya dibuat. Regulasi harus disosialisasikan, diimplementasikan, dan ditegakkan. Harus ada sanksi bagi pelanggaran, dan penghargaan bagi yang patuh.

Kalimat-kalimatnya mengalir tanpa jeda canggung. Tidak terdengar seperti pidato formal. Lebih menyerupai pengingat keras dari generasi yang akan hidup paling lama dengan konsekuensi krisis lingkungan.

Aksi Gen Z Jawa Timur mendesak pembentukan Perda lingkungan hidup dan meminta Gubernur Jawa Timur segera menjalankan Putusan MA Nomor 821 PK/Pdt/2025 terkait pencemaran Sungai Brantas. Foto: Amiruddin Muttaqin

#Dari Surat ke Presiden Amerika hingga Ruang Audiensi

Keberanian Nina hari itu bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan Co-Pilot River Warrior Indonesia, jaringan Gen Z penjaga sungai. Namanya pernah mencuri perhatian publik internasional ketika, di usia 14 tahun, ia berkirim surat kepada Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Saat itu Nina masih duduk di kelas 9 SMPN 12 Gresik pada tahun 2021. Di usia ketika banyak anak sibuk dengan urusan remaja, Nina menyampaikan permintaan tegas, hentikan pengiriman “limbah” ke Indonesia. Sebuah sikap yang bagi sebagian orang terdengar berani, bahkan nekat, namun bagi Nina adalah soal keadilan ekologis.

Pengalaman itu membentuk caranya berbicara, tenang, fokus, dan tidak gentar menghadapi kekuasaan. Di ruang audiensi DPRD Jawa Timur, Nina kembali mengingatkan, hak atas lingkungan bersih adalah hak dasar manusia.

Hak menghirup udara tanpa mikroplastik. Hak meminum air bersih tanpa kontaminasi. Hak yang, menurut Nina, tidak seharusnya diperjualbelikan.

“Kita tidak perlu membayar untuk hak itu,” katanya tenang. “Karena kita bagian dari alam. Kita harus kembali ke akar dan menghargai ibu bumi.”

Audiensi tersebut diikuti berbagai jaringan dan komunitas lingkungan lintas kampus yang terwadahi dalam Jaringan Generasi Z Jawa Timur Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK). Dalam forum itu, mereka secara kolektif mendesak DPRD Jawa Timur segera menyusun peraturan daerah tentang persampahan, khususnya pembatasan plastik sekali pakai.

Jaringan itu terdiri atas Replazt dari Universitas Jember, Zero Micro dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Cakra Greenlife dari Universitas Negeri Malang, Nature dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Bersedia Pulih dari Universitas Trunojoyo Madura, ECOTON, ECOINSIGHT dari Universitas Negeri Surabaya, serta River Warrior Indonesia.

Seluruhnya bergerak di bawah koordinasi Posko Ijo. Namun di antara banyak suara, Nina menjadi titik hening yang paling terasa. Ia menutup penyampaiannya dengan kalimat yang sederhana namun menggugah. “Jika benar-benar sayang pada anak muda, lingkungan, dan kesehatan, maka tindakan harus dilakukan sekarang. Bukan nanti, “ ucap Nina.

Karena, seperti yang ia katakan, aksi hari ini adalah masa depan kita.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *