Lewati ke konten

127 Tewas, Warga Terjebak Derita: Banjir dan Longsor Terburuk Landa Aceh–Sumut–Sumbar

| 8 menit baca |Ekologis | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Hujan deras berhari-hari memicu banjir dan longsor yang menelan sedikitnya 127 korban jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ribuan warga terjebak tanpa listrik, air, dan makanan. Di Pidie Jaya, kisah penyintas menggambarkan betapa bencana ini datang secepat kilat dan meninggalkan luka mendalam.

#Air Melesat Seperti Tsunami: Kepanikan dalam Hitungan Detik

Banjir bandang yang menyapu Kabupaten Pidie Jaya pada Rabu tengah malam datang tanpa memberi ruang jeda bagi warganya untuk berpikir panjang. Hujan lebat sejak larut malam membuat sungai di Meureudu meluap hanya dalam hitungan menit.

Arini Amalia, 28 tahun, masih terjaga ketika terdengar suara deras dari luar rumah. Ketika membuka pintu, yang ia lihat membuat tubuhnya gemetar: air berwarna kuning keruh melesat seperti dinding besar, menyerupai tsunami.

Warga menyaksikan jembatan lintas jalur nasional yang putus setelah diterjang banjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11/2025). | Foto: Antara/Ampelsa

“Arusnya cepat sekali… dalam hitungan detik sudah sampai ke jalan, masuk ke rumah,” ujarnya dengan suara masih bergetar kepada BBC Indonesia.

Ia buru-buru membangunkan neneknya yang sudah berusia lebih dari 80 tahun, menarik tangannya, dan menyambar beberapa potong pakaian dari lemari. Tak ada waktu untuk mengemas barang atau menyelamatkan harta. “Saya cuma bisa bawa diri sendiri. Barang-barang semua saya tinggal.”

Dengan langkah terburu, ia dan sang nenek berlari ke rumah saudara yang terletak di dataran lebih tinggi. Namun setelah memastikan neneknya aman, ia mencoba kembali ke rumah, berharap masih sempat mengambil pakaian tambahan.

Yang ia dapati justru pemandangan yang membuatnya terpaku, banjir telah mengepung permukiman setinggi pinggang orang dewasa. Arusnya terlalu kuat untuk diterobos. “Hitungan menit saja, sudah semuanya penuh,” katanya.

Warga berusaha menyelamatkan diri dan harta benda yang tersisa, melangkah perlahan di tengah banjir yang terus naik tanpa peringatan. | Foto: Akurat

#Rumah Tenggelam, Kampung Terkubur Lumpur

Kamis subuh, hujan akhirnya mereda. Matahari menembus mendung tipis, memberi sedikit harapan bagi warga yang semalaman berjaga. Namun bagi Amalia, yang tersisa hanyalah tumpukan lumpur satu meter di ruang tamunya. Televisi, kulkas, Kasur, semuanya terendam, sebagian terapung, sebagian tertimbun.

Sepanjang hidupnya, ia tak pernah menghadapi banjir sedahsyat ini. Bahkan neneknya yang kini renta pun mengaku tak pernah melihat air setinggi ini. “Pokoknya ini terparah,” ulang Amalia berkali-kali seakan menegaskan pada dirinya sendiri bahwa apa yang menimpa kampungnya sungguh nyata.

Di luar rumah, kondisi tak kalah muram. Lumpur tebal menutupi jalanan. Warga berjalan sempoyongan dengan pakaian basah dan tubuh lelah. Listrik padam sejak malam pertama bencana, diikuti matinya aliran air bersih. Beberapa keluarga mengungsi ke halaman toko karena posko pengungsian ikut terendam. Sebagian lainnya memilih bertahan di masjid yang lebih luas dan aman.

“Orang-orang sudah depresi, nangis, lapar,” tutur Amalia. Hingga Jumat pagi, bantuan makanan belum juga masuk. Di beberapa sudut kampung, terlihat anak-anak menadahkan tangan menampung air hujan untuk diminum.

Orang-orang mengungsi dalam kondisi basah dan letih, mencari perlindungan sementara dari banjir yang terus menggenangi daerah mereka. | Foto: Liputan6

#Jumlah Korban Meninggal Membengkak, Puluhan Masih Hilang

Di tengah suasana duka yang menyelimuti tiga provinsi sekaligus, data sementara mencatat sedikitnya 127 orang meninggal dunia. Tak hanya Aceh, wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat juga dilanda banjir dan longsor akibat curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Puluhan orang masih dinyatakan hilang, sementara ratusan rumah rusak berat atau hanyut tersapu arus.

Badan SAR dan relawan berjibaku menembus akses jalan yang terputus dan jembatan yang ambruk. Di beberapa titik, lumpur setinggi dada dan material longsor membuat alat berat tak dapat segera masuk.

Laporan dari lapangan menyebutkan banyak jenazah ditemukan terjebak di dalam rumah atau hanyut terbawa arus sungai.

Pemerintah daerah terus mengirim bantuan logistik, namun keterbatasan akses membuat distribusi tersendat. Warga di sejumlah lokasi memilih bertahan dengan apa yang tersisa, satu-satunya sumber air minum adalah hujan, sementara sumber makanan berasal dari dapur darurat seadanya.

Di tengah kepungan duka dan kelelahan, banyak warga masih mencoba menguatkan diri. Namun trauma mendalam akibat kecepatan air, suara deras tengah malam, dan kehilangan rumah membuat pemulihan fisik maupun batin dipastikan tak akan mudah.

Banjir kali ini adalah pengingat pahit: bahwa bencana bisa datang secepat kedipan mata, dan menyapu kehidupan dalam hitungan detik.

Jalur pergerakan Siklon Tropis Senyar dari Selasa hingga Kamis menunjukkan lintasan yang melintasi pesisir Sumatera bagian utara sebelum berbelok ke barat daya dan menjauhi daratan. Data GDACS per 28 November 2025 mencatat fase-fase kunci badai yang memicu hujan lebat dan angin kencang di Aceh dan Sumatera Utara | Sumber: CDACS

#Siklon Senyar Ungkap Rentannya Lingkungan Indonesia Kini

Dalam keterangannya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan deras yang memicu banjir besar dan longsor di berbagai daerah dipengaruhi oleh Siklon Tropis Senyar.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa fenomena ini meningkatkan suplai uap air di perairan hangat Selat Malaka sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif di bagian utara Sumatra.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Saat ini, Siklon Tropis Senyar berpusat di sekitar 5.0° LU dan 98.0° BT, dengan tekanan udara minimum 998 hPa dan kecepatan angin maksimum 43 knot (80 km/jam).

“Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih berada di daratan Aceh dengan kecepatan 4 knot (7 km/jam). Dalam 48 jam ke depan, intensitasnya diperkirakan menurun menjadi Depresi Tropis,” kata Faisal dalam konferensi pers di Gedung Command Center MHEWS, BMKG, Jakarta (26/11/2025).

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyebut Senyar sebagai fenomena yang sangat langka karena hampir tidak pernah terbentuk di wilayah khatulistiwa. Ia menjelaskan bahwa secara astronomis, Kota Langsa berada pada lintang 4,5° LU, posisi yang sangat dekat dengan ekuator—wilayah yang selama ini dianggap mustahil bagi pembentukan siklon.

Fenomena Senyar bahkan menempati posisi kedua siklon paling dekat dengan ekuator di belahan bumi utara, setelah Vamei yang terbentuk pada Desember 2001 hanya 1,3° LU atau sekitar 150 kilometer dari garis ekuator di Laut Cina Selatan. Artinya, Senyar menjadi badai tropis kedua yang “melanggar teori” pembentukan siklon yang disebut mustahil terjadi di daerah equatorial.

Siklon Tropis Senyar mulai terpantau pada Selasa pukul 19.00, bergerak dari timur laut menuju wilayah pesisir Sumatera. Memasuki Rabu dini hari pukul 01.00, sistem badai ini terus mendekati daratan Sumatra bagian utara, sebelum bergeser lagi ke barat laut pada Rabu pukul 07.00.

Menjelang Rabu pukul 13.00, pusat siklon berada semakin dekat dengan pesisir Aceh dan Sumatera Utara, menimbulkan peningkatan hujan lebat serta angin kencang di sekitar Medan dan wilayah sekitarnya. Pada Rabu pukul 19.00, jalur badai terlihat mulai menekuk ke arah barat daya dan bergerak menjauhi daratan.

Memasuki Kamis pukul 01.00, siklon melintas di selatan wilayah Sumatera Utara, terus bergerak melintasi Samudra Hindia bagian timur. Pada Kamis pukul 07.00, intensitasnya tampak melemah, namun masih membawa dampak cuaca ekstrem bagi wilayah pesisir.

Hingga Kamis pukul 19.00, Senyar tercatat telah menjauh lebih jauh dari daratan Sumatra, bergerak stabil menuju barat daya sesuai data GDACS per 28 November 2025.

Air keruh menjelma lautan dadakan, menenggelamkan rumah, jalan, dan ladang warga dalam hitungan menit. Hanya atap-atap yang tersisa, berdiri seperti isyarat putus asa di tengah arus yang tak kenal belas kasihan. Di balik banjir ini, tersimpan cerita hilangnya hutan yang dulu menjaga tanah tetap teguh. | Antara Foto/Iggoy el Fitra

#Bukan Musibah Alam, Tapi Akibat Pembalakan Liar dan Ekspansi Perkebunan

Dari sisi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai dampak hujan ekstrem kali ini memburuk bukan semata karena cuaca, tetapi akibat kegagalan panjang dalam tata kelola lingkungan.

Direktur Walhi Aceh, Ahmad Shalihin, menyebut banjir besar tersebut sebagai akumulasi deforestasi, ekspansi perkebunan sawit, aktivitas tambang, hingga maraknya PETI di kawasan hulu.

“Ini bukan musibah alam. Ini bencana ekologis akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup. Hutan digunduli, sungai didangkalkan, bukit dikeruk. Pemerintah masih sibuk membangun tanggul, bukan menghentikan akar bencananya,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).

Walhi mencatat kerusakan signifikan pada sejumlah DAS akibat pembukaan perkebunan skala besar, pembalakan liar, hingga konsesi tambang yang menggerus kawasan lindung.

Pembukaan jalan baru di daerah hulu ikut menciptakan luka tambahan bagi hutan, memicu hilangnya penyangga ekologis yang selama ini menahan limpasan air. Akibatnya, curah hujan tinggi langsung berubah menjadi aliran permukaan dalam volume besar tanpa sempat meresap ke tanah.

Pada saat yang sama, sungai-sungai utama mengalami sedimentasi berat akibat aktivitas galian C. “Sungai-sungai kita sudah tidak berfungsi. Sedimentasi ekstrem membuat daya tampung runtuh. Begitu hujan deras datang, air langsung masuk ke permukiman,” tegas Ahmad.

Peneliti Limnologi BRIN, Fakhrudin, menambahkan bahwa pembangunan masif tanpa perhitungan turut memperburuk situasi. Aktivitas pembangunan yang tak terkendali menyebabkan erosi besar-besaran di kawasan hulu, membawa material tanah ke sungai dan menumpuk dari tahun ke tahun.

Penumpukan sedimen ini membuat sungai semakin dangkal dan menyempit, sehingga kapasitas alirannya merosot tajam. Ketika hujan ekstrem akibat Siklon Senyar datang, sungai tak lagi mampu menahan volume air yang besar. Dalam hitungan jam, air meluap dan menggenangi permukiman.

Kombinasi antara hujan ekstrem, deforestasi, industri ekstraktif yang tumbuh tanpa kendali, serta melemahnya daya dukung lingkungan membuat bencana banjir kali ini, seperti disampaikan para ahli, sebenarnya tinggal menunggu waktu.***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *