Lewati ke konten

Suara Duka Sumatera Menggema di Melbourne, Rani Jambak Membawa Pesan Ekologis ke Dunia

| 6 menit baca |Rekreatif | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Di panggung seni eksperimental Melbourne, Rani Jambak menjadikan musik sebagai medium kesaksian. Lewat lapisan bunyi elektronik dan tradisi lokal, ia membawa duka ekologis Sumatera ke ruang global, menautkan seni, kehilangan, dan kritik atas kerusakan lingkungan.

#Panggung Global sebagai Ruang Kesaksian

Di pusat kota Melbourne, sebuah pertunjukan musik eksperimental berubah menjadi ruang duka dan peringatan. Pada Desember 2025, seniman suara asal Indonesia, Rani Jambak, tampil dalam Inter.Sonix 06, program kuratorial internasional yang digagas organisasi seni nirlaba Liquid Architecture (LA) di Naarm, wilayah adat masyarakat Aborigin.

Poster Li( )stening Exchange: Sonic Heritage menampilkan Rani Jambak sebagai ruang dengar dan ruang ingat. Visual kontras ini merekam pertemuan suara, warisan, dan kesadaran ekologis—sebuah undangan untuk mendengar lebih dalam: bunyi sebagai pengetahuan, dan mendengar sebagai sikap berpihak. | Foto: Dok Rani

Penampilannya bertajuk Sounds from Sumatera in Melbourne bukan sekadar eksplorasi sonik, melainkan pernyataan politis: seni sebagai medium kesaksian atas krisis ekologis dan kehilangan nyawa di tanah air.

“Saya tidak datang membawa kegembiraan,” ucap Rani kepada audiens malam itu. “Saya datang membawa kabar duka dari Sumatera.”

Kalimat tersebut menjadi penanda arah artistik pertunjukan yang ia hadirkan, sebuah narasi bunyi yang berangkat dari luka, bukan perayaan.

Liquid Architecture sendiri dikenal sebagai salah satu platform penting seni suara eksperimental di Australia. Didirikan pada 1999, organisasi ini menempatkan suara dan praktik mendengarkan (sound and listening) sebagai tindakan kritis.

Selama lebih dari dua dekade, LA secara konsisten membuka dialog antara Australia dan kawasan Global South, termasuk Asia Tenggara, dengan memberi ruang bagi praktik artistik yang menantang batas genre sekaligus bersentuhan langsung dengan isu sosial dan politik.

Keterlibatan Rani Jambak dalam Inter.Sonix 06 menjadi bagian dari seri kuratorial unggulan Inter.Sonix, yang menyoroti praktik sonik kontemporer Asia Tenggara.

Program ini sebelumnya menghadirkan sejumlah nama penting dari Indonesia, seperti Sipaningkah (Aldo Ahmad), Rully Shabara, Mahamboro, kolektif Yes No Klub, hingga Woto Wibowo.

“Inter.Sonix memberi saya ruang untuk bicara jujur,” ujar Rani setibanya kembali di Indonesia. “Di sini, suara tidak harus netral. Ia boleh sedih, marah, dan berpihak.”

#Jejak Australia dalam Perjalanan Artistik

Agenda Rani di Melbourne terbagi dalam dua momen utama. Pada 9 Desember 2025, ia terlibat dalam diskusi publik bertajuk Li( )stening Exchange: Sonic Heritage di CY Space. Forum ini menjadi ruang refleksi, tempat Rani membagikan perjalanan artistiknya sekaligus landasan filosofis yang membentuk praktik kekaryaannya selama ini.

Australia menyimpan jejak emosional penting bagi Rani. Ia menempuh studi magister di Macquarie University, Sydney, dan meraih gelar master pada 2018.

Pengalaman akademik dan kultural tersebut menjadikan Australia sebagai salah satu titik krusial dalam pembentukan cara pandangnya terhadap seni, teknologi, dan relasi manusia dengan alam.

Dalam diskusi tersebut, Rani menuturkan bagaimana proyek awalnya, #FORMYNATURE, lahir dari pengalaman personal saat mengunjungi Melbourne Museum tujuh tahun lalu. Di sana, ia menemukan filosofi hidup berkelanjutan masyarakat Aborigin Gunditjmara: You should never take more than you need—jangan pernah mengambil lebih dari yang kamu butuhkan.

“Kalimat itu sederhana, tapi menyentak saya,” kenang Rani. “Saya langsung membandingkannya dengan apa yang terjadi di Sumatera, kita mengambil terlalu banyak, terlalu cepat, tanpa memberi waktu alam untuk pulih.”

Dalam forum yang sama, Rani juga memperkenalkan Kincia Aia, instrumen bunyi ciptaannya yang terinspirasi dari kincir air tradisional Minangkabau. Instrumen ini tidak semata berfungsi sebagai alat musik, melainkan arsip pengetahuan, simbol relasi manusia dengan alam dan teknologi lokal yang berkelanjutan.

“Instrumen bukan hanya soal bunyi,” jelasnya. “Ia menyimpan cara hidup dan etika terhadap lingkungan.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Berawal dari kunjungan ke Melbourne Museum tujuh tahun lalu, Rani Jambak menemukan filosofi hidup masyarakat Gunditjmara: You should never take more than you need. Dari refleksi itu lahir #FORMYNATURE—sebuah kritik atas cara manusia mengambil terlalu banyak dari alam, terlalu cepat. | Foto: Dok Rani

#Ritme Global, Luka Lokal

Puncak kunjungan Rani terjadi pada 12 Desember 2025 dalam Performance Inter.Sonix 06 yang digelar di Miscellania, kawasan CBD Melbourne. Dalam satu panggung, Rani tampil bersama RP Boo, pelopor musik footwork dari Chicago, serta Will Guthrie, perkusionis eksperimental asal Australia.

Pertemuan lintas geografi ini mempertemukan bahasa musik elektronik global dengan lanskap sonik lokal Sumatera.

Selama kurang lebih 40 menit, Rani membawakan rangkaian karya Kincia Aia (Malenong M(A)so), Regang, Suara Minangkabau, Distortion Journey, Orang Piaman, Kembang Mengembang, dan Joget Sumatera.

Keseluruhan set ini ia sebut sebagai narasi sonik kolektif bertajuk Sounds from Sumatera, sebuah perjalanan bunyi dari tradisi, ingatan, hingga kehilangan.

Meski tampil dalam format pertunjukan berenergi tinggi, Rani menegaskan bahwa karyanya tidak lahir dari semangat perayaan. “Saat saya berada di sini, ratusan orang di tanah kelahiran saya kehilangan nyawanya akibat bencana ekologi,” katanya. “Saya merasa penting untuk membawa kesedihan itu ke ruang ini.”

Karya paling emosional dalam set tersebut adalah Regang, istilah yang merujuk pada napas terakhir, nyawa yang meregang. Meski dibangun dalam struktur ritmis, karya ini menjadi pernyataan paling politis dalam penampilannya, menandai titik ketika musik berfungsi sebagai medium kesaksian, bukan hiburan semata.

Komposisi Regang sendiri berawal dari kolaborasi Rani dengan desainer Indonesia, Toton Januar. Karya ini terinspirasi oleh sejarah Sumatera sebagai Swarnadwipa, Pulau Emas yang pernah makmur, namun kini, terutama melalui kerusakan hutannya, seolah tengah meregang nyawa.

#Musik sebagai Kritik dan Advokasi Ekologis

Duka yang dibawa Rani ke panggung Inter.Sonix 06 berakar pada dua tragedi ekologis besar di Sumatera yang saling terkait dan hingga kini belum menemukan penyelesaian tuntas.

Tragedi pertama adalah konflik ekologis akibat proyek PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Ekosistem Batang Toru, habitat tunggal Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar paling langka di dunia dengan populasi tersisa sekitar 500–700 individu.

Gugatan hukum aktivis lingkungan terhadap proyek ini kandas pada 2019, membuka jalan bagi perusakan habitat yang semakin masif.

Tragedi kedua terjadi pada akhir November 2025, ketika banjir bandang dan tanah longsor disertai hanyutan kayu gelondongan melanda Sumatera Utara. Bencana ini menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk hampir 100 korban jiwa di kawasan Batang Toru, serta menyebabkan puluhan lainnya hilang. Peristiwa tersebut memperkuat peringatan lama para aktivis mengenai tekanan ekologis ekstrem akibat deforestasi dan ekstraksi berlebihan.

Tekanan publik akhirnya memaksa negara bertindak. Sejak 6 Desember 2025, Kementerian Lingkungan Hidup menghentikan sementara operasional PT North Sumatera Hydro Energy serta sejumlah perusahaan ekstraktif lain di sekitar Batang Toru untuk keperluan audit dan evaluasi lingkungan.

Melalui Inter.Sonix 06, Rani Jambak mengubah pengalaman personal, kekalahan aktivisme, dan duka kolektif menjadi kritik publik yang bergema di panggung global. Karyanya menjadi pengingat atas ancaman serius terhadap Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera—Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2004, yang sejak 2011 masuk Daftar Situs Warisan Dunia dalam Bahaya.

“Kalau hutan tidak lagi punya suara,” tutup Rani, “Biarlah musik yang berbicara. Dengan berbagai cara dan media, dunia harus tahu bahwa Sumatera sedang memanggil dan napasnya semakin pendek.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *