Lewati ke konten

Saatnya Remaja & Mahasiswa Indonesia “Berperang” Melawan Mikroplastik — Laporan Youth Impact 2025

| 5 menit baca |Ide | 22 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Rilis, Prigi Arisandi Editor: Supriyadi

MALANG – Bayangkan, di tengah dunia yang lebih sibuk debat soal siapa salah siapa benar, ada sekelompok remaja yang malah sibuk memikirkan bagaimana caranya menyaring mikroplastik dari air cucian. Sementara sebagian orang seusia mereka masih bingung bedain “greenwashing” dan “green tea latte”, para pelajar dan mahasiswa ini justru menciptakan alat, aplikasi, sampai jaring ikan ramah laut.

Inilah Youth Impact 2025, yang akan 18 Oktober 2025 di Malang, ajang inovasi nasional yang tidak hanya memamerkan teknologi, tapi juga memperlihatkan satu hal penting — bahwa harapan untuk bumi mungkin lahir bukan dari ruang rapat korporasi, melainkan dari laboratorium sekolah dan meja makan kosan.

#Dari Botol Bekas hingga Filter SALIA: Inovasi Anak Desa

Tim SMA Negeri 1 Patianrowo Nganjuk Jawa Timur membuka pesta inovasi dengan Saringan Limbah Cair (SALIA), alat sederhana nan genius yang menyaring mikroplastik dari air cucian. Alih-alih memakai resin mahal atau membran canggih, SALIA memanfaatkan jerami, batang eceng gondok, serabut kelapa, gambas, dan kerikil.

Hasilnya? Dengan ketebalan saringan 1–2 cm saja, ia mampu mengurangi mikroplastik hingga 82,35 %. Naik ke ketebalan 3–4 cm — dan boom! Efektivitasnya melesat ke ~99 %. Kenapa? Karena semakin panjang jalur saringannya, makin banyak partikel kecil yang “nyangkut”.

Garis besar: ide lokal + bahan lokal + pikiran jernih = solusi nyata. Tak perlu pabrik mahal, cukup botol bekas + tangan kreatif.

#AI & Sensor: Ketika YOLOv12 Jadi Juru Selamat Air

Dari desa ke dunia digital — SMA Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jawa Timur hadir dengan Sistem Deteksi Mikroplastik Terintegrasi YOLOv12. Gabungan sensor fotodioda, kamera CCD, dan algoritma You Only Look Once untuk mendeteksi mikroplastik secara real time.

Beberapa angka mencuri perhatian:

  • Tanpa mikroplastik: voltase 3,41 volt
  • Kadar 500 ppm: voltase 0,13 volt
  • Kinerja model: recall 0,779; precision 0,699; F1-score 0,739; mAP 0,741

Dibanding metode laboratorium lama yang butuh hari, sistem ini memberikan hasil cepat, otomatis, dan bisa dipasang di sungai, saluran air, atau sekolah. Teknologi tinggi, harga low — gaya anak muda zaman now tapi tetap grounded.

#Teh Tanpa Plastik & Game Cerdas: Tepuk Tangan Ganda

SMA 1 Bulukumba Sulawesi Selatan melontarkan ide sederhana tapi berdampak, BASTEFIA BAG – kantong teh dari serat pelepah pisang. Tanpa risiko mikroplastik, namun tetap kuat menahan air panas hingga 1 jam. Uji biodegradable? Terurai kurang dari 7 hari.

Di sisi lain, SMA 1 Sidayu Gresik Jawa Timur meluncurkan MyOcean, aplikasi gamifikasi edukatif tentang mikroplastik. Ada kuis, puzzle, materi interaktif — cocok untuk anak muda yang bosan dipaksa baca poster. Uji coba memperlihatkan bahwa pemahaman soal mikroplastik meningkat signifikan lewat game ini.

Dua karya ini mengingatkan, teknologi nggak harus rumit. Kadang, penyesuaian gaya hidup + edukasi digital saja sudah luar biasa.

#Bentang Laut & Permukaan: Filter Biodegradable & Ultrasonik

Laut kita juga tidak luput dari aksi generasi kreatif ini.

Siswa SMA Unggulan Rushd, Sragen, Jawa Tengah menciptakan jaring ikan biodegradable dari serat daun nanas — solusi cerdas menghadapi pencemaran mikroplastik akibat ghost fishing. Jaring sintetis berbahan nilon sering tertinggal di laut dan berubah jadi sumber mikroplastik global. Dari keprihatinan itu, lahirlah ide untuk memanfaatkan serat daun nanas tinggi selulosa (81,27%) sebagai bahan jaring ramah lingkungan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Prototipe berukuran 10×10 cm dengan diameter 0,2 cm ini dilapisi biopolimer alami (CMC, sodium alginate, kalsium laktat, gliserin) agar tetap kuat di air laut namun tetap mudah terurai. Hasil uji: menahan beban hingga 20 kg, penurunan kekuatan cuma 7,5% setelah berminggu-minggu pemakaian, dan terurai alami tanpa residu berbahaya.

Ringan, kuat, murah, dan bisa dibuat dari limbah pertanian lokal — jaring ini membuktikan bahwa sains sederhana pun bisa menjaring harapan besar: laut yang lebih bersih, nelayan yang lebih bijak, dan masa depan tanpa plastik di perairan.

Ocean WaveTrap dari ITB Bandung  — sistem penyaringan mikroplastik berbasis gelombang ultrasonik dan IoT. Dengan memanfaatkan fenomena acoustic standing wave, partikel mikroplastik dikumpulkan dan dipisahkan secara efisien tanpa bahan kimia tambahan.

Hasil simulasi menunjukkan efisiensi lebih dari 90% pada frekuensi 5 MHz, dengan konsumsi energi hanya 2–4 watt per liter air — hemat energi, tinggi akal.

Tim peneliti ITB Bandung ini membuktikan bahwa sains akustik bisa jadi solusi ramah energi bagi krisis mikroplastik global. Lebih dari sekadar proyek kampus, Ocean WaveTrap sejalan dengan SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), dan SDGs 14 (Ekosistem Lautan). Singkatnya, ia bukan cuma alat penyaring air — tapi simbol bahwa mahasiswa Indonesia bisa menghadirkan teknologi bersih untuk masa depan perairan yang lebih sehat dan bebas mikroplastik.

Kedua karya ini menunjukkan, laut itu arena race — tapi kita punya senjata arif yang bukan plastik.

#Filtrasi Pintar & Kemasan Hijau: Tantangan dari Mesin Cuci hingga Bento

Dari kota besar, muncul dua garapan ambisius:

  • ITS Surabaya (Hanif dkk.): sistem filtrasi berbasis vortex + sekrup Archimedes, dipasang di platform apung bertenaga surya. Di laju alir 5 L/menit & screw speed 100 rpm, efektivitasnya ~82,3 %. Semakin cepat screw, semakin tinggi penyisihan — dengan catatan konsumsi energi naik ~13–14 %. Desain modular dan bahan pipa PVC memudahkan replikasi.
  • Universitas Airlangga (Unair) Surabaya memperkenalkan EcoThin: kemasan makanan berbahan pati singkong + serat batang pisang + pektin kulit pisang. Lentur, kuat, biodegradable, dan bisa menggantikan plastik sekali pakai di UMKM. Bahan lokal murah, sifat alami, dan tetap fungsional — terlalu indah untuk diabaikan.
  • Universitas Indonesia (UI) Jakarta dengan ChitoZen: filter biochar tempurung kelapa + nanopartikel ZnO + kitosan. Dalam 5 menit, absorbansi UV-Vis turun dari 3,718 ke 1,305 — artinya efisiensi ~64,9 %. Filter ini langsung bisa dipasang di saluran mesin cuci rumah tangga: ide cemerlang untuk menghentikan bocoran mikroplastik sebelum masuk ke air limbah.

#Menabur Harapan, Memanen Aksi

Kalau kamu pikir hanya orang tua, lembaga, atau perusahaan besar yang bisa menyelamatkan bumi,” coba tengok sembilan inovasi ini, siswa SMA di pelosok, mahasiswa dari kampus negeri, anak muda kreatif yang tidak sekadar mengeluh.

Mereka bilang: “Kita bisa.” Dan sebaiknya kita dengarkan. Mereka bilang: “Kita mulai dari bahan sederhana, dari ide yang bisa diuji.” Mereka bilang: “Teknologi tinggi bukan monopoli luar negeri — AI, ultrasonik, biochar — bisa diramu di laboratorium kita sendiri.”

Youth Impact 2025 bukan sekedar lomba. Ia adalah panggung keberanian anak muda  Indonesia untuk berbicara, plastik besar boleh menjajah, mikroplastik boleh menyusup — tapi generasi ini menolak jadi penonton.

Semoga, di tahun depan, kita bicara bukan “pasar siapa yang bayar inovasi ini,” melainkan seberapa cepat kita adopsi inovasi itu ke rumah dan sungai kita sendiri. Karena kalau generasi muda saja sudah berdiri — tinggal kita ikut berdiri bersama.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *