Lewati ke konten

Ketika Sungai Masih Jujur: Polisi Air Jombang dan Fakawele Maluku Utara Belajar dari Air yang Tak Mau Bohong

| 5 menit baca |Sorotan | 37 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

JOMBANG – Di Wonosalam, Jombang, kabut pagi belum bubar ketika sekelompok siswa SMP terlihat menenteng jaring plankton dan nampan plastik ke tepi sungai pada Minggu, (5/10/2025). Orang yang tidak tahu mungkin mengira mereka mau main air. Tapi tidak.

Anak-anak ini adalah bagian dari Komunitas Polisi Air SMPN 1 Wonosalam, pasukan kecil penjaga air yang sudah hafal aliran Sungai Gogor di Wonosalam, seperti hafalnya lirik lagu “Ojo mbok Dibandingke…”

Hari itu, mereka tidak sendiri. Ada delapan tamu istimewa datang jauh dari Maluku Utara, menamakan diri Komunitas Fakawele—kelompok pecinta sungai yang tengah berjuang menyelamatkan air dari serbuan tambang nikel.

Mereka datang bukan untuk wisata, tapi untuk belajar dari anak SMP tentang bagaimana memantau kualitas air dengan metode Biotilik.

Ya, di zaman ketika banyak orang dewasa sibuk debat di ruang ber-AC soal “pembangunan berkelanjutan,” anak-anak ini justru turun langsung ke sungai. Dan menariknya, mereka melakukannya dengan penuh tawa.

#Dari Maluku Utara ke Wonosalam: Belajar dari Air yang Gemericik

Delapan anggota Fakawele — Adlun Fikri, Awaludin Iksan, Isnain Fabanyo, Arya Kamal, Nurjana Rustam, Syarul Ahdani, Jusman Rusman, dan Rasni Ridwan — datang dengan semangat belajar tinggi.

“Kami datang untuk belajar cara praktis dan efisien memantau kondisi air, terutama teknik yang dilakukan adik-adik Polisi Air di sini,” ujar Adlun Fikri, Direktur Eksekutif Fakawele, sambil menatap air Sungai Gogor yang jernih.

Bagi mereka, air adalah urusan hidup dan mati. Di Maluku Utara, sungai-sungai kini mulai berubah warna. Ikan menghilang, air yang dulu bisa langsung diminum kini harus disaring dua kali, itupun masih ragu. “Tambang nikel di sana sudah terlalu dekat dengan kehidupan warga,” lanjut Adlun.

Menyaksikan anak SMP di Jombang dengan santai mengidentifikasi biota air adalah pemandangan yang menghangatkan hati—dan mungkin, sedikit menyentil batin.

#Biotilik: Ketika Jaring, Nampan, dan Rasa Ingin Tahu Jadi Alat Ilmiah

Metode yang digunakan Polisi Air ini disebut Biotilik—cara sederhana tapi ilmiah untuk menilai kesehatan sungai dengan mengamati makhluk kecil di dalamnya.

Tidak ada alat sensor mahal, tidak ada laboratorium berpendingin ruangan. Hanya jaring plankton, nampan putih, sendok plastik, dan rasa ingin tahu.

Anak-anak menebar jaring ke aliran air, lalu memunguti serangga kecil, udang, siput, dan kepiting yang ikut terperangkap. Setiap biota dikumpulkan, diidentifikasi, lalu dihitung jenisnya.

Dari kegiatan itu, mereka menemukan 20 famili biotilik, sebagian besar termasuk golongan biota yang sangat sensitif terhadap pencemaran. Artinya, kalau mereka masih bisa hidup di sana, berarti airnya sehat.

Dan hasilnya? Indeks Biotilik Sungai Gogor mencapai 3,75%, masuk kategori “Tidak Tercemar (Paling tidak)”. Dalam bahasa orang kampung, airnya masih jujur, belum diganggu limbah atau proyek.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya statistik. Tapi bagi anak-anak Polisi Air, itu bukti cinta. Bukti bahwa mereka berhasil menjaga sesuatu yang bahkan banyak orang dewasa sudah lupa caranya: peduli.

#Sungai Gogor dan Buangan Kotoran Hewan

Hanya saja, Sungai Gogor sempat kehilangan kejernihannya. Air bening ini, sesekali berubah warna, disertai bau menyengat yang menusuk hidung. Warga di sekitar bantaran sungai, tanpa sadar, membuang kotoran hewan peliharaan langsung ke aliran air.

Dalam waktu singkat, kadar nitrogen dan fosfor meningkat, sementara bakteri berkembang biak di luar kendali. Sungai yang seharusnya jadi sumber kehidupan berubah menjadi saluran kotoran hewan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Air masih bersih tapi ya ini kotoran hewan ,” kata Arum Wismaningsih Pembina Polisi Air yang ikut mendampingi.

Pemandangan itu seperti pengingat pelan, bahwa kerusakan lingkungan sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dibiarkan. Bukan karena rakyat tak peduli, tapi karena sistem pengelolaan limbah, termasuk kotoran hewan yang tak pernah benar-benar hadir.

“Kalau pemerintah cuma nunggu laporan, ya sungai keburu mati duluan,” tambah Arum Wismaningsih dengan nada getir.

Kini, di antara aroma kotoran yang masih sesekali melintas, Sungai Gogor tetap berusaha hidup. Alirannya mungkin lemah, tapi semangat anak-anak binaan Polisi Air yang tiap minggu turun membersihkan sungai, masih mengalir kuat.

#Dari Sungai ke Kesadaran: Air yang Menghubungkan Pulau

Kegiatan hari itu tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tapi juga menumbuhkan persahabatan lintas pulau. Anak-anak Jombang dan tamu dari Maluku Utara duduk di tepi Sungai Gogor, membandingkan cerita sambil menatap aliran air yang tenang dan gemericik.

Yang satu bercerita tentang sungai di Maluku Utara yang kini ditambang. Airnya berubah warna, ikan yang dulu mudah ditangkap kini hanya tinggal kenangan. Ada nada getir di setiap kata, seperti arus sungai yang perlahan kehilangan arah.

Yang lain menatap Sungai Gogor, menghela napas saat aroma kotoran hewan sesekali lewat di permukaan.

“Air itu punya ingatan,” ujar Jusman Rusman, salah satu anggota Komunitas Fakawele. “Kalau kita kotori hari ini, dia akan kembali mencari kita besok.”

Kata-katanya menggantung di udara, seperti doa sekaligus peringatan. Anak-anak Jombang mendengarkan diam-diam, sebelum salah satu dari mereka tersenyum kecil dan berkata bahwa Sungai Gogor masih jernih, masih banyak serangga air, dan belum “dikerjai” industri.

Sebuah kalimat polos yang terasa seperti pengharapan kecil dari generasi yang masih percaya bahwa alam bisa diselamatkan.

Namun, di balik kejernihan itu, warga tahu ada ancaman yang mengintai. Sudah lama mereka berharap ada penanganan serius, terutama terhadap pembuangan limbah ternak yang mengalir ke sungai.

“Kalau saja ada digester sederhana—tangki tertutup yang bisa mengubah kotoran jadi energi biogas—semuanya bisa beres,” ucap Arum.

Selain mengurangi pencemaran, hasilnya bisa dipakai untuk memasak. Tapi, ya begitulah, Pemkab Jombang tampaknya lebih sibuk mencetak baliho bertuliskan “Jombang Asri dan Hijau” ketimbang mengolah limbah jadi manfaat.

Sungai Gogor hari itu jadi saksi kecil bagaimana air bisa menyatukan dua pulau, dua cerita, dan dua kenyataan yang berbeda, satu tentang tambang, satu tentang ternak. Dan di antara keduanya, ada satu harapan yang sama—bahwa air, seberapa pun keruhnya, selalu tahu jalan pulang menuju kesadaran manusia.

#Air Tak Pernah Bohong

Air tidak pernah pandai berpura-pura. Kalau kotor, ia jujur menunjukkan keruhnya. Kalau bersih, ia berkilau tanpa promosi. Dan di Sungai Gogor hari itu, air masih jujur—bening, tenang, dan membawa harapan.

Sementara banyak orang dewasa sibuk berdebat soal “masa depan hijau,” sekelompok anak SMP di Jombang sudah lebih dulu membuktikan, masa depan itu dimulai dari tangan-tangan kecil yang percaya bahwa sungai adalah rumah, bukan halaman belakang industri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *