Lewati ke konten

Operator Sekolah: Penjaga Server yang Tak Pernah Masuk Buku Sejarah

| 4 menit baca |Opini | 15 dibaca

Kalau kita bicara “pahlawan tanpa tanda jasa”, yang kebayang pasti guru. Padahal, di balik layar LCD proyektor kelas, ada “pahlawan” lain yang kerjanya juga bikin stres, tapi jarang dapat sorotan: operator sekolah.

Iya, itu lho, manusia yang hidupnya diapit antara Excel dan server pusat, yang jam kerjanya kadang lebih panjang dari jam belajar siswa. Mereka ibarat juru masak di dapur data pendidikan, tapi jarang masuk kamera.

 #Server Lemot, Kopi Kuat

Ketika kita semua masih rebahan scrolling TikTok, operator sekolah sudah mulai “battle royale” dengan server Dapodik. Pukul 03.00 pagi mereka ngopi bukan untuk nongkrong, tapi untuk mengunggah data siswa. Server pusat lemot? Jangan tanya. Kadang rasanya kayak main Counter Strike zaman warnet tahun 2000-an—ping-nya merah semua.

Dan lucunya, ketika server pusat error, siapa yang disalahkan? Ya operator sekolah. Sama seperti kasir Indomaret yang jadi samsak emosi pelanggan karena mesin EDC error padahal bukan dia yang bikin.

Bahkan, tak jarang mereka harus merogoh kocek sendiri buat beli kuota tambahan atau upgrade laptop supaya kerjaan lebih lancar. Ironisnya, sekolah sering menganggap itu bagian “pengabdian” bukan biaya operasional. Jadi jangan heran kalau ada operator sekolah yang kabel chargernya sudah disolasi sana-sini, tapi tetap dipaksa kerja secepat superkomputer NASA. Mereka ini definisi nyata “kerja bakti digital” di abad 21.

 #Dari Tukang Input Jadi Tukang Tanggung Jawab

Bayangkan Anda disuruh masukkan data ribuan siswa, guru, plus segala macam variabel sekolah: mulai dari NIK sampai berat badan ayam peliharaan OSIS (oke ini hiperbola, tapi kira-kira begitu). Kalau ada yang salah, guru marah. Kalau lambat, kepala sekolah cemberut. Kalau server pusat macet, kementerian diam.

Operator sekolah bukan cuma tukang ketik; mereka itu penjaga pintu gerbang data pendidikan. Tanpa mereka, sertifikasi guru bisa mandek, BOS telat cair, siswa gagal ikut ujian nasional berbasis komputer. Tapi status mereka? Masih abu-abu.

Lebih parah lagi, tanggung jawab mereka sering tidak sebanding dengan status dan honor yang diterima. Ada yang statusnya honorer, ada yang bahkan cuma dicatat “bantu-bantu IT” padahal kerjaannya lebih berat dari staf administrasi. Jadi ketika data kacau, mereka dimaki; ketika data lancar, mereka cuma dapat ucapan “mantap, ya” di grup WhatsApp. Ini ibarat jadi kiper tim futsal: kalau kebobolan disalahkan, kalau clean sheet cuma ditepuk pundaknya sebentar.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

 #Dibutuhkan: Pengakuan, Bukan Sekadar Login

Negara sering menganggap operator sekolah cuma ID pengguna sistem: bisa login, bisa logout. Padahal mereka manusia juga. Mereka punya anak, punya cicilan, punya sakit pinggang karena duduk lama di depan laptop. Tapi pengakuan formal dan honor yang layak? Masih jadi wacana yang menguap.
Bayangkan jika suatu hari operator sekolah kompak mogok kerja. Sistem pendidikan digital kita akan amburadul seketika, seperti dokumen ujian yang diacak-acak kucing.

Karena budaya kita memang sering memuja panggung depan dan melupakan panggung belakang. Guru dapat piagam. Kepala sekolah dapat foto di spanduk. Operator sekolah? Paling banter dapat mention di grup WA “Terima kasih ya Pak/Bu sudah input datanya”. Itu pun sering cuma formalitas.

Di era digitalisasi pendidikan, posisi mereka seharusnya naik kelas jadi “pekerja profesional”, bukan sekadar “anak magang abadi” yang gajinya nggak jelas.

#Saatnya Operator Sekolah Jadi Subjek, Bukan Objek

Kalau guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa, operator sekolah ini pahlawan tanpa tanda login. Kita semua menikmati hasil kerjanya, tapi jarang menghargai prosesnya. Saatnya kita berhenti menganggap mereka cuma tukang input data. Mereka layak diberi pelatihan, insentif jelas, bahkan jalur karier yang manusiawi.
Kalau tidak, suatu saat kita bakal panik sendiri: guru bingung sertifikasi, BOS telat cair, data siswa kacau balau. Di situ baru terasa pentingnya mereka.

Mungkin kita perlu lebih serius bicara tentang nasib operator sekolah. Jangan tunggu mereka berhenti bekerja baru kita sadar. Mereka ini seperti penjaga gawang yang tidak pernah masuk highlight, tapi ketika absen, tim kebobolan.
Jangan sampai sistem pendidikan kita cuma megah di PowerPoint kementerian, tapi rapuh di ujung jari orang-orang yang memasukkan datanya.

 

Penulis: Ulung Hananto, pekerja sosial, pernah aktif di Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia [IMIKI] | Editor: Supriyadi

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *