Lewati ke konten

MOZAIK: Operasi Bersih Trash Boom Kali Tebu Surabaya, Angkat 13 Ton Sampah

| 4 menit baca |Sorotan | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Release Editor: Redaksi

Ecoton dan Kecamatan Kenjeran mengangkat 13,4 ton sampah Kali Tebu dalam program MOZAIK, dominasi limbah rumah tangga masih tinggi

Sebanyak 13,4 ton sampah berhasil diangkat dari Trash Boom Kali Tebu di Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya, dalam kegiatan kolaborasi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan Kecamatan Kenjeran.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), yang menargetkan pencegahan kebocoran sampah plastik ke sungai dan laut melalui pendekatan pengurangan, pemantauan, edukasi, dan penanganan berbasis masyarakat.

Trash Boom yang dipasang di Kali Tebu berfungsi menahan sampah, yang terbawa arus dari kawasan permukiman sebelum masuk ke aliran sungai utama dan wilayah pesisir.

Dalam kegiatan pembersihan, jajaran Kecamatan Kenjeran bersama tim MOZAIK bentukan Ecoton, melakukan evakuasi sampah yang menumpuk di fasilitas penahan tersebut.

Camat Kenjeran, Gin Gin Ginanjar, yang hadir di acara, menyampaikan tingginya volume sampah yang berhasil diangkat menunjukkan masih besarnya tantangan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.

Kecamatan Kenjeran bersama tim MOZAIK mengangkut tumpukan sampah dari Trash Boom Kali Tebu, Sidotopo Wetan. Upaya ini dilakukan untuk menahan sampah rumah tangga agar tidak mengalir ke sungai dan laut sekaligus memperkuat kesadaran warga terhadap pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya. | Foto: Dok MOZAIK

“Hari ini kami membantu tim Ecoton untuk bersih-bersih Kali Tebu di lokasi Trash Boom Kelurahan Sidotopo Wetan. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, rata-rata sampah harian yang dievakuasi berkisar antara 890 kilogram hingga 1.000 kilogram, “ ucap Gin Gin saat memberikan keterangan, Selasa (2/6/2026).

“Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi kami. Karena menunjukkan masih banyak sampah yang masuk ke sungai, akibat pengelolaan sampah yang belum optimal di tingkat rumah tangga. Jika kondisi ini terus terjadi. Maka akan berdampak pada kualitas lingkungan, meningkatkan risiko banjir, menimbulkan bau tidak sedap, serta mengganggu kesehatan masyarakat dan ekosistem sungai,” jelas Gin Gin.

Sebagaimana data pemantauan tim MOZAIK mencatat total sampah yang dievakuasi selama 1–31 Mei 2026 mencapai 13.433,77 kilogram atau sekitar 13,4 ton.

Komposisi sampah didominasi residu sebesar 80,1 persen, sampah organik 16,8 persen, dan hanya 3 persen yang memiliki potensi daur ulang.

Sampah popok sekali pakai dan pembalut tercatat mendominasi dengan porsi 59,78 persen dari total temuan di Kali Tebu.

“Harapan kami mengajak seluruh keluarga dan rumah tangga di seluruh Kecamatan Kenjeran untuk lebih bijak membuang sampah, dengan membuang sampah pada tempatnya, melakukan pengurangan sampah sekaligus mengelola sampah secara mandiri agar lingkungan menjadi bersih, indah, dan asri,” tambahnya.

#Dominasi Limbah Rumah Tangga dan Respons Kebijakan

Sementara itu, Manajer Data dan Informasi Ecoton, Alaika Rahmatullah, dominasi sampah popok dan pembalut tidak hanya berdampak pada pencemaran fisik sungai, tetapi juga berpotensi menghasilkan mikroplastik dan bakteri berbahaya.

“Kontaminasi mikroplastik dan bahan kimia dari popok sekali pakai dapat mencemari ekosistem sungai,” kata Alex sapaan sehari-hari Alaika.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dalam hal ini Alex juga menekankan pentingnya solusi pengelolaan limbah khusus, termasuk penyediaan fasilitas terpisah untuk popok dan pembalut serta dorongan penggunaan ulang.

Selain pengangkutan sampah, Alex juga menjelaskan, jika Ecoton telah memasang sistem pemantauan CCTV di kawasan Kali Tebu. Menurut Alex, tujuannya untuk mengidentifikasi pembuangan sampah ke sungai yang kerap dilakukan warga.

Tumpukan sampah memenuhi Kali Tebu, menunjukkan masih tingginya pencemaran sungai akibat limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan warga. “| Dok MOZAIK

“CCTV ini diharapkan menjadi instrumen pengawasan agar masyarakat lebih sadar bahwa pembuangan sampah ke sungai merugikan lingkungan,” ujar Alex.

Program MOZAIK yang dijalankan Ecoton tidak hanya berfokus pada pembersihan, tetapi juga mencakup edukasi, pemantauan sumber pencemar, serta pengumpulan data timbulan sampah di lapangan.

Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat kebijakan pencegahan kebocoran plastik dari hulu hingga hilir sistem sungai perkotaan.

Ecoton menilai pembersihan sungai hanya berfungsi sebagai langkah penahan sementara, bukan solusi utama terhadap persoalan sampah.

Solusi jangka panjang, menurut lembaga tersebut, berada pada pengurangan sampah dari sumber, pemilahan rumah tangga, dan penguatan sistem layanan pengelolaan sampah.

Tanpa perubahan pada perilaku masyarakat, volume sampah di Kali Tebu diperkirakan akan terus berulang meski infrastruktur penahan sudah dipasang.

Dalam pengangkutan sampah tersebut, antara Kecamatan Kenjeran dan Ecoton menyatakan akan terus melakukan pembersihan rutin, serta pengawasan untuk menekan kebocoran sampah ke sungai.

“Semua ini bisa terlaksana dan tertata dengan baik, jika integrasi kebijakan, pengawasan, dan perubahan perilaku warga, menjadi kunci dalam mengurangi sampah plastik dalam keseharinnya, “ tandas Alex.

Program MOZAIK akan terus dievaluasi agar terjadi eefektivitas dalam menekan laju kebocoran sampah ke perairan.

“Karena hal itu merupakan salah satu indikator tekanan lingkungan yang masih tinggi, selama ini di perkotaan. Kawasan pesisir, seperti di Surabaya ini. Maka sangat dibutuhkan intervensi berkelanjutan dari multipihak, “ ungkap Alex.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *