RENCANA bergabungnya Ketua ProJo, Budi Arie Setiadi, ke Partai Gerindra bikin sebagian kader muda partai bersimangut. Di Mojokerto, suara penolakan datang lantang dari Tunas Indonesia Raya (Tidar). Mereka menegaskan, Gerindra bukan panggung cari muka, tapi medan juang.
Di tengah kabar politik yang makin riuh menjelang 2029, suara dari Mojokerto ini jadi semacam pengingat. Bahwa di partai berlambang garuda, “loyalitas” masih punya makna yang tak bisa ditukar dengan panggung atau sorotan kamera.
#Bukan Tempat Cari Sorotan
Ketua PC Tidar Mojokerto, Defy Firman Al Hakim, bicara tanpa tedeng aling-aling. Baginya, Gerindra bukan tempat singgah bagi siapa pun yang sekadar ingin tampil di atas panggung ketika partai sedang cerah-cerahnya.
“Gerindra adalah rumah bagi pejuang yang membangun dari ketulusan, bukan tempat cari panggung,” ujarnya, Ahad (9/11/2025).
Defy menegaskan, perjuangan di Gerindra selalu dimulai dari bawah — dari akar rumput, bukan dari meja lobi. “Setiap kader dibentuk lewat proses panjang, dari desa sampai nasional,” katanya. Di Gerindra, lanjutnya, tak ada jalan pintas menuju kekuasaan. Semua harus ditempa, diuji, dan dibuktikan di lapangan.
#Kaderisasi Tak Bisa Instan, Ingat Luka Lama, Jaga Marwah Partai
Defy menjelaskan, Partai Gerindra punya mekanisme kaderisasi yang jelas dan berjenjang. Mulai dari sayap organisasi seperti Tidar, setiap calon kader mesti menunjukkan loyalitas dan kontribusi nyata sebelum naik ke jenjang kepemimpinan.
“Kalau di Tidar saja prosesnya ketat, apalagi di Gerindra. Masuk ke partai ini nggak bisa instan — harus punya niat perjuangan, bukan pencitraan,” tegasnya.
Menurutnya, semangat itulah yang membedakan Gerindra dengan partai lain. Bukan soal seberapa cepat seseorang naik pangkat, tapi seberapa tulus ia bertahan dalam perjuangan yang tak selalu disorot kamera.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelUcapan Defy juga menyiratkan memori kolektif yang belum sembuh di kalangan kader. Ia menyebut banyak kader Gerindra masih mengingat bagaimana dulu partai ini harus berjuang keras di masa sulit, jauh sebelum “angin kemenangan” berembus.
“Kami tak akan pernah lupa perjuangan para senior yang berdarah-darah di tahun 2019 ke belakang,” katanya.
Ia bahkan menyinggung bagaimana Budi Arie dan ProJo di masa lalu sempat memperlakukan tokoh Gerindra dengan kurang pantas. “Jadi wajar kalau banyak kader menolak rencana itu,” tambahnya.
Namun, di balik nada tegas itu, Defy tetap menunjukkan sikap dewasa. Ia menegaskan bahwa Tidar Mojokerto akan tetap satu garis dengan instruksi Ketua Umum Tidar, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. “Kami akan terus menjaga marwah Partai Gerindra. Siapa pun boleh bergabung, asal datang dengan niat berjuang, bukan cari sorotan. Gerindra bukan panggung, tapi medan juang,” pungkasnya.
#Suara Tidar Mungkin Tak Seriuh Nasional
Suara Tidar Mojokerto ini mungkin kecil dibanding riuh nasional, tapi ia menggemakan hal yang sama: kejenuhan pada politik pencitraan. Di tengah arus pragmatisme yang makin deras, mereka ingin mengingatkan bahwa partai politik mestinya bukan tempat singgah musiman.
Budi Arie mungkin belum menanggapi langsung soal ini, tapi pesan dari Mojokerto sudah cukup jelas — dari barisan muda Gerindra: jangan datang hanya karena langit sedang terang.