Aroma kecut yang menyembur dari ompreng makan bergizi gratis (MBG) membuat sejumlah sekolah di Kota Mojokerto terpaksa mengembalikan paket. Di SD Muhammadiyah Plus, tumpukan ompreng tak tersentuh jadi pemandangan tak biasa. Polemik pun bergulir, menyentuh dapur SPPG Purwotengah hingga meja Dinas Pendidikan.
#Aroma Kecut yang Membuyarkan Selera
SD Muhammadiyah Plus di Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto, berubah dari riuh ceria menjadi penuh tanda tanya pada Kamis pagi, 27 November 2025. Di pendapa depan sekolah, tumpukan ompreng paket MBG tersusun rapi. Kendati rapi tetapi tak satu pun disentuh oleh siapapun. Ketika tutupnya sedikit dibuka, aroma kecut langsung menusuk, seperti tanda bahaya yang dipasang oleh hidung sebelum lidah sempat ikut campur.
Rosdliyah, kepala sekolah, masih ingat jelas bagaimana semuanya bermula, seorang guru penasaran mencicipi kuah bakso dalam menu hari itu. Bakso, nasi, mie, tahu putih, dan jeruk. “Rasanya agak kecut,” katanya.
Kalimat yang sederhana namun cukup untuk menghentikan ratusan sendok kecil bergerak. Beberapa siswa sudah sempat makan, tapi tak satu pun menyelesaikan porsinya.
Tak ingin mengambil risiko, pihak sekolah bergerak cepat. Laporan dilayangkan ke pengelola SPPG dan Dinas Pendidikan. “Besok diganti menu keringan. Jadi besok dobel. Ada 299 siswa yang menerima MBG,” ujar Rosdliyah, memastikan bahwa makan siang anak-anak tak boleh bergantung pada keberuntungan rasa.
Yang menarik, SD Muhammadiyah ternyata bukan satu-satunya. Di lapangan, kabar serupa datang dari sekolah lain dengan suplai MBG dari titik yang sama. Ada TK Bhayangkari, SDN Gedongan 1, hingga SD Katolik yang juga mengendus keganjilan pada menu hari itu.
#Pengakuan dari Dapur SPPG
Heri Kiswanto, pengelola SPPG Purwotengah, tak menutup-nutupi. Ia mengakui kesalahan hari itu. “Iya, mohon maaf. Itu menunya kuah dan bakso dicampur terus masih panas lalu ditutup. Penyebab kecutnya di situ. Harusnya bakso dan kuah dipisah,” katanya tanpa tedeng aling-aling.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMenu berkuah memang punya musuh alamiah, waktu dan panas. Dan ketika keduanya dibiarkan bertarung dalam wadah tertutup, hasil akhirnya bisa jadi drama dapur seperti hari itu.
Heri menyebutkan bahwa distribusi hari itu juga telat, memperbesar peluang aroma tak sedap muncul tanpa kompromi.
Sebagai tindak lanjut, ia menawarkan penggantian menu di hari yang sama, tetapi sebagian sekolah meminta penggantian besok saja—menu keringan dua porsi ditambah makanan ringan satu. “Besok diganti,” tegas Heri. Hanya sekolah yang melayangkan komplain yang memperoleh penggantian; keputusan yang menurutnya mengikuti prosedur.
Ahli gizi pun sudah turun ke lapangan, memastikan bahwa masalah ini tidak merembet ke isu kesehatan yang lebih besar. Namun Heri tetap menutup penjelasannya dengan kalimat yang paling dibutuhkan hari itu: “Intinya kami minta maaf.”
Insiden aroma kecut ini mungkin tidak berumur panjang, tetapi cukup memberi satu catatan penting, program makan bergizi bukan hanya soal memberikan makanan, tetapi memastikan bahwa setiap hidangan tiba dengan selamat, di piring, di perut, dan di kepercayaan publik.***