SURABAYA – Ada pepatah lama di dunia penyiaran: “Kalau nggak tahu, jangan sok tahu.” Tapi sepertinya pepatah itu belum sempat mampir ke ruang redaksi salah satu stasiun televisi nasional—Trans7—yang baru-baru ini bikin geger gara-gara tayangan beraroma SARA dan disinformasi tentang pondok pesantren.
Bayangkan saja: di tengah upaya menjaga harmoni antarumat beragama, tiba-tiba muncul program TV yang menggambarkan pesantren seperti sarang misterius penuh rahasia gelap. Lengkap dengan editing dramatis, musik tegang, dan narasi yang seolah-olah santri itu anggota organisasi rahasia.
Kalau santri melihat tayangan itu, mungkin mereka cuma geleng-geleng sambil bilang: “Mas, ini pesantren, bukan film konspirasi dajjal.”
#KPID Turun Tangan: Dari Santri yang Geram sampai Kiai yang Lapor
Kegaduhan ini akhirnya sampai ke meja Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur.
Ketua KPID Jatim, Royin Fauziana, bilang lembaganya menerima banyak laporan dari masyarakat dan tokoh pesantren. Mereka keberatan karena tayangan itu bukan hanya tak akurat, tapi juga menyinggung nilai-nilai yang mereka junjung tinggi.
“Kami menilai ada indikasi pelanggaran terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS),” ujar Royin. Kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: “Tolonglah, jangan main-main dengan agama.”
Royin mengingatkan bahwa televisi itu media publik, bukan ruang eksperimen fantasi. “Penyiaran harus memperkuat toleransi, bukan sebaliknya. Tayangan dengan narasi yang mengarah pada stigma terhadap kelompok tertentu jelas bertentangan dengan semangat keberagaman bangsa,” tegasnya.
Artinya jelas: kalau mau bikin acara tentang pesantren, ya datanglah ke pesantren, bukan ke ruang imajinasi penulis naskah.
#Disinformasi dan Dramatisasi: Fakta yang Disulap Jadi Fiksi
Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Jatim, Aan Haryono, juga ikut bicara. Ia menyebut tayangan itu mengandung fabrikasi konten.
“Kami menemukan adanya manipulasi narasi dan penyuntingan gambar yang menimbulkan kesan seolah-olah pesantren itu tempat yang tertutup dan ekstrem,” jelas Aan.
Kalau diterjemahkan lebih bebas: “Yang kalian tonton itu bukan dokumenter, tapi fiksi dengan gaya dokumenter.”
Padahal, pesantren di Jawa Timur bukan cuma tempat belajar agama, tapi juga pusat ekonomi, sosial, dan kadang jadi arena stand-up comedy dadakan saat istirahat malam. Tapi semua itu menguap ketika kamera TV lebih memilih sorot gelap dan musik mencekam.
Aan menegaskan bahwa KPI tidak melarang kritik atau kajian terhadap agama, tapi ya tolong pakai etika dan data. “Ketika imajinasi televisi justru menggantikan fakta, maka yang lahir adalah disinformasi,” katanya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
TitikTerang hadir di WhatsApp
#Pesan KPID: Jangan Ubah Keberagaman Jadi Konten Viral
KPID Jatim juga mengingatkan lembaga penyiaran lain agar tidak asal comot tema keagamaan hanya demi rating. Kalau televisi mulai kehilangan arah, dampaknya bukan cuma penonton yang bingung—tapi juga masyarakat yang terbelah.
Mereka meminta stasiun TV memperkuat sistem verifikasi konten dan melibatkan narasumber yang kompeten, bukan “ahli kilat” yang tiba-tiba muncul karena punya followers banyak.
Kami terus mendorong penyiaran yang mencerdaskan, menyejukkan, dan menjaga kohesi sosial, tutup Royin.
KPID Jatim bahkan berencana melaporkan hasil aduan masyarakat ke KPI Pusat dan menyusun rekomendasi kebijakan agar literasi penyiaran berbasis agama dan budaya diperkuat.
Karena jujur saja, negeri ini sudah cukup ramai tanpa perlu ditambah bumbu fiktif dari televisi yang lupa bedain antara realita dan drama.
#Trans7 Akhirnya Ngaku Lelah, Duduk Bareng Himasal
Momen langka terjadi pada 14 Oktober 2025, saat perwakilan Trans7 duduk bersama Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Jabodetabek. Tujuannya, membahas tayangan yang menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Di ruangan mediasi yang jelas bukan arena tinju, Direktur Produksi Trans7, Andi Chairil, tampil tegas tapi penuh kesadaran. Ia mengakui bahwa kelalaian terjadi, meski materi berasal dari production house (PH).
“Trans7 mengakui kelalaian walaupun itu materi atau konten dari PH, tetapi Trans7 tidak lepas dari tanggung jawab untuk itu,” ujar Andi.
Kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: “Ya, ini kesalahan kami, meski ada tangan-tangan lain yang ikut campur. Tapi tetap, kami yang harus minta maaf.”
Andi menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi internal dan memperbaiki mekanisme pengawasan tayangan, supaya hal serupa tidak terulang lagi. Janji ini jelas: tidak ada lagi santri garuk-garuk kepala gara-gara dramatisasi berlebihan.***