DI KAKI Pegunungan Argopuro, Desa Suci mulai bertransformasi menjadi kampung yang tidak hanya adem hawa udaranya, tapi juga adem secara ekologis. Warganya sepakat bahwa cuan boleh, tapi sungai tetap harus bening dan tanah tetap subur.
Dengan menggandeng Faperta UNEJ dan ECOTON Foundation, masyarakat Desa Suci merumuskan konsep Kampung Proklim yang bukan sekadar ikut-ikutan program pemerintah. Mereka sungguh-sungguh ingin menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim bisa dilakukan sambil menjaga dapur tetap ngebul.
#Suaka Sungai: Dari Air Minum sampai “Beningnya Harapan”

Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak diberi nama “Suci” untuk estetika belaka. Desa ini berada tepat di kaki Pegunungan Argopuro dan memiliki mata air Sumber Suci—hulunya sungai yang menjadi denyut nadi kehidupan warga.
Di tengah isu global perubahan iklim, masyarakat desa makin sadar bahwa menjaga air bukan sekadar urusan lingkungan, tapi urusan masa depan. Dari kesadaran itulah semangat Desa Suci untuk terjun ke program Kampung Proklim tumbuh dan menguat.
Fakultas Pertanian Universitas Jember (Faperta UNEJ), dengan dukungan Kemendiktisaintek, mengidentifikasi tiga isu utama yang harus menjadi fondasi, suaka sungai, zero waste village, dan pertanian berkelanjutan.
Tiga isu ini bukan hanya sesuai dengan kondisi geografis Desa Suci, tetapi juga relevan dengan kehidupan warga yang sehari-hari menggantungkan hidup pada air, tanah, dan keberlanjutan ekosistem.
Parmuji, penggagas Bank Sampah Larahan Makmur, sudah lama menyuarakan pentingnya menjaga sungai. Baginya, sungai bukan hanya aliran air, melainkan urat nadi desa.
“Air ini bukan cuma buat diminum, tapi juga untuk nyawanya sawah. Kalau sampai tercemar, yang rugi bukan cuma petani, tapi semua warga. Jadi ya wajib hukumnya sungai dijaga,” tegas Parmuji. “Menjaga sungai adalah strategi bertahan hidup, ketika air rusak, ekonomi pun ikut rontok, “ tegasnya
Dalam workshop yang digelar Senin, 17 November 2025, ketiga isu tersebut akhirnya disepakati sebagai tema sentral pengembangan Kampung Proklim Desa Suci.
Sementara itu Evi Lestari, pemateri sekaligus anggota TP3D Jember, menyebut Desa Suci memiliki modal ekologis dan sosial yang tidak dimiliki banyak desa lain. “Desa Suci ini unik. Masyarakatnya sudah punya kesadaran, punya gerakan, dan punya kemauan. Tinggal kita perkuat agar mereka benar-benar menjadi contoh nasional,” ujar Evi.
Ia juga menilai Desa Suci sangat potensial menjadi role model Kampung Proklim tingkat nasional. “Apalagi dengan dukungan akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat yang aktif. Pemerintah Kabupaten Jember pun memberi dukungan penuh agar upaya ini tidak mandek di ruang diskusi, tetapi tumbuh menjadi aksi nyata, “ ungkapnya.
#Zero Waste Village: Perang Melawan Sampah Sekali Pakai
Masalah sungai ternyata tidak berhenti pada sedimentasi atau lumpur musiman. Prigi Arisandi dari ECOTON Foundation mengingatkan bahwa musuh terbesar sungai saat ini justru tak kasat dari jauh: limbah popok dan pembalut sekali pakai. Sampah-sampah ini tidak hanya merusak estetika sungai, tetapi juga meracuni ekosistemnya secara perlahan.
“Ini salah satu penyebab utama tercemarnya ekosistem sungai di banyak daerah. Di titik inilah konsep suaka sungai menjadi sangat relevan, bukan hanya melindungi biota air, tetapi juga mencegah sampah domestik mengalir seenaknya,” terang Prigi. Ia menegaskan bahwa menjaga sungai berarti menjaga kualitas hidup seluruh warga desa.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Menurut Prigi, PP 22/2021 sudah sangat gamblang, sungai harus nihil sampah. Tidak ada ruang untuk kompromi. Karena itu, konsep zero waste village tidak boleh berhenti pada jargon manis yang ditulis di spanduk atau baliho kegiatan desa. Ia harus menjelma menjadi kebiasaan baru, budaya baru, dan tata kelola baru.
“Dengan pendekatan ini, Desa Suci perlahan mengatur budaya buang sampah warganya, menekan limbah plastik, dan memperkuat peran bank sampah,” jelasnya.
Lebih dari itu, penetapan suaka sungai mulai dari mata air hingga 200 meter aliran awal menjadi benteng pertama pertahanan ekologis. Dalam simbolisasi kegiatan tersebut, benih ikan wader, spesies endemik yang sensitif terhadap pencemaran, ditabur ke sungai. Sebuah ritual kecil yang maknanya besar, sungai harus tetap sehat.
“Sebab kalau wadernya hilang, itu isyarat kuat bahwa ada yang tidak beres, bisa karena sampah, bisa karena limbah, atau bisa juga karena manusia yang terlalu terburu-buru ingin modern tetapi lupa mengurus lingkungan, “ urai Prigi.

#Pertanian Berkelanjutan: Dari “Bata Bolong” hingga Pupuk Organik Super Cepat
Sementara itu, Ihsannudin, dosen Penyuluhan Pertanian Faperta UNEJ, mengingatkan bahwa lebih dari 53% penduduk Desa Suci menggantungkan hidupnya dari pertanian. Karena itu, membicarakan Kampung Proklim tanpa menyentuh sektor pertanian, menurutnya, adalah seperti menyajikan rawon tanpa kuah, “Tidak lengkap dan bikin kecewa,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ia menegaskan bahwa pertanian berkelanjutan adalah komponen mutlak, bukan pelengkap dalam ekologi, sekaligus kesejahteraan desa. “Bahwa limbah pertanian seharusnya dapat didayagunakan kembali menjadi penyubur lahan melalui inovasi yang sederhana, murah, dan bisa dikerjakan semua petani, “ ucapnya. “Salah satunya adalah teknologi Bata Bolong, metode pengolahan limbah pertanian yang menghasilkan pupuk organik bernutrisi tinggi hanya dalam waktu 30 hari.”
Teknologi Bata Bolong kini mulai diterapkan oleh Poktan Tani Harapan. Dampaknya langsung terasa. Petani pun tidak perlu lagi menunggu berbulan-bulan untuk memproduksi pupuk organik, apalagi harus mengeluarkan modal besar. “Limbah pertanian yang dulu dianggap sampah kini berubah menjadi aset yang memperkuat kesehatan tanah, “tandas Ihsan.
“Hasil pupuk organik yang dihasilkan mampu menjaga struktur tanah, tetap gembur dan sehat. Dengan cara ini, produktivitas pertanian meningkat tanpa harus merusak ekosistem. Pendek kata, ekonomi bisa tetap mbois tanpa harus merobohkan fondasi ekologisnya, ulas Ihsan.
Pada akhirnya, kolaborasi Faperta UNEJ, ECOTON Foundation, pemerintah daerah, dan masyarakat Desa Suci membuktikan bahwa adaptasi perubahan iklim bukan melulu wacana seminar. Ia bisa turun menjadi aksi nyata yang sederhana tetapi konsisten, menjaga sungai, mengolah sampah, dan memperbaiki tanah.
Karena desa yang benar-benar “mbangun” bukanlah desa yang ramai baliho, melainkan desa yang airnya bening, tanahnya subur, dan warganya hidup tenang tanpa dihantui masa depan yang remuk karena kelalaian hari ini. Lestari!***