Lewati ke konten

Susuri Kali Porong, Saksikan Limbah Industri dan Data Awal Turunnya Kualitas Air Sungai

| 5 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sebuah pipa berdiameter sekitar 5–6 inci yang mengalirkan limbah ke Kali Porong menjadi temuan paling mencolok saat investigasi lapangan pada 14 Juli 2026.
  • Pengukuran lapangan menunjukkan nilai TDS mencapai 953 ppm dan DO di outlet sebesar 3,3 mg/L, sehingga diperlukan analisis laboratorium lanjutan untuk memastikan kondisi perairan.
  • Kali Porong merupakan salah satu cabang Sungai Brantas sepanjang sekitar 46 kilometer yang dimanfaatkan untuk irigasi, industri, perikanan, dan kebutuhan rumah tangga.
  • Koridor sungai ini dilintasi kawasan industri padat serta menjadi ruang hidup bagi ratusan ribu penduduk di wilayah Sidoarjo dan Pasuruan.
  • Pengalaman mengikuti investigasi bersama Perkumpulan Telapak Indonesia mengubah cara saya memandang sungai, dari sekadar aliran air menjadi ekosistem yang rentan terhadap tekanan aktivitas manusia.

Penulis : Marysca Andra Prima Aji merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON) selama periode 13 Juli – 21 Agustus 2026.

#Pipa Limbah Ubah Cara Saya Melihat Kali Porong

Selasa, 14 Juli 2026, menjadi hari yang sulit saya lupakan. Pagi itu saya mengikuti tim investigasi susur sungai yang dibentuk Perkumpulan Telapak Indonesia untuk melakukan pengamatan dan pengambilan sampel air di Kali Porong.

Ketika tiba di lokasi, perhatian saya langsung tertuju pada sebuah pipa berdiameter sekitar 5–6 inci. Dari pipa tersebut mengalir cairan berwarna kecokelatan dengan debit yang cukup besar menuju badan sungai.

Saat itu saya belum mengetahui asal aliran limbah tersebut. Saya hanya memperhatikan warna air yang berbeda dengan aliran sungai di sekitarnya serta aroma menyengat yang cukup kuat.

Ketua Perkumpulan Telapak Indonesia, Prigi Arisandi, yang juga pembimbing saya selama magang di Ecoton, menjelaskan bahwa pipa tersebut merupakan saluran pembuangan limbah dari PT Mega Surya Eratama. Penjelasan itu saya melihat juga direkam dalam dokumentasi video yang dibuatnya di lokasi.

Saya segera membuka buku catatan. Informasi itu saya tulis secepat mungkin agar tidak ada detail yang terlewat, sementara pengamatan di sekitar sungai terus kami lakukan.

Pandangan saya kemudian beralih ke bentang Kali Porong. Di titik tersebut, sungai tidak lagi terlihat seperti ruang alami yang menjadi habitat berbagai organisme air. Warna air berubah, aroma limbah terasa kuat, sementara aktivitas industri sekitar 100 meter – begitu dekat dengan badan sungai.

Pengamatan di lokasi menemukan aliran air berbeda di Kali Porong, dilanjutkan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel laboratorium. | Dok Pribadi

#Pengambilan Sampel Ungkap Perbedaan Kondisi Air

Kali Porong merupakan salah satu cabang Sungai Brantas di Jawa Timur. Sungai ini mengalir dari wilayah Mojokerto melewati Sidoarjo hingga bermuara di Selat Madura dengan panjang sekitar 46 kilometer dan luas daerah aliran sungai sekitar 480 kilometer persegi.

Begitu beberapa referensi yang say abaca. Alirannya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari irigasi pertanian, kegiatan industri, perikanan, hingga kebutuhan rumah tangga. Di sepanjang koridor sungai juga berkembang kawasan industri manufaktur dengan berbagai sektor usaha.

Pengalaman mengikuti Studi Independen di Ecoton, membuat saya mulai memahami sungai dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya saya lebih sering mendengar persoalan sampah domestik, tetapi di lapangan saya melihat tekanan dari aktivitas industri juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.

Pada kegiatan tersebut, kami melakukan pengambilan sampel air di sekitar kawasan PT Mega Surya Eratama. Pengambilan dilakukan pada tiga titik, yaitu upstream atau sebelum saluran pembuangan, outlet sebagai titik keluarnya limbah, dan downstream setelah aliran limbah bercampur dengan sungai.

Perbedaan kondisi air langsung teramati. Air di titik upstream tampak relatif lebih jernih dibandingkan air di outlet yang terlihat keruh, keabu-abuan, serta disertai busa di beberapa bagian permukaan.

Hal pertama yang saya rasakan ketika berada di outlet bukanlah warna air, melainkan bau yang sangat menyengat. Aroma itu cukup kuat dalam penciuman.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di sekitar lokasi juga terlihat sejumlah sampah plastik yang terbawa arus sungai. Namun, selama pengamatan saya tidak melihat keberadaan ikan di sekitar titik pengambilan sampel.

Pengalaman di lokasi ini menjadi temuan baru bagi saya. Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini, saya menyadari bahwa kondisi sungai tidak cukup dinilai hanya melalui pengamatan saja. Tetapi memerlukan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Limpasan air berwarna keabu-abuan mengalir menuju Kali Porong saat pengamatan lapangan, menjadi lokasi pengambilan sampel kualitas air. | Foto: Dok.

#Data Lapangan Menjadi Dasar Penelitian Lanjutan

Setelah pengamatan langsung selesai kami lakukan. Tim melanjutkan pengukuran kualitas air menggunakan quality water. Pengukuran ini bertujuan memperoleh data awal mengenai kondisi perairan sebelum dilakukan analisis laboratorium.

Hasil pengukuran menunjukkan nilai Total Dissolved Solids (TDS) berada pada kisaran 304 hingga 953 ppm. Nilai tertinggi ditemukan pada titik outlet atau saluran pembuangan limbah.

Sementara itu, pengukuran Dissolved Oxygen (DO) menunjukkan angka 3,3 mg/L pada titik outlet. Nilai tersebut berada di bawah 4 mg/L sehingga menjadi indikasi awal adanya penurunan kualitas air yang memerlukan kajian lebih lanjut.

Meski demikian, data lapangan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan telah terjadi pencemaran. Penetapan status pencemaran tetap memerlukan analisis laboratorium, pembandingan dengan baku mutu, serta evaluasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, hasil pengukuran tersebut memberikan sinyal bahwa kondisi sungai perlu memperoleh perhatian lebih serius. Penurunan kadar oksigen terlarut berpotensi memengaruhi kehidupan organisme akuatik apabila berlangsung secara terus-menerus.

Kali Porong tidak hanya menjadi jalur aliran air. Sungai ini menopang aktivitas ekonomi, menjadi sumber air bagi masyarakat, serta mendukung keberlangsungan ekosistem di wilayah hilir Sungai Brantas.

Di sepanjang koridor sungai diperkirakan terdapat puluhan hingga ratusan industri dari berbagai sektor yang beroperasi berdampingan dengan kawasan permukiman. Wilayah yang dilalui Kali Porong juga dihuni lebih dari 200 ribu penduduk yang menggantungkan sebagian aktivitasnya pada keberadaan sungai tersebut.

Pengalaman mengikuti investigasi lapangan mengajarkan saya bahwa menjaga sungai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pelaku usaha. Sungai merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sehingga pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, pengawasan yang konsisten, serta penelitian berbasis data menjadi langkah penting untuk memastikan fungsi Kali Porong tetap terjaga bagi generasi yang akan datang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *