Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Empat Hari Akademi, Janji Bebas Sampah

| 4 menit baca |Ekologis | 38 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Zero Waste Academy 2026 menutup pembelajaran lintas daerah dengan deklarasi bersama, merumuskan tanggung jawab warga dan pemerintah daerah membangun sistem pengelolaan sampah berkeadilan dan berkelanjutan.

Empat hari pembelajaran Zero Waste Academy (ZWA) 2026 tidak diakhiri dengan tepuk tangan semata. Acara ditutup dengan sebuah pernyataan sikap bersama, hasil perenungan dari rangkaian diskusi, kunjungan lapangan, dan pertemuan lintas daerah. Deklarasi itu diberi nama Panca Laksana Nirmala, dibacakan di Kota Kediri, Sabtu (31/1/2026).

Semangat komitmen zero waste terpancar saat perwakilan peserta ZWA membacakan deklarasi: Dari kiri, Ari Sulistianto (Bappeda Tulungagung), Rizky Adriyanto (Bappeda Surakarta), Dina Andriani (Siba Klasik Gresik), Eni Maulidiyah (DLH Kota Batu), dan Johan Firdaus (Lurah Mrican) menegaskan dukungan mereka untuk pengelolaan sampah berkelanjutan. | Foto: Supriyadi

ZWA 2026 dimulai di Desa Wringinanom, Kabupaten Gresik, pada Rabu (28/1/2026). Desa ini dipilih sebagai titik awal pembelajaran karena dinilai mampu menunjukkan praktik pengelolaan sampah berbasis warga dan pendanaan secara mandiri.

Di desa ini, peserta diajak melihat bagaimana pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik, dan partisipasi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan kebijakan desa.

Desa Wringinanom memberi konteks awal bahwa persoalan sampah tidak berdiri sendiri. Praktik yang dijalankan warga memperlihatkan keterkaitan antara kebijakan lokal, peran kelembagaan, dan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumber.

Dari pengalaman desa ini, peserta memperoleh gambaran bahwa keberlanjutan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh kesinambungan peran warga dan dukungan pemerintah daerah hingga ke pemerintah desa dan kelurahan.

Dari desa, akademi berlanjut ke Kota Kediri pada Kamis hingga Sabtu (29 – 31/1/2026). Di kota ini, ruang belajar semakin kompleks. Peserta yang berasal dari Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Jombang, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, dan Kota Surakarta saling berbagi pengalaman daerah masing-masing.

Menurut Direktur Ecoton, Dr Daru Setyorini, pertemuan lintas wilayah menjadi kekuatan utama ZWA. “Persoalan sampah di setiap daerah memang berbeda, tetapi akarnya sama, yakni pola konsumsi dan tata kelola yang belum berpihak pada pengurangan,” ujarnya.

#Belajar Membaca Sampah dari Lingkungan

Puncak pembelajaran lapangan berlangsung Sabtu pagi hingga siang. Peserta diajak berkunjung ke Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Permukiman yang mulai mennjukan kepadatan pendidik ini, mereka melakukan analisis karakter sampah rumah tangga.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sisa makanan, plastik kemasan, dan residu yang tercampur menjadi temuan umum. Dari pengamatan langsung itu, peserta diajak memahami bahwa sebagian besar timbulan sampah berasal dari aktivitas harian warga. Diskusi kemudian berkembang pada pertanyaan mendasar: sejauh mana sampah bisa dicegah sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir.

“Ketika kita bicara zero waste, titik mulainya bukan di TPA, melainkan di rumah tangga,” kata Daru Setyorini. Ia menekankan bahwa analisis lapangan penting agar kebijakan tidak lepas dari realitas sosial. “Kalau masyarakat tidak dilibatkan sejak awal, maka teknologi secanggih apa pun tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Hasil analisis karakter sampah tersebut kemudian dibawa ke aula Kantor Kelurahan Mrican. Di ruang inilah seluruh rangkaian pembelajaran dirangkum dalam sebuah deklarasi bersama.

Pembacaan deklarasi dilakukan perwakilan peserta ZWA, yakni Ari Sulistianto dari Bappeda Tulungagung, Rizky Adriyanto dari Bappeda Surakarta, Dina Andriani dari Siba Klasik Gresik, Eni Maulidiyah dari DLH Kota Batu, serta Johan Firdaus, Lurah Mrican.

Kolaborasi lintas peran terlihat jelas dalam deklarasi, dari kiri, Lurah Mrican Johan Firdaus, Nuril Haq Bilqishima Masdian, Research Assistant UB Malang Supriadi, Direktur Ecoton Dr. Daru Setyorini, Moesriati, Ketua Bank Sampah Kapas Madya Baru Surabaya, dan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah & Limbah B3 DLH Kota Kediri, Ridwan Sulaiman, bersama-sama mendukung pengelolaan sampah berbasis warga. | Foto: Supriyadi

#Deklarasi sebagai Peneguhan Arah Bersama

Deklarasi Panca Laksana Nirmala memuat lima komitmen utama Alumni Zero Waste Academy 2026. Mulai dari mengarusutamakan pembatasan timbulan sampah dari sumbernya, mendorong pemilahan dan pengolahan sampah organik, hingga memperkuat pengelolaan sampah di tingkat kelurahan dan desa.

Penguatan tersebut mencakup lima aspek pengelolaan sampah berkelanjutan, yakni regulasi, kelembagaan, pendanaan, partisipasi masyarakat, dan teknis operasional. Deklarasi ini juga secara tegas menolak praktik penumpukan dan pembakaran terbuka, serta penggunaan teknologi yang mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Kediri, Ridwan Sulaiman, menilai deklarasi ini sebagai jembatan antara pembelajaran dan kebijakan. “Komitmen seperti ini penting agar diskusi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi masuk dalam perencanaan daerah,” katanya.

Ridwan menambahkan, peran pemerintah daerah sangat menentukan keberlanjutan gagasan zero waste. “Tanpa dukungan regulasi dan anggaran, pengurangan sampah dari sumber akan sulit dijalankan secara konsisten,” ujarnya.

Deklarasi yang ditandatangani di Kota Kediri, 31 Januari 2026 itu menandai berakhirnya ZWA 2026. Namun bagi para peserta, Panca Laksana Nirmala bukanlah akhir dari proses belajar. Deklarasi itu justru menjadi awal tanggung jawab baru mereka, membawa pulang pengetahuan, mengubah praktik, dan menjaga janji bersama menuju Indonesia bebas sampah 2030.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *