Lewati ke konten

Rejeki Jelantah Kampung SIBA KLASIK Gresik: Dari Minyak Bekas Jadi Duit Masuk dan Energi Terbarukan

| 4 menit baca |Ide | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

DI KAMPUNG SIBA KLASIK, Gresik, Jawa Timur, minyak jelantah bukan lagi limbah. Warga di sana justru berebut menyetor tetesan terakhir dari wajan mereka ke alat bernama Ucollect Box. Dari dapur ke dompet digital, minyak bekas berubah jadi uang, dan lingkungan pun tak lagi harus menanggung residu dosa gorengan.

Dulu minyak jelantah dibuang begitu saja ke selokan, kini jadi bahan rebutan warga. Bukan untuk dimasak ulang, tapi dijual dan diubah jadi biodiesel. Kampung Siba membuktikan bahwa menjaga lingkungan tak melulu butuh teori rumit, cukup ember, jeriken, dan niat buat tak nyampah sembarangan.

#Dari Dapur ke Dompet Digital

Yetty Nur Hidayati tampak sibuk di dapur pagi itu, Sabtu (8/11/2025). Tapi bukan untuk memasak, melainkan menuang minyak bekas ke dalam jeriken. Sudah tiga bulan terakhir, warga Kampung Sidokumpul Baru RT 2 RW 5, Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini, jadi semacam collector jelantah. Setiap tetes punya nilai, Rp6.000 per liter.

“Lumayan buat tambahan belanja,” katanya, sambil tersenyum setelah menuntaskan transaksi digital di Balai RT. Ia tinggal memindai barcode di Ucollect Box—alat penampung minyak bekas—dan saldo otomatis masuk ke aplikasi. Praktis, tanpa perlu ribet urusan timbang-menimbang di pasar loak.

Seorang warga Kampung Siba menuangkan minyak jelantah ke dalam Ucollect Box. Tetes demi tetes minyak bekas berubah jadi nilai baru — bukan lagi limbah dapur, tapi bahan bakar masa depan yang lahir dari kesadaran sederhana menjaga bumi. | Foto: Pry

Sebelum alat ini datang, Yetty tak pernah berpikir kalau minyak jelantah bisa punya harga. Biasanya minyak sisa gorengan tahu atau tempe ia buang ke saluran air. Sekarang, ia malah menunggu-nunggu tiap jeriken penuh. “Bulan lalu dapat Rp50 ribu, bulan ini Rp33 ribu,” ujarnya. Tak besar, tapi cukup membuatnya merasa “tidak buang-buang rezeki.”

#Kampung Zero Waste yang Benar-benar Serius

Kampung Sidokumpul Baru, khususnya RT 2 RW 5 bukan kampung biasa. Sejak lama mereka dikenal dengan konsep Zero Waste, segala jenis sampah diolah kembali. Dari organik jadi kompos, anorganik disulap jadi kerajinan, dan kini giliran minyak jelantah mendapat panggung.

Lurah Sidokumpul, Mukhlisun, menyebut Siba sebagai satu-satunya wilayah di Gresik yang punya Ucollect Box. Ia bangga betul Sabtu itu saat diajak ngobrol. Karena warganya sudah naik kelas, bukan cuma mengelola sampah, tapi juga memproduksi energi masa depan.

“Tidak ada lagi sampah rumah tangga yang dibuang ke TPA,” katanya. “Semuanya dimanfaatkan. Warga sudah terbiasa memilah. Sekarang, bahkan minyak goreng bekas pun dianggap aset.”

Lurah Sidokumpul, Mukhlisun, menyampaikan pentingnya program pengumpulan minyak jelantah bagi warga. Ia menegaskan, lewat Ucollect Box, Kampung Siba tak hanya mengelola sampah, tapi juga membuktikan bahwa konsep Zero Waste bisa benar-benar hidup di tengah masyarakat. | Foto: Pry

Tak heran, konsep Kampung Zero Waste di sini terasa nyata, bukan sekadar jargon pemerintah. Di setiap sudut, ada tanda pengingat, Sampahmu Tanggung Jawabmu. Dan rupanya, warga benar-benar memegang prinsip itu, bahkan untuk minyak gosong bekas gorengan.

#Dari Jelantah Jadi Energi Terbarukan

Program Ucollect Box ini tak berdiri sendiri. Menurut Vika Sita Rini, perwakilan dari Ucollect, Kampung Sidokumpul Baru adalah salah satu dari 15 titik binaan di Jawa Timur dalam program CSR perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah energi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Setiap kali box penuh, bisa terkumpul hingga satu ton minyak jelantah. Minyak itu kemudian dikirim ke pabrik pengolahan untuk diubah jadi biodiesel dan bioavtur. Artinya, minyak sisa gorengan di rumah Yetty suatu hari bisa menggerakkan pesawat atau truk logistik. Ironi yang indah, dari dapur sederhana ke mesin industri.

“Warga di sini antusias luar biasa,” kata Vika. “Selain bisa membantu lingkungan, mereka juga dapat keuntungan finansial. Jadi ada nilai ekonomi dan nilai ekologis yang berjalan bersama.”

Bisa dibilang, jelantah yang dulu dicap jorok, kini naik kelas jadi komoditas energi. Dari sesuatu yang bikin becek saluran air, berubah jadi bagian dari solusi krisis energi nasional.

#Saat Limbah Punya Nilai

Bagi warga Kampung Sidokumpul Baru, Ucollect Box bukan cuma alat penampung minyak, tapi simbol perubahan perilaku. Mereka kini lebih sadar bahwa limbah rumah tangga bisa bernilai jika dikelola dengan benar.

Vika menegaskan, tujuan utama program ini bukan sekadar bisnis, tapi edukasi. “Kami ingin masyarakat merasakan nilai dari limbah. Kalau dibuang bisa mencemari lingkungan, tapi kalau dikumpulkan bisa jadi energi bermanfaat,” katanya.

Vika Sita Rini, perwakilan dari Ucollect, menjelaskan cara kerja Ucollect Box dan manfaat pengumpulan minyak jelantah. Menurutnya, setiap tetes jelantah yang terkumpul bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga ikut menggerakkan transisi energi bersih di tingkat kampung. | Foto: Pry

Dan benar saja, di kampung ini tak ada lagi selokan berminyak atau bau tengik sisa gorengan. Yang ada justru semangat warga yang saling mengingatkan untuk menyetor jelantah sebelum terlambat.

Kampung Siba membuktikan satu hal sederhana: menjaga bumi tak selalu butuh kebijakan rumit. Kadang cukup dengan jeriken bekas, sedikit kesadaran, dan teknologi yang tak sok pintar. Karena di tangan warga biasa, minyak jelantah pun bisa menjelma jadi rejeki yang berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *