Lewati ke konten

Sulton dan Janji Pemkab Jombang: Ketika Anak 7 Tahun Menunggu Giliran Operasi Jantung Nomor 128

| 5 menit baca |Sosok | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

JOMBANG – Di Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, seorang bocah tujuh tahun bernama Muhammad Sulton sedang belajar tentang kesabaran—pelajaran yang bahkan orang dewasa sering gagal memahaminya. Tubuh kecilnya yang tampak sehat itu menyimpan rahasia, kelainan jantung bawaan yang membuatnya harus bolak-balik rumah sakit sejak awal tahun.

Kini, Sulton menunggu gilirannya untuk tindakan kateterisasi jantung di RSUD dr. Soetomo Surabaya—tahap awal sebelum operasi besar yang bisa menentukan masa depannya. Nomor antreannya, 128. Bukan angka kecil, tapi penuh harapan.

#Kunjungan “Abah Bupati” dan Sentuhan Lembut Sang Ibu Kabupaten

Sabtu, 27 September 2025, suasana Desa Temuwulan mendadak ramai. Rombongan pemerintah datang berkunjung. Di antara mereka, ada Bupati Jombang H. Warsubi, Wakil Bupati Salmanudin Yazid, dan beberapa kepala dinas. Tapi yang paling mencuri perhatian warga justru sosok perempuan berkerudung hijau muda yang berjalan pelan menuju rumah Sulton, Hj. Yuliati Nugrahani Warsubi, Ketua TP PKK Jombang.

Bagi warga, Yuliati bukan sekadar istri bupati. Ia kerap muncul dalam berbagai kegiatan sosial—dari pemberdayaan ibu-ibu desa sampai pendampingan anak stunting. Tapi kali ini, kehadirannya terasa berbeda.

Di ruang tamu kecil dengan dinding yang mulai pudar, Yuliati duduk di samping Nur Azizah, ibu Sulton. Ia menggenggam tangan sang ibu lama sekali, sebelum berkata lembut, “Ibu harus kuat. Ini perjalanan panjang, tapi kita semua akan dampingi.”

Kalimat sederhana itu terdengar seperti pelukan. Di saat pejabat lain sibuk dengan data dan rujukan rumah sakit, Yuliati justru berbicara tentang hal yang paling sering dilupakan, daya tahan hati seorang ibu.

“Perhatian Pemkab bukan hanya di pengobatan medis, tapi juga pendampingan moral dan psikologis,” ujarnya kemudian. “Kita tidak ingin keluarga seperti Bu Azizah merasa sendirian.”

Bupati Warsubi menambahkan dengan suara mantap, “Pemerintah Kabupaten Jombang akan memastikan Sulton mendapat penanganan. Semua kebutuhan medis dan rujukan kami tangani bersama RSUD dan Dinas Kesehatan.”

Di mata warga, kunjungan itu bukan seremoni. Keesokan harinya, bantuan medis benar-benar bergerak.

#Dari Jombang ke Surabaya, Ditemani Hingga ke Meja Dokter

Setelah kunjungan itu, tim medis RSUD Jombang bergerak cepat. Pemeriksaan dilakukan ulang, dan dokter jantung anak sekaligus Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, memutuskan bahwa Sulton perlu dirujuk ke RS Siti Khodijah Surabaya. Dari sana, hasil evaluasi membawa mereka ke rumah sakit rujukan tertinggi di Jawa Timur, RSUD dr. Soetomo.

“Senin lalu Sulton kami rujuk ke Siti Khodijah, lalu ke dr. Soetomo. Jumat pagi berangkat ke Surabaya dengan pendampingan petugas RSUD Jombang,” terang dr. Pudji.

Nur Azizah, sang ibu, menuturkan bahwa dirinya tidak mengeluarkan biaya sama sekali. “Biaya pemeriksaan dan transportasi semua ditanggung. Dinas Kesehatan juga kasih susu tinggi kalori buat Sulton. Bidan desa sering datang cek kondisi anak saya,” katanya pelan.

Yang menarik, perhatian tak hanya datang dari tenaga medis. Menurut Nur Azizah, Ibu Yuliati juga beberapa kali menelpon lewat staf PKK Kecamatan untuk memastikan keadaan mereka.

“Beliau nanya kabar anak saya, katanya sabar dan jangan takut,” ujarnya, matanya berkaca-kaca.

#Jantung, Harapan, dan Sistem yang Tak Bisa Dipercepat

Menunggu antrean di RSUD dr. Soetomo seperti menunggu panggilan hidup yang tak bisa ditebak waktunya. Nomor 128 bukan angka besar di spreadsheet rumah sakit, tapi bagi keluarga kecil di Temuwulan, itu adalah garis tipis antara cemas dan optimis.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, mengakui prosesnya panjang. “Antrean operasi berskala nasional. RS dr. Soetomo itu rujukan Indonesia bagian timur. Jadi urutannya berdasarkan kegawatdaruratan pasien. Kita terus pantau agar Sulton tetap stabil,” jelasnya.

Ia menambahkan, Dinkes bersama PKK juga menyalurkan dukungan gizi dan pendampingan sosial selama masa tunggu. “Operasi jantung bawaan seperti ini butuh persiapan matang. Kateterisasi itu tahap awal untuk memastikan fungsi kerja jantungnya siap,” katanya.

Di sela pertemuan koordinasi, Ibu Yuliati kerap mengingatkan agar pendampingan tak hanya sebatas laporan. “Yang dibutuhkan keluarga bukan sekadar obat, tapi rasa ditemani. PKK siap jadi jembatan antara ibu-ibu seperti Bu Azizah dan pemerintah daerah,” ujarnya dalam salah satu agenda evaluasi.

#Sulton Masih Sekolah, Masih Bermain

Meski menanggung kelainan jantung, Sulton tetap berangkat sekolah setiap pagi. Ia masih bermain bersama teman-temannya, meski kadang harus izin ketika batuk pilek menyerang.

“Anaknya masih aktif, senang belajar,” kata ibunya. “Kadang saya malah takut dia kecapekan.”

Yuliati yang mendengar hal itu hanya tersenyum. “Anak-anak seperti Sulton ini luar biasa. Kita yang sehat justru harus belajar dari keteguhannya,” katanya dalam satu kesempatan.

Bupati Warsubi menegaskan bahwa Pemkab Jombang tidak akan membiarkan satu pun warga berjuang sendiri menghadapi penyakit berat. “Kami akan terus mendampingi sampai Sulton benar-benar mendapatkan tindakan di RSUD dr. Soetomo,” ujarnya.

Yuliati menambahkan, “Kami ingin memastikan setiap anak Jombang tumbuh sehat dan setiap ibu merasa tidak sendiri. PKK akan terus hadir di lapangan.”

Kalimat itu mungkin terdengar normatif, tapi di rumah sederhana di Temuwulan, janji itu punya bentuk nyata: kunjungan, telepon, susu kalori tinggi, dan tangan hangat yang menggenggam erat di saat keluarga hampir menyerah.

#“Ibu Kita Jalan Bersama”

Sulton mungkin masih menunggu di antrean panjang, tapi hatinya tak pernah benar-benar sendirian. Ada tenaga medis yang bekerja diam-diam, ada pemerintah yang (kali ini) benar-benar hadir, dan ada sosok Ketua PKK yang mengingatkan bahwa perhatian tidak selalu diukur dengan anggaran, tapi dengan empati yang nyata.

Dan di tengah sistem kesehatan yang sering terasa jauh, kisah Sulton adalah bukti bahwa pelayanan publik bisa terasa manusiawi—ketika ada seseorang yang mau duduk, menggenggam tangan, dan berkata pelan, “Ibu, kita jalan bersama.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *