Lewati ke konten

Tasikharjo Tuban Menuntut: Ketika Warga Harus Menyelamatkan Diri Sendiri dari Kilang yang Katanya Aman

| 4 menit baca |Sorotan | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

TUBAN – Ada momen ketika warga di sebuah desa harus memilih, menunggu sirine peringatan dari perusahaan besar, atau percaya pada insting bertahan hidup mereka sendiri.
Bagi warga Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Kamis (16/10/2025) kemarin adalah hari ketika pilihan itu datang tanpa aba-aba.

Sekitar pukul 11.30 WIB, suara ledakan keras mengguncang langit Tuban. Kepulan asap hitam membumbung dari arah kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Dalam hitungan menit, suasana berubah kacau. Warga berlarian keluar rumah, sebagian menutup hidung dengan kain seadanya, sebagian lain menjerit memanggil anak dan kerabat.

“Warga takut asapnya beracun, jadi banyak yang langsung ngungsi sendiri,” kata Hanafi (51), warga Tasikharjo.

Yang paling menakutkan bukan hanya suara ledakan atau lidah api yang menjilat langit—tapi ketidakpastian. Tak ada peringatan, tak ada imbauan, tak ada panduan keselamatan dari pihak perusahaan. Sirine baru terdengar setelah ledakan terjadi dan api terlanjur membesar.

#Ketika Evakuasi Dibiarkan Jadi Urusan Warga

Kepala Desa Tasikharjo, Damuri, masih mengingat betul kepanikan hari itu. Ia menyebut, ratusan warga berlarian tanpa arah, hanya mengandalkan naluri bertahan hidup.

“Warga panik, mengungsi mandiri. Tidak ada upaya evakuasi dari pihak perusahaan, tidak ada juga informasi yang jelas soal bahaya asap itu,” ujarnya, Jumat (17/10/2025).

Sebagai kepala desa, Damuri sempat berusaha menghubungi pihak TPPI. Namun, semua upaya komunikasi seolah membentur dinding. Tak ada jawaban. Tak ada klarifikasi. Ia hanya bisa menyaksikan warganya berlari menjauh dari rumah mereka sendiri—tempat yang mendadak terasa tidak aman lagi.

“BUMN memang harus kita lindungi. Tapi BUMN juga harus melindungi warga,” katanya lirih.

#Keselamatan Warga Bukan Prioritas

Pemerintah Desa Tasikharjo menegaskan akan tetap menuntut pertanggungjawaban PT TPPI atas insiden kebakaran tersebut. Bukan semata karena asap hitam yang membumbung tinggi, tapi karena kepanikan massal warga yang dibiarkan tanpa arahan.

Damuri mengaku sudah lama memperjuangkan nasib warganya yang hidup berdampingan dengan kompleks industri raksasa itu. Sebelum kebakaran, ia bahkan sempat mengusulkan dialog resmi dengan pihak perusahaan untuk membahas kemungkinan relokasi warga yang tinggal paling dekat dengan area kilang.

Namun, permintaan itu tak pernah digubris. “Ini bukan sekadar protes. Ini soal keselamatan. Kami sudah minta dialog dan relokasi sejak lama, tapi tidak pernah ada tanggapan,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kini, setelah api padam dan asap perlahan menghilang, muncul bara lain yang tak kalah panas, ketidakpercayaan. Warga Tasikharjo merasa keselamatan mereka hanya menjadi catatan kaki dalam laporan perusahaan.

Damuri berencana mengirim surat resmi kepada Bupati Tuban, DPRD, dan Kementerian terkait agar suara warga tidak lagi diabaikan. Sebab bagi mereka, keselamatan bukan angka statistik di tabel tanggung jawab sosial perusahaan—ia adalah urusan hidup dan mati.

Karena kalau warga harus menyelamatkan diri sendiri setiap kali kilang terbakar, lalu sebenarnya siapa yang dijaga oleh BUMN sebesar itu?

#Versi Perusahaan: “Belum Saatnya Dievakuasi”

Pihak TPPI punya versi lain. Tinoto Hadi Sucipto, Manager CSR & Comrel PT TPPI, menjelaskan bahwa dari hasil pemantauan internal, kondisi saat itu belum sampai pada tahap yang mengharuskan evakuasi.

“Perusahaan melihat situasi dan kondisi belum sampai untuk di-declare evakuasi. Tapi warga yang panik sudah lebih dulu melakukan evakuasi,” katanya.

Tinoto juga menyebut, perusahaan sempat mengirimkan bus untuk membantu warga. Sayangnya, bus itu tiba ketika sebagian besar warga sudah lebih dulu menyelamatkan diri.

#Ketika Kepercayaan Padam Lebih Cepat dari Api

Insiden ini menambah daftar panjang hubungan retak antara perusahaan besar dan masyarakat sekitar. Dalam catatan, TPPI adalah kebanggaan nasional—BUMN energi yang menopang kebutuhan petrokimia. Tapi di lapangan, warga Tasikharjo merasa seperti tetangga yang tak pernah diajak bicara, apalagi dilibatkan dalam urusan keselamatan.

Ironisnya, yang paling cepat bereaksi bukan sistem evakuasi perusahaan, melainkan rasa takut warga. Dalam hitungan menit, lewat suara pengeras masjid, mereka sudah berlari menyelamatkan diri. Sebuah bentuk kewaspadaan yang lahir bukan dari pelatihan keselamatan, melainkan dari pengalaman ditinggalkan.

Dan mungkin, di situlah luka terbesarnya. Bukan hanya karena kilang terbakar, tapi karena rasa percaya ikut terbakar bersama asap yang membumbung ke langit Tuban.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *