Kontroversi komedi politik Pandji Pragiwaksono menguji kedewasaan demokrasi, kebebasan berekspresi, dan batas toleransi publik Indonesia hari ini.
Pertunjukan stand-up comedy Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono bukan sekadar hiburan populer. Dirilis di Netflix pada akhir 2025 dan disaksikan puluhan ribu orang secara langsung di Indonesia Arena, pertunjukan ini menandai fase baru komedi Indonesia: semakin terbuka, politis, dan sadar posisi sosialnya. Tak mengherankan bila Mens Rea kemudian memicu perdebatan luas, bahkan berujung pada laporan polisi.

Dalam tradisi demokrasi, komedi, terutama satire. Selalu memiliki fungsi kritik sosial. Humor bekerja dengan cara membalik logika, menyorot absurditas, dan mengungkap kontradiksi kekuasaan. Pandji, sebagai komika senior, menggunakan panggung Mens Rea untuk membedah praktik politik, relasi agama dan kekuasaan, hingga ketimpangan yang kerap dinormalisasi dalam kehidupan bernegara. Tawa yang lahir bukan tawa ringan, melainkan tawa getir: tertawa sambil menyadari ada yang keliru.
Judul Mens Rea, istilah hukum yang berarti niat batin di balik suatu perbuatan, menjadi metafora utama pertunjukan ini. Pandji tidak sekadar menertawakan gejala, melainkan mempertanyakan motif: niat di balik kebijakan, retorika, dan simbol-simbol moral yang dipertontonkan di ruang publik. Dalam konteks ini, komedi berfungsi sebagai cermin sosial – memantulkan realitas yang sering kali enggan kita tatap secara serius.
#Kontroversi dan Ketegangan Kebebasan Berekspresi
Masalah muncul ketika sebagian materi Mens Rea dilaporkan ke kepolisian dengan tuduhan penghasutan dan penistaan agama. Terlepas dari siapa pelapornya, peristiwa ini memperlihatkan ketegangan lama dalam demokrasi Indonesia: sejauh mana kebebasan berekspresi boleh berjalan, dan di mana batasnya harus ditarik.
Indonesia memang menjamin kebebasan berpendapat, tetapi pada saat yang sama memiliki regulasi yang multitafsir, seperti UU ITE dan KUHP baru yang mulai berlaku penuh pada 2026. Dalam praktiknya, aturan-aturan ini kerap digunakan untuk merespons ekspresi kritis, terutama yang menyentuh isu sensitif seperti agama dan politik. Akibatnya, ruang diskusi publik menjadi rapuh dan mudah terancam kriminalisasi.
Yang perlu dicermati, kritik terhadap penggunaan agama dalam politik tidak serta-merta sama dengan penistaan agama. Perbedaan ini tipis, tetapi sangat penting. Satire politik bekerja dengan menyoroti praktik sosial, bukan menyerang keyakinan teologis. Jika setiap kritik dianggap sebagai penghinaan, maka ruang dialog akan menyempit, dan demokrasi kehilangan salah satu penyangganya: kebebasan untuk mengoreksi kekuasaan.
Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, sensitivitas memang diperlukan. Namun sensitivitas tanpa konteks bisa berubah menjadi alat pembungkaman. Di titik inilah negara dan masyarakat diuji: apakah mampu membedakan kritik, satire, dan ujaran kebencian secara jernih.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Menjaga Demokrasi, Merawat Akal Sehat
Respons publik terhadap Mens Rea menunjukkan bahwa masyarakat tidak tunggal. Ada yang merasa tersinggung, ada pula yang merasa terwakili. Di media sosial, banyak suara -terutama dari generasi muda – yang melihat pertunjukan ini sebagai pintu masuk memahami politik dengan cara yang lebih dekat dan manusiawi. Humor, dalam hal ini, menjadi medium literasi politik alternatif.
Dalam sejarah demokrasi, seniman dan komedian sering kali berada di garis depan kritik kekuasaan. Mereka tidak menawarkan solusi teknokratis, tetapi mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kerap dihindari. Ketika ruang ini dipersempit oleh ancaman hukum, yang hilang bukan hanya kebebasan seniman, melainkan juga akal sehat publik.
Tentu, kebebasan berekspresi bukan tanpa batas. Namun pembatasannya harus proporsional, jelas, dan tidak reaktif. Menghadapi karya seni yang kontroversial, dialog publik jauh lebih sehat dibandingkan jalur kriminal. Organisasi masyarakat sipil, tokoh agama, dan negara memiliki tanggung jawab moral untuk merawat ruang diskusi, bukan memperkeruhnya.
Mens Rea pada akhirnya adalah ujian, bukan hanya bagi Pandji Pragiwaksono, tetapi bagi demokrasi Indonesia itu sendiri. Apakah kita cukup dewasa untuk menerima kritik yang dibungkus tawa? Atau justru memilih membungkamnya demi rasa aman semu?
Di tengah tantangan politik dan sosial yang kian kompleks, masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang refleksi, bukan lebih banyak ketakutan. Komedi mungkin tidak mengubah dunia secara langsung, tetapi ia membantu kita melihat dunia apa adanya. Dan dalam demokrasi, itu adalah awal yang penting.***